Rebalancing FTSE hingga Suku Bunga The Fed Tekan IHSG September
Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 6.300-6.650 pada September, di tengah tekanan kebijakan moneter global dan rebalancing FTSE Russell.

Periskop.id - Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil sepanjang September 2026, dalam kisaran 6.300-6.650. Proyeksi ini muncul usai IHSG menguat 4,64% pada Agustus, namun kini dibayangi sentimen kebijakan moneter global yang hawkish, risiko geopolitik, hingga rebalancing indeks FTSE Russell.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai IHSG masih berpeluang mencatatkan kinerja positif bulan ini. Menurutnya, skenario utama tetap mengarah pada konsolidasi dengan bias pelemahan jangka pendek, meski probabilitas IHSG ditutup positif diperkirakan naik ke kisaran 40-45%, lebih tinggi dari rata-rata historis 33% selama periode 2017-2026.
"Sejarah September berat, tapi bukan alasan untuk panik," tulis KSI Research dalam riset KSI Research Monthly Outlook September 2026, dikutip Selasa (1/9).
Dalam riset tersebut, Kiwoom menjelaskan fenomena ini dikenal sebagai September Effect, yakni kecenderungan pasar saham mencatat kinerja lebih lemah pada September dibandingkan bulan lain, meski pola ini tak selalu berulang tiap tahun. Secara historis, rata-rata return IHSG dalam 10 tahun terakhir pada September tercatat minus 0,94%.
Tekanan terhadap IHSG diperkirakan meningkat pertengahan bulan ini, saat sejumlah bank sentral utama dunia mengambil keputusan suku bunga. Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan bertemu pada 10 September, Federal Reserve (The Fed) pada 15-16 September, dan Bank of Japan (BOJ) pada 17-18 September.
Perubahan ekspektasi kebijakan The Fed jadi salah satu risiko utama. Data CME FedWatch mencatat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 34%, sementara peluang kenaikan pada Desember melonjak ke 74%. Ekspektasi ini muncul di tengah inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi, dengan Core PCE tumbuh 3,3% secara tahunan pada Juli dan PCE headline mencapai 3,7%. Yield US Treasury tenor 10 tahun sudah berada di kisaran 4,6%-4,7%, sedangkan tenor dua tahun di kisaran 4,2%-4,3%, menunjukkan pasar obligasi mulai mengantisipasi arah kebijakan moneter yang lebih ketat.
Tekanan serupa datang dari Eropa dan Jepang. ECB membuka peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September, setelah sebelumnya mempertahankan suku bunga pada Juli. Inflasi inti Tokyo pada Agustus masih bertahan di kisaran 1,8%-1,9% secara tahunan, memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga BOJ. Penguatan yen turut jadi perhatian karena berpotensi mendorong pengurangan posisi yen carry trade, yang bila berlanjut dapat mengetat likuiditas global ke aset berisiko termasuk saham emerging market seperti Indonesia.
Selain kebijakan moneter, perkembangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi wildcard lain bagi pasar. Ketegangan terkait Iran membuat harga minyak tetap volatil di kisaran US$83-US$90 per barel. Bagi Indonesia, harga minyak yang tinggi dan bergejolak menjadi pedang bermata dua karena dapat mendongkrak penerimaan negara dari sektor energi, namun di sisi lain berisiko menambah beban subsidi dan menekan neraca perdagangan bila berlangsung hingga akhir tahun.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif solid, dengan pertumbuhan 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026. Kiwoom mencatat sejumlah tantangan dari sisi konsumsi dan neraca perdagangan. Penjualan ritel Juni 2026 terkontraksi 3% secara tahunan, sementara impor melonjak 34,27% jauh melampaui pertumbuhan ekspor 8,84%, sehingga neraca perdagangan Juni berbalik defisit US$0,45 miliar. Kombinasi ini mengindikasikan pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang belanja modal ketimbang konsumsi rumah tangga secara luas.
Pasar saham domestik juga menghadapi risiko teknikal dari rebalancing FTSE Russell. Dalam tinjauan semi-tahunan September, sebanyak 29 saham Indonesia dikeluarkan sepenuhnya dari indeks FTSE Global Equity, sedangkan 10 saham lainnya mengalami penurunan klasifikasi. Hasil tinjauan ini final setelah penutupan 4 September dan berlaku efektif mulai penutupan 18 September atau perdagangan 21 September, yang berpotensi memicu tekanan jual pasif dari dana yang mengikuti indeks.
Di tengah tekanan tersebut, masih ada katalis positif yang menopang IHSG. Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan masih membuka ruang pelonggaran apabila pergerakan rupiah mendukung. Harga CPO Malaysia turut menopang dengan tren naik di kisaran 4.677-4.847 ringgit Malaysia per ton, sementara potensi El Nino berkembang jadi episode "super" pada akhir tahun dinilai bisa memberi dukungan tambahan bagi harga CPO dan kinerja emiten perkebunan menjelang musim laporan keuangan kuartal III-2026.
Kiwoom tetap mempertahankan target IHSG akhir 2026 di kisaran 7.250-7.700, dengan catatan uji re-rating terus menunjukkan perkembangan menjelang review MSCI pada November 2026. Pola historis menunjukkan penguatan IHSG pada Agustus yang berlanjut pelemahan pada September terjadi dalam enam dari sembilan tahun terakhir, namun periode pelemahan itu secara historis justru membuka peluang akumulasi menjelang reli Oktober-Desember.
Kiwoom menilai volatilitas September berpotensi jadi kesempatan bagi investor berhorizon menengah hingga panjang untuk melakukan re-entry pada saham berfundamental kuat, bukan semata sinyal untuk keluar dari pasar.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kiwoom Sekuritas, Prediksi IHSG, Federal Reserve (The Fed), dan rebalancing dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.