1.378 Sekolah Terdampak Gempa NTT, Kemendikdasmen Kirim 100 Tenda
Gempa NTT berdampak pada 1.378 satuan pendidikan dan 177.678 murid. Kemendikdasmen mendistribusikan 100 tenda kelas darurat

Periskop.id - Gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten dengan 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan terdampak. Untuk menjaga kegiatan belajar tetap berjalan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendistribusikan 100 tenda yang akan difungsikan sebagai ruang kelas darurat.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan, tenda tersebut ditargetkan sudah dapat digunakan untuk kegiatan belajar mulai pekan depan. “Saat ini, kami sedang mendistribusikan 100 tenda ruang kelas yang diharapkan bisa mulai digunakan minggu depan untuk belajar anak,” kata Atip dalam konferensi pers daring yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (20/8).
Dalam rincian sementara yang disampaikan Kemendikdasmen, sebanyak 923 satuan pendidikan menjalankan pembelajaran dari rumah. Kemudian, 171 satuan pendidikan menggunakan pola pembelajaran lainnya, 35 sekolah telah menggunakan kelas darurat, sedangkan 30 sekolah masih dapat menjalankan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
Jumlah sekolah terdampak terus bertambah seiring proses pendataan di lapangan. Sehari sebelumnya, berdasarkan data Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 19 Agustus 2026, Kemendikdasmen masih mencatat 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak, melibatkan 94.452 murid serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan. Sebanyak 52.268 murid dari 276 satuan pendidikan saat itu terpaksa mengikuti pembelajaran dari rumah atau lokasi pengungsian.
Dukungan Fasilitas Belajar Sementara
Kemendikdasmen sebelumnya pada 16 Agustus juga baru menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat. Saat itu, pendataan awal mencatat 253 satuan pendidikan terdampak di Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.
Dengan pembaruan menjadi 100 tenda, pemerintah memperbesar dukungan fasilitas belajar sementara seiring meluasnya hasil asesmen terhadap dampak bencana.
Selain tenda kelas, Kemendikdasmen menyiapkan 5.000 school kit, 1.500 family kit, 3.196 papan tulis, dan 123.522 buku untuk menunjang pembelajaran selama masa darurat.
Pendampingan psikososial juga dilakukan bagi warga sekolah terdampak dengan menggandeng organisasi profesi psikologi dan perguruan tinggi. Dukungan tersebut dinilai penting karena pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan bangunan sekolah, tetapi juga kondisi psikologis murid, guru, dan tenaga kependidikan.
Kemendikdasmen turut menerbitkan panduan pembelajaran masa darurat yang memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk menentukan metode belajar sesuai situasi masing-masing. Pembelajaran dapat difokuskan pada materi esensial, literasi dan numerasi dasar, keselamatan, serta dukungan psikososial.
Dalam panduan sebelumnya, Kemendikdasmen juga menegaskan proses belajar tidak harus berjalan dengan pola yang sama seperti kondisi normal. Sekolah dapat menggunakan pembelajaran tatap muka terbatas, pembelajaran mandiri, maupun metode lain dengan mempertimbangkan kondisi bangunan, ketersediaan fasilitas, serta keselamatan warga sekolah.
Pemulihan sektor pendidikan menjadi perhatian Komisi X DPR RI. Sehari sebelumnya, Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah terus memutakhirkan dan mengklasifikasikan kerusakan sekolah menjadi kategori ringan, sedang, dan berat sehingga rehabilitasi dapat dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan.
Ribuan Gempa Susulan Masih Terjadi
Gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. BMKG menyebut gempa dangkal tersebut berkaitan dengan aktivitas tektonik di Flores Back-Arc. Aktivitas gempa susulan hingga kini masih berlangsung.
Pada Kamis (20/8) pagi, Flores kembali diguncang gempa dengan parameter pembaruan magnitudo 5,8 pada kedalaman 10 kilometer. BMKG mencatat hingga pukul 06.00 WIB telah terjadi 3.422 gempa susulan sejak gempa utama, dengan magnitudo terbesar 6,2.
Sementara itu, data BNPB per Rabu (19/8) pukul 16.00 WIB mencatat korban meninggal akibat gempa mencapai 71 orang. Sebanyak 59.647 warga juga masih mengungsi, dengan konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 20.333 orang.
Kemendikdasmen menyatakan pendataan kondisi sekolah dan kebutuhan pendidikan akan terus diperbarui melalui dashboard serta pos pendidikan di setiap kabupaten terdampak. Pemerintah juga mengharapkan keterlibatan pemerintah daerah, mitra pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai pihak lain untuk mempercepat pemulihan layanan pendidikan di NTT.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Atip Latipulhayat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sekolah darurat, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.