Survei: 91% Perusahaan China Bidik ASEAN, Empat Negara Jadi Pasar Favorit
Survei HKTDC mencatat 91% perusahaan China berencana ekspansi ke ASEAN. Singapura, Vietnam, Thailand dan Malaysia menjadi pasar yang paling banyak dibidik

Periskop.id - ASEAN semakin menjadi tujuan utama ekspansi perusahaan China di tengah perubahan rantai pasok dan persaingan perdagangan global. Survei terbaru Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) menunjukkan 91% perusahaan China daratan berencana mengembangkan bisnis di negara-negara ASEAN, dengan Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia menjadi pasar yang paling banyak dibidik.
Survei tersebut melibatkan lebih dari 2.000 perusahaan China daratan dari berbagai sektor manufaktur dan jasa. Pengumpulan data dilakukan pada Januari-Februari 2026 untuk melihat strategi perusahaan ketika memperluas operasi ke luar negeri.
Hasilnya menunjukkan, ASEAN bukan sekadar tujuan penjualan, tetapi semakin dilihat sebagai basis untuk diversifikasi rantai pasok, investasi, produksi, hingga pengembangan bisnis baru.
Director of HKTDC Research Bruce Pang mengatakan, posisi kawasan Asia Tenggara semakin penting bagi perusahaan China yang ingin memperluas bisnis internasional.
“ASEAN telah menjadi destinasi prioritas bagi perusahaan-perusahaan China Daratan yang mengejar pertumbuhan internasional,” kata Bruce Pang.
HKTDC mencatat Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia masing-masing dipilih oleh lebih dari 40% responden sebagai pasar potensial. Malaysia secara khusus dinilai menarik untuk sektor bernilai tambah tinggi seperti semikonduktor, kecerdasan buatan atau AI, serta industri berbasis inovasi.
94% Perusahaan Juga Bidik Negara Belt and Road
Minat terhadap ASEAN menjadi bagian dari strategi ekspansi global yang lebih luas. HKTDC menemukan 94% perusahaan yang disurvei berniat memperluas bisnis ke negara-negara yang menjadi mitra pembangunan Belt and Road Initiative (BRI). Dari kelompok pasar tersebut, ASEAN muncul sebagai salah satu tujuan paling dominan dengan tingkat minat mencapai 91%.
Kecenderungan ini menunjukkan perusahaan China semakin mencari pasar di luar wilayah tradisionalnya. Selain memburu konsumen baru, ekspansi juga digunakan untuk mendiversifikasi produksi dan rantai pasok sehingga perusahaan tidak terlalu bergantung pada satu kawasan.
Studi HKTDC bersama UOB Hong Kong pada awal 2026 juga menunjukkan kecenderungan serupa di perusahaan yang berbasis di Guangdong-Hong Kong-Macao Greater Bay Area. Sebanyak 73% perusahaan dalam studi tersebut mempercepat rencana pengembangan bisnis di ASEAN, sementara 91% berniat mempertahankan atau memperbesar basis produksi dan pengadaan barang mereka di kawasan ini.
Singapura, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia dalam studi tersebut masuk kelompok destinasi utama perusahaan Greater Bay Area untuk tiga tahun mendatang.
Perdagangan China-ASEAN Tembus 4,34 Triliun Yuan
Besarnya minat ekspansi perusahaan China juga tercermin dari hubungan perdagangan yang semakin dalam.
Data Administrasi Umum Bea Cukai China menunjukkan nilai perdagangan China dengan ASEAN mencapai 4,34 triliun yuan pada semester I 2026, meningkat 18,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. ASEAN tetap menjadi mitra dagang terbesar China.
Pada kuartal I 2026 saja, perdagangan kedua pihak mencapai 1,97 triliun yuan atau tumbuh 15,4%. Nilainya setara sekitar 16,6% dari keseluruhan perdagangan luar negeri China pada periode tersebut.
Hubungan perdagangan kedua kawasan bahkan telah menembus level baru pada tahun sebelumnya. Data Bea Cukai China mencatat perdagangan China-ASEAN sepanjang 2025 mencapai sekitar US$1,05 triliun, naik 7,4% secara tahunan. Ekspor China ke ASEAN tercatat sekitar US$665,22 miliar, sementara impornya mencapai US$389,43 miliar.
China dan ASEAN juga telah menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut.
Data tersebut memberikan konteks bahwa rencana ekspansi dalam survei HKTDC bukan hanya sebatas minat. Arus perdagangan dan keterhubungan rantai produksi antara China dan Asia Tenggara memang telah berkembang dalam skala besar.
Hong Kong Dipilih Jadi Pintu Ekspansi
Survei HKTDC juga menyoroti peran Hong Kong dalam membantu perusahaan China menembus pasar asing.
Sebanyak 83% perusahaan yang disurvei menyatakan akan menggunakan layanan profesional Hong Kong untuk mendukung ekspansi global mereka, meningkat dibandingkan survei serupa pada 2023 yang mencatat angka 62%.
Keunggulan yang dinilai dibutuhkan perusahaan meliputi layanan keuangan dan pembiayaan, kepatuhan hukum, akuntansi, pemasaran, pengelolaan rantai pasok hingga tenaga profesional yang memahami transaksi lintas negara. HKTDC melihat Hong Kong dapat berfungsi sebagai penghubung antara perusahaan China daratan dengan pasar ASEAN maupun kawasan lain.
Peran tersebut menjadi semakin relevan ketika perusahaan memasuki negara baru karena persoalan ekspansi tidak hanya berkaitan dengan modal. Perusahaan juga harus memahami regulasi investasi, perpajakan, hukum lokal, pembiayaan, karakter konsumen hingga struktur rantai pasok di masing-masing negara.
ASEAN Makin Strategis di Tengah Pergeseran Rantai Pasok
Meningkatnya ketertarikan perusahaan China terhadap ASEAN juga berlangsung ketika kawasan ini semakin terintegrasi dengan rantai produksi Asia.
Pada semester I 2026, nilai perdagangan produk antara atau intermediate goods antara China dan ASEAN mencapai sekitar 2,86 triliun yuan, tumbuh 24,5% secara tahunan dan mengambil porsi sekitar dua pertiga dari keseluruhan perdagangan kedua pihak. Data ini menunjukkan hubungan ekonomi China-ASEAN tidak hanya berupa perdagangan barang jadi, tetapi juga saling terhubung dalam proses produksi.
Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa negara seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia menarik bagi perusahaan China. Ketiganya telah memiliki basis manufaktur, jaringan pemasok dan akses perdagangan internasional yang relatif kuat. Singapura, sementara itu, menawarkan posisi sebagai pusat keuangan dan kantor regional.
Malaysia juga semakin mendapat perhatian untuk sektor teknologi. HKTDC menyebut negara tersebut menjadi salah satu target perusahaan yang bergerak di bidang semikonduktor, AI dan sektor inovasi bernilai tambah tinggi.
Bagi negara-negara ASEAN, meningkatnya minat perusahaan China membuka peluang masuknya investasi, lapangan kerja dan integrasi industri. Namun, kompetisi antarnegara ASEAN untuk memperoleh investasi tersebut juga berpotensi semakin ketat.
Indonesia dalam konteks ini menghadapi tantangan untuk memastikan besarnya pasar domestik dapat diterjemahkan menjadi daya tarik investasi yang disertai pembangunan basis produksi, keterlibatan industri lokal serta transfer teknologi. Studi HKTDC-UOB sebelumnya telah menempatkan Indonesia bersama Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia sebagai tujuan utama ekspansi perusahaan Greater Bay Area dalam tiga tahun ke depan.
Dengan 91% perusahaan China daratan dalam survei terbaru membidik ASEAN, kawasan Asia Tenggara semakin terlihat bukan hanya sebagai pasar tujuan ekspor. ASEAN berkembang menjadi bagian dari strategi global perusahaan China untuk mencari konsumen baru, menyebarkan risiko, membangun basis produksi dan memperkuat rantai pasok internasional.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Ekspor China, dan ASEAN dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.