Perdagangan

Baru 267 UMKM Siap Ekspor dari Basis Data 100 Ribu Pelaku Usaha di Smesco

Smesco mengidentifikasi 267 UMKM siap ekspor dari sekitar 100 ribu data pelaku usaha. Pemerintah menyiapkan pendampingan pemasaran, pembiayaan, dan perizinan

16 jam yang lalu · 5 mnt baca
UMKM, Kain, Songket, Tenun, Karya Kreatif Indonesia
Pengrajin menunjukkan produk-produk kerajinan saat Pameran Karya Kreatif Indonesia 2026 di JICC, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Smesco) mengidentifikasi 267 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dinilai siap memasuki pasar ekspor dari sekitar 100 ribu data pelaku usaha yang dimilikinya.

Temuan tersebut menunjukkan potensi ekspor UMKM Indonesia masih memiliki ruang pengembangan yang besar. Smesco kini memperkuat pemetaan untuk mengetahui kesiapan usaha, kebutuhan pendampingan hingga peluang produk Indonesia menembus pasar internasional secara berkelanjutan.

Direktur Utama Smesco Doddy Akhmadsyah Matondang mengatakan pemetaan tidak berhenti pada identifikasi UMKM yang telah siap ekspor. Smesco juga aktif menghubungi pelaku usaha untuk mengetahui kendala dan potensi pengembangan masing-masing.

“Melalui kegiatan seperti Kopdar Ekspor ini, kami berharap jumlah tersebut terus bertambah, baik dari sisi jumlah maupun variasi produk," ujar Doddy dalam kegiatan Kopdar Ekspor di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Smesco mencatat sebanyak 1.083 UMKM telah dihubungi secara langsung. Dari jumlah tersebut, 551 pelaku usaha teridentifikasi memiliki potensi untuk dikembangkan, termasuk mendapatkan pendampingan agar mampu masuk ke pasar ekspor.

Pemasaran hingga Perizinan Jadi Tantangan UMKM

Menurut Doddy, kemampuan menghasilkan produk saja belum cukup untuk membawa UMKM masuk ke pasar global. Pelaku usaha masih menghadapi berbagai hambatan, terutama terkait akses pemasaran, pembiayaan, dan perizinan.

Kondisi tersebut membuat pendampingan menuju ekspor harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari memperbaiki fundamental bisnis dan kapasitas produksi hingga mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari luar negeri.

"Kami berkomitmen menyediakan end-to-end services bagi UMKM, mulai dari akses pemasaran, pembiayaan hingga perizinan, sehingga semakin banyak UMKM Indonesia yang siap dan mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan," katanya.

Smesco juga mulai memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kesiapan produk di pasar internasional. Pada Mei 2026, Smesco bersama INA Trading menerapkan teknologi RFID berbasis blockchain untuk produk UMKM yang akan memasuki pasar Eropa, khususnya Portugal dan Belanda.

Teknologi tersebut digunakan untuk memberikan identitas digital serta keterlacakan produk. Dalam program itu, Smesco dan INA Trading menargetkan nilai ekspor produk UMKM mencapai Rp1,5 miliar sepanjang 2026.

Maman: Jangan Ekspor Sekali lalu Berhenti

Menteri UMKM Maman Abdurrahman menilai ekspor memang menjadi salah satu jalan bagi UMKM memperbesar skala bisnis. Namun, ekspansi internasional sebaiknya dilakukan setelah fundamental usaha dan posisi produk di pasar domestik cukup kuat.

Pasar dalam negeri dapat menjadi tempat pelaku usaha menguji konsistensi kualitas, meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki pengelolaan bisnis hingga memahami kebutuhan konsumen sebelum menghadapi tuntutan pasar internasional.

"Boleh kita support teman-teman untuk ekspor, 100 persen kita dukung. Tetapi pastikan kualitas produk mereka di domestik juga sudah kuat. Jangan sampai kita ekspor satu kali, setelah itu tidak berlanjut," ujar Maman dalam kegiatan yang sama.

Pendekatan tersebut diarahkan agar keberhasilan ekspor tidak hanya diukur dari satu kali pengiriman barang. UMKM diharapkan mampu mempertahankan kualitas, volume produksi dan kontinuitas pasokan sehingga dapat membangun hubungan jangka panjang dengan pembeli internasional.

Maman sebelumnya juga memperkuat sistem pelayanan pemerintah kepada pelaku usaha melalui SAPA UMKM agar pendampingan dapat diakses dari berbagai daerah tanpa harus datang langsung ke Jakarta.

“SAPA UMKM kami hadirkan supaya pengusaha UMKM di seluruh Indonesia tidak harus datang ke Jakarta untuk mendapatkan akses layanan pemerintah. Pemerintah harus hadir dalam setiap proses tumbuh dan berkembangnya usaha mereka,” kata Maman.

Kontribusi UMKM terhadap Ekspor Masih 15,7%

Besarnya jumlah UMKM di Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam kontribusinya terhadap perdagangan internasional. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97% tenaga kerja. Jumlah unit usaha UMKM di Indonesia mencapai lebih dari 64 juta.

Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih berada di kisaran 15,7%. Angka tersebut menunjukkan terdapat ruang besar untuk meningkatkan keterlibatan usaha mikro dan kecil dalam rantai perdagangan global.

Sebagai perbandingan regional, pemerintah sebelumnya mencatat kontribusi UMKM terhadap ekspor di Singapura mencapai sekitar 41%, sedangkan Thailand 29%. Pemerintah karena itu terus mendorong UMKM Indonesia naik kelas dan terhubung dengan rantai pasok global.

Peluang tersebut semakin relevan ketika kinerja ekspor nasional masih bertumbuh. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar atau meningkat 4,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar atau tumbuh 5,21%. Khusus Juli 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$26,22 miliar, naik 6,05% secara tahunan.

Program UMKM BISA Ekspor Catat Potensi Transaksi US$251 Juta

Peluang UMKM masuk pasar global juga terlihat dari program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor atau UMKM BISA Ekspor yang dijalankan Kementerian Perdagangan.

Sepanjang Januari-Juni 2026, program tersebut telah menggelar 424 pitching dan business matching yang melibatkan 1.148 pelaku usaha. Potensi transaksi yang dihasilkan mencapai US$251,34 juta atau sekitar Rp4 triliun lebih, bergantung pada kurs yang digunakan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut sekitar 60-70% UMKM yang mendapat fasilitasi melalui program tersebut merupakan pelaku usaha yang sebelumnya belum pernah melakukan ekspor. Pendampingan dilakukan dengan dukungan jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara.

Capaian tersebut menunjukkan akses pasar, business matching dan pendampingan menjadi faktor penting untuk mengubah UMKM potensial menjadi eksportir. Bagi Smesco, pekerjaan berikutnya adalah memperbesar jumlah UMKM yang benar-benar siap memenuhi standar pasar internasional dari basis data yang telah dimiliki. 

Persoalannya bukan semata menemukan produk yang menarik, melainkan memastikan pelaku usaha memiliki perizinan, akses pembiayaan, kapasitas produksi, konsistensi mutu, strategi pemasaran hingga kemampuan memenuhi pesanan secara berkelanjutan.

Dengan 267 UMKM yang kini telah teridentifikasi siap ekspor dan 551 lainnya dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan, pendampingan tersebut menjadi kunci agar semakin banyak produk UMKM Indonesia tidak hanya berhasil masuk pasar global, tetapi juga mampu bertahan di dalamnya.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Maman Abdurrahman, Kementerian UMKM, dan ekspor dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.