iklan periskop
Peristiwa

50 KK di Selayar Masih Bertahan di Perbukitan

Sekitar 50 KK di Kecamatan Pasimarannu, Selayar, masih bertahan di pengungsian perbukitan akibat trauma gempa Flores 2021, meski gempa M7,0 terbaru sudah mereda.

1 jam yang lalu · 2 mnt baca
50 KK di Selayar Masih Bertahan di Perbukitan
BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar bersama Kodim dan Polres Selayar terus melakukan pemantauan perkembangan situasi pasca gempa bumi Magnitudo 7,7, Sabtu (15/8). Dok. Pemkab Kepulauan Selayar
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Sekitar 50 Kepala Keluarga di Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, memilih bertahan di pengungsian perbukitan usai gempa Flores berkekuatan M7,0 mengguncang wilayah tersebut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Selayar mencatat trauma warga terhadap gempa besar 2021 jadi pemicu utama keengganan mereka pulang ke rumah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar Muhammad Ikbal menguraikan, keputusan warga untuk tetap di pengungsian sangat dipengaruhi pengalaman buruk saat gempa magnitudo 7,4 melanda pada 14 Desember 2021. Gempa yang berpusat di Flores itu, menurutnya, sempat merusak parah permukiman di Pasilambena dan Pasimarannu hingga sejumlah rumah roboh rata dengan tanah.

"Mereka masih trauma dengan kejadian serupa pada 2021 sehingga 50-an KK di Kecamatan Pasimarannu masih memilih tinggal di lokasi perbukitan," ujar Ikbal saat dikonfirmasi dari Makassar, Minggu (17/8).

Saat gempa M7,0 kembali terjadi, warga di dua kecamatan tersebut secara mandiri menyelamatkan diri ke kawasan perbukitan tanpa menunggu arahan petugas. Data BPBD mencatat sekitar 278 KK mengungsi di Kecamatan Pasimarannu, sementara di Pasilambena tercatat sekitar 130 KK.

Warga di Pasilambena kini sudah berangsur kembali ke rumah masing-masing. Kondisi berbeda terjadi di Pasimarannu, tempat sekitar 20% dari total pengungsi atau kurang lebih 50 KK masih bertahan di perbukitan.

Ikbal menambahkan, sebagian warga sebenarnya sudah kembali ke rumah pada siang hari untuk beraktivitas seperti biasa. Namun begitu sore menjelang, mereka kembali naik ke lokasi pengungsian yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari permukiman demi menghindari risiko gempa susulan pada malam hari.

Medan yang sulit turut jadi tantangan penyaluran bantuan. BPBD Selayar harus menempuh jalur laut selama kurang lebih 12 jam untuk mengakses wilayah terdampak.

Karena keterbatasan akses tersebut, kebutuhan pengungsi saat ini masih dipenuhi secara mandiri oleh warga setempat.

Gempa M7,0 itu juga meninggalkan jejak kerusakan pada bangunan di Selayar. Berdasarkan catatan BPBD, terdapat 13 rumah yang rusak, terdiri atas sembilan rumah rusak ringan dan empat rumah rusak sedang.

Di Kecamatan Pasilambena, beberapa rumah warga sempat terdampak hempasan air laut yang masuk ke permukiman sesaat setelah gempa terjadi. Sejumlah perahu nelayan juga dilaporkan rusak atau terseret hingga ke daratan.

Kendati menimbulkan kerusakan material, BPBD memastikan tidak ada laporan rumah yang ambruk total maupun korban luka dan jiwa di Kabupaten Kepulauan Selayar akibat gempa tersebut.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.