iklan periskop
Nasional

BPBD: Sedikitnya 28.222 Jiwa Terdampak Kekeringan di Banyumas

BPBD Banyumas mencatat puluhan ribu warga di 37 desa kesulitan air akibat kemarau, sementara distribusi air bersih terus dikirim ke wilayah terdampak.

4 jam yang lalu · 2 mnt baca
El nino
Ilustrasi kekeringan akibat EL Nino. AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mencatat sebanyak 28.222 jiwa dari 8.371 keluarga terdampak kekeringan. Bencana ini melanda 37 desa/kelurahan yang tersebar di 14 kecamatan se-Banyumas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas Dwi Irawan Sukma menyampaikan, pihaknya terus mengupayakan pengiriman air bersih ke wilayah yang membutuhkan. Menurutnya, langkah ini menjadi respons utama menghadapi krisis air akibat musim kemarau.

"Untuk penanganan kekeringan, kami terus melakukan distribusi air bersih ke wilayah yang terdampak dan membutuhkan," kata Dwi Irawan Sukma di Purwokerto, Senin (10/8).

Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Banyumas, per 10 Agustus 2026 BPBD sudah menjalankan 233 ritase pengiriman air bersih. Total volume air yang disalurkan mencapai 1.135.000 liter.

Distribusi tersebut, menurut Dwi, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang kesulitan mengakses air akibat menyusutnya sumber air selama musim kemarau. Selain berdampak ke masyarakat, kekeringan juga tercatat mempengaruhi tujuh fasilitas umum di Kabupaten Banyumas.

BPBD bersama pemerintah desa dan kelurahan disebut terus memantau kondisi di wilayah terdampak agar pasokan air bersih bagi warga tetap terjaga.

"Penyaluran air bersih akan terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi di lapangan," ujar Dwi.

Di luar persoalan kekeringan, BPBD Banyumas juga mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total area terdampak mencapai 12,043 hektare. Karhutla tersebut tersebar di Kelurahan Grendeng (Kecamatan Purwokerto Utara), Desa Pamijen (Kecamatan Sokaraja), Desa Karangtalun Kidul (Kecamatan Purwojati), dan Kelurahan Teluk (Kecamatan Purwokerto Selatan).

Kejadian serupa juga terjadi di Desa Sawangan (Kecamatan Ajibarang), Desa Gunungwetan dan Desa Pekuncen (Kecamatan Jatilawang), serta Kelurahan Purwokerto Kulon (Kecamatan Purwokerto Selatan). Sebaran lokasi ini menunjukkan risiko karhutla ikut meningkat bersamaan dengan krisis air bersih selama musim kemarau.

"Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau, termasuk tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas," kata Dwi Irawan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Musim Kemarau 2026, dan kekeringan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.