iklan periskop
Persona

Merdeka dari Standar Cantik Harus Putih, Saatnya Bangga Punya Kulit Indonesia

Merdeka dari standar cantik harus putih. Saatnya perempuan Indonesia bangga dengan kulit sawo matang dan warna kulit alaminya.

5 jam yang lalu · 4 mnt baca
Cantik Itu Privilege! 96% Perempuan Indonesia Akui Masih Ada Keuntungan Sosial
Dua perempua Indonesia, Eva Celia (kiri) dan Tara Basro (kanan). Foto/Dokumentasi: Instagram/tarabasro.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Momen perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus selalu identik dengan semangat kebebasan dan perjuangan lepas dari bayang-bayang penjajahan. 

Namun, jika kita merefleksikan diri lebih dalam, apakah kita sebagai perempuan Indonesia benar-benar sudah merdeka sepenuhnya? Termasuk merdeka dalam menentukan arti kecantikan bagi diri kita sendiri?

Di negara tropis yang indah ini, kulit sawo matang adalah anugerah yang sangat alami. Anehnya, kalimat seperti, "Kulit kamu eksotis banget, bule pasti suka," masih saja sering kita dengar dalam obrolan sehari-hari. 

Sekilas mungkin terdengar seperti pujian manis, tapi kalau dicermati lagi, ujaran itu sebenarnya menyimpan bias halus yang seolah menempatkan standar cantik harus selalu berkaca pada pandangan orang asing.

Peninggalan Kolonial dan Bayang-Bayang Standar Cantik Barat

Laporan ZAP Beauty Index 2024 menunjukkan fakta bahwa mayoritas perempuan Indonesia ternyata masih menganggap kulit putih sebagai tolok ukur utama kecantikan. Hal ini makin diperkuat oleh maraknya iklan dan produk pemutih yang terus menjanjikan rasa percaya diri serta kesuksesan.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Joanne Rondilla dari University of California, Berkeley, menjelaskan bahwa perempuan di Filipina juga mengalami tekanan yang sama. Mereka merasa kulit yang lebih terang terlihat lebih menarik, sebuah tekanan sosial yang lahir dari warisan budaya kolonial. 

Laporan dari Harvard International Studies menyebut kondisi ini sebagai occidentalisation of beauty, yaitu kecenderungan masyarakat untuk meniru standar kecantikan Barat.

Industri produk pencerah kulit pun tumbuh sangat fantastis. Data dari Global Industry Analysts mencatat nilai pasarnya mencapai lebih dari US$8 miliar per tahun, di mana produk-produk ini paling laris manis di negara-negara bekas jajahan seperti India, Nigeria, Filipina, dan Indonesia.

Di Indonesia sendiri, ungkapan tan skin idaman bule memperlihatkan fenomena colorism, yaitu perlakuan berbeda terhadap seseorang berdasarkan warna kulit yang biasanya lebih menguntungkan mereka yang berkulit terang. 

Menurut Rondilla, masalah warna kulit bukan cuma urusan penampilan luar, melainkan berkaitan erat dengan sejarah kekuasaan, budaya, dan identitas diri.

Mengapa Kulit Tropis Kita Cenderung Sawo Matang?

Secara ilmiah, warna kulit manusia sangat dipengaruhi oleh jumlah melanin, yaitu pigmen alami yang bertugas melindungi tubuh dari paparan sinar ultraviolet (UV). Karena kita tinggal di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun, tubuh kita secara cerdas memproduksi lebih banyak melanin sebagai perlindungan alami.

Artikel Skin: The Science of Melanin dari National Geographic mengungkapkan bahwa kulit sawo matang merupakan hasil adaptasi evolusioner yang luar biasa. Melanin bekerja menyerap sekaligus menghambat dampak buruk sinar UV yang berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan dan kanker kulit. 

Sebaliknya, orang-orang di Eropa Utara memiliki kulit lebih terang agar bisa menyerap cukup vitamin D di daerah dengan sinar matahari rendah. Jadi, kulit sawo matang kita sebenarnya adalah bentuk perlindungan terbaik yang diberikan alam!

Hasrat untuk Diterima dan Tekanan Media Sosial

Sebagai manusia, kita naturally punya kebutuhan sosial untuk diterima, dihargai, dan diakui cantik oleh lingkungan sekitar. Saat merasa menarik, kita cenderung lebih percaya diri dalam menjalani keseharian.

Sayangnya, ketika media global dan iklan terus menyorot wajah berkulit terang sebagai simbol kesuksesan dan kecantikan ideal, kita yang berkulit sawo matang sering kali merasa kurang. 

Padahal, kita tidak kurang sama sekali. Standar yang beredar sajalah yang belum memberikan ruang yang adil bagi keberagaman warna kulit. Kulit sawo matang akhirnya berada di posisi yang unik, yakni dipuji eksotis oleh orang luar, namun kerap kurang diapresiasi di rumah sendiri.

Merdekakan Diri Lewat Self Love dan Self Acceptance

Di tengah gempuran standar kecantikan yang begitu sempit, mencintai dan menerima diri sendiri secara utuh (self love dan self acceptance) adalah bentuk perjuangan yang sangat berharga. 

Self love berarti menyayangi diri kita tanpa syarat, menghargai dari mana kita berasal, dan bangga pada setiap keunikan yang kita miliki. Sementara self acceptance adalah keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri dan melepaskan keinginan untuk terus memenuhi ekspektasi orang lain.

Menyambut semangat 17 Agustus ini, yuk kita gaungkan kemerdekaan versi kita sendiri! Saat kita mulai mencintai dan bangga dengan warna kulit sawo matang kita, kita sedang membebaskan diri dari belenggu standar cantik yang tidak mewakili perempuan Indonesia. 

Menerima warna kulit asli kita adalah bentuk keberanian paling indah untuk berkata bahwa kita sudah sangat cantik dan cukup, persis seperti diri kita apa adanya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Perempuan Indonesia dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.