periskop.id - Standar kecantikan Indonesia bukan cuma soal tren, tapi hasil dari perjalanan sejarah, budaya, hingga pengaruh media yang panjang. Dari cerita-cerita kuno sampai era kolonial, dari iklan TV 90-an sampai demam Korea, masyarakat Indonesia terus dibentuk untuk mengidolakan kulit putih, tubuh ramping, dan wajah sempurna ala Barat atau Korea.
Akibatnya, banyak perempuan tumbuh dengan perasaan bahwa mereka harus terlihat seperti standar yang ditentukan orang lain, bukan menerima kecantikan mereka apa adanya.
Apa Itu Standar Kecantikan?
Kalau ngomongin soal cantik, pikiran kita biasanya langsung ke hal-hal yang serba sempurna, seperti wajah simetris, badan ramping, kaki jenjang, kulit putih ala artis Korea, sampai hidung mancung. Pokoknya, semua hal yang berhubungan dengan penampilan fisik.
Menurut KBBI, standar itu artinya ‘ukuran’ atau ‘patokan tertentu’ dan kecantikan berarti ‘keelokan’ atau ‘kemolekan’ seseorang. Jadi kalau digabung, standar kecantikan bisa dibilang sebagai “patokan” yang dipakai masyarakat untuk menilai seseorang itu cantik atau nggak.
Setiap daerah dan negara punya standar cantiknya masing-masing dan itu bisa berubah seiring waktu. Apalagi sekarang, ketika media dan tren kecantikan datang dari segala arah, standar cantik pun ikut bergerak mengikuti zaman.
Sebagian besar perempuan Indonesia sebenarnya punya kulit sawo matang secara alami. Sayangnya, pasar kecantikan justru dipenuhi produk pemutih dan pencerah yang sifatnya agresif. Lama-lama, ini seperti memberi pesan halus bahwa warna kulit asli kita kurang bagus atau kurang berharga. Hal ini semacam menolak identitas tropis dan etnis kita sendiri. Padahal, justru itulah yang bikin kita unik dan cantik dengan cara kita.
Dari Mana Standar Kecantikan Indonesia Berasal?
Standar kecantikan di Indonesia nggak muncul tiba-tiba. Ia terbentuk dari banyak hal yang tumpang tindih, yaitu sejarah, budaya, tren global, sampai pengaruh media yang tiap hari kita lihat. Semua itu akhirnya menyatu dan jadi patokan yang sering kita anggap wajar.
1. Pengaruh Budaya dan Kebiasaan dari Zaman Dulu
Standar kecantikan di Indonesia sudah terbentuk sejak lama. Di masa Jawa Kuno, kecantikan digambarkan lewat tokoh Sita dalam Ramayana yang cantik, baik hati, dan berkulit cerah seperti rembulan. Sementara itu, kulit gelap sering diberi makna negatif dalam berbagai kisah.
Saat era kolonial datang, standar ini makin berubah. Iklan-iklan penuh wajah perempuan Eropa dengan kulit putih, hidung mancung, dan rambut pirang membuat kecantikan jadi sangat Eropa sentris. Kulit putih dianggap lebih bersih dan berkelas, sedangkan kulit gelap dipandang rendah karena dipakai untuk membedakan status antara penjajah dan pribumi.
Saat Jepang berkuasa, mereka mencoba mengganti standar kecantikan Eropa dengan versi Jepang lewat berbagai majalah. Namun, usaha ini gagal karena masyarakat masih terpaku pada kecantikan ala Barat yang terus muncul di iklan. Bahkan setelah merdeka, Indonesia tetap mengidolakan kulit putih dan wajah Barat.
Di era reformasi sampai sekarang, standar kecantikan mulai lebih beragam. Brand kecantikan dan fashion sudah menampilkan model dengan berbagai warna kulit, bentuk tubuh, dan jenis rambut. Meski begitu, cara pandang masyarakat belum banyak berubah, kulit putih masih dianggap paling cantik. Warisan colorism dari masa kolonial masih kuat, ditambah pengaruh Korean wave yang membuat banyak orang makin terobsesi dengan kulit putih ala idol dan aktor Korea.
2. Media dan Iklan yang Mewarnai Persepsi Kita
Di era modern, media jadi pemain utama dalam membentuk standar kecantikan. Dari iklan TV tahun 90-an dan 2000-an hingga sinetron, kulit cerah terus dipromosikan sebagai tanda sukses dan percaya diri. Gelombang budaya Korea makin menguatkan tren ini dengan konsep kulit putih, mulus, dan glowing. Bahkan riset L’Oréal Asia Selatan (2019) menunjukkan meningkatnya preferensi kulit cerah di Asia karena kuatnya paparan media.
Industri kecantikan pun memanfaatkannya besar-besaran. Produk pencerah kulit membanjiri pasar dari serum sampai sabun dengan klaim mencerahkan cepat. Laporan Euromonitor (2022) juga menegaskan bahwa kategori produk lightening menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Akhirnya, masyarakat makin percaya bahwa kulit cerah adalah standar utama, padahal sebagian besar terbentuk oleh dorongan industri, bukan kebutuhan nyata.
3. Media Sosial dan Budaya Populer
Di era digital, media sosial memperkuat standar kecantikan ini lewat cara yang lebih halus tapi sangat efektif. Filter Instagram dan TikTok sering membuat kulit otomatis terlihat lebih cerah dan mulus.
Influencer pun banyak tampil dengan tampilan serupa sehingga membuat standar kecantikan terasa semakin sempit. Meski begitu, media sosial juga mulai menunjukkan sisi positif, muncul semakin banyak kampanye self-love, body positivity, dan beauty diversity yang mengajak perempuan Indonesia untuk bangga dengan warna kulit dan bentuk tubuhnya sendiri.
Selain itu, saat ini globalisasi dan budaya pop, seperti K-pop, drama Asia, dan Hollywood ikut mewarnai apa yang dianggap cantik hari ini. Gelombang budaya Korea (Hallyu) misalnya, ikut mempopulerkan kulit cerah, wajah tirus, dan estetika wajah tertentu di kalangan generasi muda Indonesia.
Dampak Standar Kecantikan di Indonesia pada Perempuan
1. Menurunkan Kepercayaan Diri
Banyak perempuan merasa nggak cukup “cantik” hanya karena kulit mereka sawo matang, tubuhnya berisi, atau rambutnya keriting. Akhirnya muncul rasa minder karena tidak sesuai dengan standar cantik ala “kulit mulus dan glowing” yang sering ditampilkan media.
2. Tekanan untuk Mengubah Penampilan
Standar kecantikan bikin banyak perempuan merasa harus mengubah banyak hal dari dirinya. Dari beli produk pemutih, diet ketat, sampai perawatan yang belum tentu aman. Nggak heran produk pencerah jadi salah satu yang paling laris karena tekanan untuk punya kulit cerah masih kuat banget.
3. Risiko Kesehatan dari Produk Pemutih
Masalahnya, banyak produk pemutih mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan hidrokuinon dosis tinggi. BPOM bahkan melaporkan bahwa lebih dari 21% temuan kosmetik ilegal pada 2023 adalah produk pemutih berbahaya. Dampaknya bisa merusak kulit dan organ tubuh.
4. Diskriminasi Penampilan (Lookism)
Ada perempuan yang diperlakukan berbeda hanya karena tidak sesuai “standar kecantikan”. Dari lingkungan kerja, pertemanan, sampai kehidupan sehari-hari. Perempuan yang dianggap “lebih menarik” sering mendapat perlakuan lebih baik atau peluang kerja yang lebih besar.
5. Beban Ekonomi
Banyak perempuan merasa harus mengeluarkan uang lebih untuk skincare, makeup, dan perawatan tubuh agar memenuhi ekspektasi. Alhasil, pengeluaran untuk produk kecantikan jadi lebih besar, padahal tidak semuanya benar-benar dibutuhkan.
6. Tekanan Psikologis dan Mental
Standar kecantikan yang sempit bisa bikin stres, cemas, dan bahkan depresi ringan. Media sosial juga memperparah karena kita terus-terusan melihat standar kecantikan yang “sempurna” sehingga bikin banyak orang merasa kurang dan tidak percaya diri.
Tinggalkan Komentar
Komentar