Periskop.id – Cara mahasiswa mencari kost kini semakin berubah. Jika dulu calon penghuni harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, mahasiswa saat ini cenderung mengandalkan media sosial, mesin pencari, dan peta digital untuk menentukan pilihan tempat tinggal.
Temuan itu terlihat dari riset Cove yang menunjukkan 63% mahasiswa penghuni propertinya hanya membutuhkan waktu kurang dari satu bulan untuk memilih kost. Perubahan ini menandai semakin kuatnya peran visualisasi digital dalam keputusan mahasiswa, terutama menjelang semester baru dan masa perpindahan mahasiswa rantau.
Bagi mahasiswa, kost tidak lagi sekadar tempat tidur sementara. Hunian kini harus memenuhi banyak kebutuhan sekaligus, mulai dari lokasi yang dekat dengan kampus, harga yang masuk akal, fasilitas lengkap, koneksi internet, kebersihan, keamanan, hingga ruang pribadi yang nyaman untuk belajar maupun beristirahat.
Country Director of Growth & VP of Online Marketing Cove Dian Paskalis mengatakan, mahasiswa memiliki karakter kebutuhan hunian yang cukup spesifik. Menurutnya, mereka mencari keseimbangan antara kemudahan, privasi, produktivitas, interaksi sosial, dan keterjangkauan harga.
“Mahasiswa yang menempati 12,5% dari seluruh penghuni Cove memiliki kebutuhan yang sangat spesifik. Mereka menuntut keseimbangan dalam ruang tinggal selayaknya segmen penghuni yang lain: kebutuhan akan kemudahan, ketenangan pribadi, produktivitas, dan interaksi sosial," ucap Dian dalam keterangannya, Kamis (25/6).
Tapi di saat yang sama, lanjut Dian, mereka beroperasi dengan alokasi anggaran yang jauh lebih ketat dibandingkan demografi lain, umumnya pada kisaran bujet Rp2 juta per bulannya. "Dengan kebutuhan tersebut, co-living bisa menjadi solusi yang paling efisien, menggabungkan hunian mereka dan segala kebutuhan akademik maupun sosial mereka, dalam pilihan harga sewa yang lebih beragam,” ungkap Dian.
Riset tersebut menemukan tiga saluran utama yang paling banyak digunakan mahasiswa untuk menemukan properti Cove. Pertama, konten TikTok Cove dengan porsi 22%. Kedua, pencarian melalui Google dan Google Maps sebesar 18%. Ketiga, rekomendasi keluarga atau teman sebesar 17%.
Mahasiswa Semakin Percaya pada Informasi Berbasis Visual
Kondisi ini menunjukkan, mahasiswa semakin percaya pada informasi berbasis visual saat mencari kost. Foto kamar, video tur singkat, ulasan penghuni, hingga lokasi di Google Maps menjadi bahan pertimbangan awal sebelum mereka menghubungi pengelola atau memutuskan untuk survei langsung.
Perubahan perilaku ini tidak lepas dari kuatnya penetrasi internet di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 mencatat 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka itu naik dari 69,21% pada 2023. Dengan akses digital yang semakin luas, keputusan memilih hunian pun ikut bergeser ke platform daring.
Tren ini juga relevan dengan besarnya jumlah mahasiswa di Indonesia. Data nasional berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) yang dikutip Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menunjukkan terdapat hampir 10 juta mahasiswa yang menempuh pendidikan di 4.416 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Besarnya populasi mahasiswa membuat kebutuhan hunian sementara, terutama di kota-kota pendidikan dan kawasan perkotaan, tetap menjadi pasar yang penting.
Dalam riset Cove, mayoritas mahasiswa yang menjadi penghuni berada pada rentang usia 18 hingga 24 tahun dengan porsi 73%. Kelompok usia ini umumnya sedang berada dalam fase awal hidup mandiri, terutama bagi mereka yang merantau untuk kuliah.
Sebagian besar mahasiswa penghuni Cove berasal dari Pulau Jawa, disusul Sumatera dan Kalimantan. Untuk lokasi, Jakarta masih menjadi kawasan favorit. Tiga wilayah teratas yang paling diminati mahasiswa adalah Jakarta Selatan sebesar 26%, Jakarta Barat 18%, dan Jakarta Pusat 16%. Kawasan-kawasan tersebut dikenal dekat dengan sejumlah kampus negeri maupun swasta, pusat transportasi, tempat magang, hingga ruang aktivitas anak muda.
Menariknya, mahasiswa ternyata lebih banyak memilih tinggal sendiri dibanding berbagi kamar. Sebanyak 9 dari 10 mahasiswa penghuni Cove menyatakan memilih tinggal di kamar sendiri. Hal ini menunjukkan, privasi menjadi faktor penting, terutama bagi mahasiswa yang membutuhkan ruang pribadi untuk belajar, beristirahat, maupun mengatur rutinitas harian.
Selain privasi, mahasiswa juga menginginkan pengalaman tinggal yang praktis dan bebas repot. Tiga alasan utama mahasiswa memilih Cove adalah fasilitas kamar yang lengkap sebesar 14%, jarak ke kampus sebesar 12%, serta layanan yang sudah termasuk dalam harga sewa seperti WiFi, pembersihan ruangan, atau laundry sebesar 11%.
Preferensi ini memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak hanya membandingkan harga kamar. Mereka juga menghitung nilai tambah dari layanan yang diterima. Bagi mahasiswa rantau, fasilitas seperti internet stabil, kamar siap huni, kebersihan, dan layanan pendukung dapat mengurangi beban adaptasi di lingkungan baru.
Bukan Fenomena Baru
Sementara itu, tren co-living untuk mahasiswa bukan fenomena baru. Pada 2021, Antara News juga memberitakan peluncuran Cove Hillcrest di Karawaci, Tangerang, sebagai hunian co-living mahasiswa yang berdekatan dengan Universitas Pelita Harapan. Saat itu, Co-founder dan CEO Cove Guillaume Castagne mengatakan, “Cove sangat senang untuk meluncurkan konsep baru co-living mahasiswa yang akan meningkatkan pengalaman belajar bagi mahasiswa”.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda pernah menilai pasar co-living tetap memiliki peluang selama harga yang ditawarkan sesuai dengan daya beli penyewa. “Pasar co-living seperti properti lain. Pasarnya ada, asalkan harga cocok,” tuturnya.
Temuan Cove juga menunjukkan keterjangkauan harga masih menjadi pertimbangan utama mahasiswa. Sebanyak 40% mahasiswa penghuni Cove memiliki alokasi dana bulanan sebesar Rp2 juta hingga Rp5 juta. Anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk membayar kost, tetapi juga harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, transportasi, kuliah, makan, dan gaya hidup.
Karena itu, mahasiswa tidak selalu mencari hunian dengan fasilitas paling mewah. Banyak dari mereka justru memilih kost yang menawarkan keseimbangan antara harga, lokasi, keamanan, kenyamanan, dan layanan dasar yang sudah tersedia. Hal ini sejalan dengan Cove Basics, segmen properti Cove dengan rata-rata harga sewa bulanan sekitar Rp2 juta, yang menjadi pilihan favorit bagi penghuni mahasiswa.
Meski proses pencarian kost semakin cepat berkat internet, mahasiswa tetap menghadapi sejumlah tantangan. Dua hambatan terbesar yang disebut responden adalah sulitnya menemukan kost di lingkungan yang aman dan nyaman serta sulitnya mendapatkan lokasi yang strategis. Tantangan berikutnya adalah menemukan kost yang disukai, tetapi harga sewanya tidak sesuai dengan bujet.
Artinya, media sosial dan platform digital memang mempercepat proses pencarian. Namun, keputusan akhir tetap sangat dipengaruhi faktor klasik seperti harga, lokasi, keamanan, dan kualitas fasilitas. Bagi mahasiswa, kost ideal bukan hanya yang terlihat bagus di video, tetapi juga yang mendukung aktivitas kuliah dan kehidupan sehari-hari.
Dengan pola pencarian yang semakin digital, pengelola kost dan co-living perlu semakin serius menampilkan informasi yang jelas, visual yang akurat, harga yang transparan, dan ulasan yang dapat dipercaya. Bagi mahasiswa, keputusan memilih tempat tinggal kini semakin cepat, tetapi tetap harus rasional agar tidak salah pilih di tengah banyaknya pilihan hunian di internet.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar