Periskop.id - Pertandingan Aljazair melawan Austria menjadi salah satu laga paling dramatis di fase grup Piala Dunia 2026. Enam gol tercipta, dua di antaranya hadir pada masa tambahan waktu, dan hasil akhir 3-3 membuat kedua tim sama-sama melaju ke babak 32 besar.
Austria lolos sebagai runner-up Grup J, sementara Aljazair melaju sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik. Hasil tersebut sekaligus menutup peluang Iran untuk masuk ke fase gugur lewat jalur peringkat ketiga terbaik.
Laga ini sebenarnya sudah menarik sejak sebelum dimulai. Austria dan Aljazair sama-sama berada dalam situasi yang memungkinkan mereka lolos dengan hasil imbang. Namun, pertandingan tidak berjalan pasif. Kedua tim justru saling membalas serangan hingga detik terakhir.
Bagi Austria, hasil ini sangat bersejarah. Mereka akhirnya kembali menembus fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1982. Sementara bagi Aljazair, kelolosan ini menjadi keberhasilan kedua mereka mencapai fase gugur setelah pencapaian impresif pada Piala Dunia 2014.
Arnautovic Buka Keunggulan Austria
Austria memulai laga dengan tekanan tinggi. Tim asuhan Ralf Rangnick tampak ingin lebih dulu mengambil kendali agar tidak terjebak dalam permainan menunggu.
Gol pembuka datang pada menit ke-28 melalui Marko Arnautovic. Penyerang veteran itu menyambut umpan lambung jauh dan berhasil menaklukkan kiper Aljazair, Oussama Benbot, dari sudut sempit. Gol tersebut membuat Austria unggul 1-0 dan berada di jalur yang ideal untuk mengamankan posisi kedua Grup J.
Aljazair tidak tinggal diam. Tim asuhan Vladimir Petkovic merespons dengan serangan yang lebih agresif. Fares Chaibi sempat nyaris menyamakan kedudukan ketika tembakannya membentur tiang gawang.
Tekanan Aljazair akhirnya membuahkan hasil menjelang akhir babak pertama. Riyad Mahrez menjaga bola tetap hidup di dekat garis permainan, lalu mengirim umpan kepada Rafik Belghali.
Belghali kemudian melakukan aksi individu melewati beberapa pemain bertahan Austria sebelum melepaskan tembakan yang tidak mampu dihentikan Alexander Schlager. Skor berubah menjadi 1-1 dan bertahan hingga turun minum.
Sabitzer dan Mahrez Saling Balas
Babak kedua kembali berjalan dengan tempo tinggi. Austria merebut lagi keunggulan pada menit ke-55 melalui Marcel Sabitzer. Gol itu bermula dari umpan tarik yang memberi ruang bagi Sabitzer di depan kotak penalti. Gelandang Borussia Dortmund tersebut langsung melepaskan tembakan keras dari jarak sekitar 18 meter untuk membawa Austria unggul 2-1.
Namun, Aljazair hanya butuh beberapa menit untuk merespons. Pada menit ke-60, Houssem Aouar bergerak dari sisi kiri dan mengirim umpan ke area berbahaya. Mahrez yang berada di posisi tepat menyelesaikan peluang dengan tenang untuk membuat skor kembali imbang 2-2.
Setelah gol itu, pertandingan sempat berjalan lebih hati-hati. Kedua tim sadar bahwa hasil imbang cukup membawa mereka lolos. Namun, situasi tidak berarti laga menjadi membosankan. Tekanan, duel fisik, dan transisi cepat tetap terjadi di beberapa momen.
Drama Masa Tambahan Waktu
Ketika pertandingan tampak akan berakhir 2-2, drama besar justru terjadi pada masa tambahan waktu. Mahrez mencetak gol keduanya pada menit ke-90+3 dan membawa Aljazair unggul 3-2.
Gol itu seolah mengubah nasib grup. Dalam beberapa detik, Austria berada di ambang kehilangan posisi runner-up. Aljazair tampak akan melaju dengan kemenangan, sementara Austria terancam bergantung pada hitung-hitungan lain.
Namun, Austria belum selesai. Ralf Rangnick memasukkan Sasa Kalajdzic, dan keputusan itu terbukti menentukan.
Pada serangan terakhir, Austria mengirim bola panjang ke kotak penalti Aljazair. Kalajdzic memenangi duel udara dan menyundul bola masuk ke gawang. Gol pada menit ke-90+5 itu membuat skor menjadi 3-3 dan memastikan Austria lolos sebagai runner-up Grup J.
Para pemain kedua tim akhirnya sama-sama merayakan kelolosan setelah peluit panjang berbunyi. Austria tetap berada di posisi kedua, sedangkan Aljazair masuk daftar peringkat ketiga terbaik.
Rangnick Bantah Isu Main Aman
Karena sejak awal hasil imbang cukup menguntungkan kedua tim, laga Aljazair melawan Austria sempat diwarnai spekulasi bahwa kedua tim bisa saja bermain aman. Namun, jalannya pertandingan, terutama drama dua gol pada masa tambahan waktu, membantah dugaan tersebut.
Pelatih Austria Ralf Rangnick menolak anggapan bahwa timnya dan Aljazair bermain untuk hasil imbang. “Dalam pertandingan ini, ketika skor akhirnya 3-3, tidak ada yang bisa menganggap bahwa itu adalah sebuah kesepakatan, apalagi setelah apa yang kita lihat dalam 90 detik terakhir,” kata Rangnick.
Ia bahkan menyebut akhir laga tersebut sebagai salah satu momen paling luar biasa dalam karier kepelatihannya. “Tiga menit menjelang akhir, jika seseorang mengatakan bahwa ini akan terjadi, Anda pasti akan bilang orang itu gila,” ucapnya.
“Saya sudah menjadi pelatih sekitar 40 tahun dan saya bahkan tidak ingat pernah mengalami pertandingan dengan alur sedramatis dan setidak terduga ini. Banyak yang memperkirakan 0-0 atau 1-1, dan sekarang hasilnya 3-3. Ini luar biasa. Ruang ganti seperti gila. Jika Alfred Hitchcock menulis drama seperti ini, saya mungkin akan berkata bahwa dia benar-benar gila,” bebernya.
Rangnick juga mengaku masih sulit memproses keberhasilan Austria lolos ke fase gugur setelah menunggu 44 tahun. “Saya lega, tidak percaya, dan bahagia. Saya masih tidak percaya. Saya perlu dicubit untuk bangun dari mimpi,” kata Rangnick.
Sabitzer: Kami Masih Percaya
Marcel Sabitzer juga mengakui situasi sempat terasa hampir berakhir ketika Austria kebobolan gol Mahrez pada menit akhir. Namun, ia menilai keyakinan tim menjadi kunci mereka tetap mencari peluang sampai detik terakhir.
“Anda kebobolan 3-2 pada menit ke-94 dan Anda berpikir semuanya sudah selesai, apa lagi yang bisa terjadi?” kata Sabitzer.
“Tetapi kemudian kami masih mendapat satu peluang bersih pertama. Dan kami masih percaya. Kami mengirim bola panjang ke dua pemain tinggi, lalu sundulan, sundulan, dan 3-3. Itu luar biasa,” ujarnya.
Kutipan itu menggambarkan mental Austria yang tidak berhenti meski berada dalam tekanan besar. Dalam laga dengan konsekuensi besar seperti ini, satu momen kecil cukup untuk mengubah jalur turnamen.
Mahrez Tetap Puas meski Gagal Menang
Bagi Aljazair, hasil imbang ini tetap layak dirayakan. Mereka sempat kalah 0-3 dari Argentina pada laga pembuka, lalu bangkit mengalahkan Yordania 2-1, dan akhirnya menahan Austria dalam laga penuh drama.
Mahrez menilai yang terpenting adalah kelolosan ke fase gugur.
“Ya, kami senang. Kami lolos ke babak berikutnya, itulah yang akan kami ingat, itu yang paling penting. Kami tampil serius, disiplin, dan solid. Pada akhirnya, kami sebenarnya bisa menang, tetapi hasilnya imbang. Yang paling penting adalah lolos,” kata Mahrez.
Aljazair finis di posisi ketiga Grup J, tetapi empat poin cukup untuk membawa mereka masuk daftar delapan peringkat ketiga terbaik.
Austria Hadapi Spanyol, Aljazair Tantang Swiss
Hasil imbang 3-3 ini langsung menentukan jalur kedua tim di babak 32 besar. Austria akan menghadapi Spanyol pada 2 Juli di Stadion Los Angeles, California.
Laga itu akan menjadi tantangan besar bagi Austria. Spanyol lolos sebagai juara Grup H setelah mengalahkan Uruguay dan menyingkirkan La Celeste dari turnamen.
Sementara itu, Aljazair akan menghadapi Swiss di Vancouver pada hari yang sama. Swiss datang sebagai juara Grup B dan menjadi salah satu tim yang tampil solid sepanjang fase grup.
Bagi Austria dan Aljazair, lawan di babak 32 besar jelas tidak mudah. Namun, cara mereka lolos dari Grup J memberi modal mental yang sangat penting.
Iran Jadi Korban Drama Grup J
Hasil Aljazair 3-3 Austria juga berdampak langsung pada Iran. Tim Melli yang sebelumnya masih berharap masuk daftar peringkat ketiga terbaik akhirnya tersingkir.
Iran finis di posisi ketiga Grup G dengan tiga poin setelah bermain imbang 1-1 melawan Mesir. Namun, hasil di Grup J membuat Aljazair mengoleksi empat poin dan melampaui Iran dalam persaingan peringkat ketiga terbaik.
Situasi ini memperlihatkan betapa kerasnya format baru Piala Dunia 2026. Finis di posisi ketiga tidak otomatis berarti lolos. Nasib sebuah tim bisa ditentukan oleh hasil pertandingan dari grup lain.
Laga yang Menghapus Bayangan Gijon 1982
Pertemuan Aljazair dan Austria juga membawa memori lama Piala Dunia 1982. Saat itu, Austria menang 1-0 atas Jerman Barat dalam laga yang kemudian dikenal sebagai “Disgrace of Gijon”. Hasil tersebut membuat Aljazair tersingkir dan menjadi salah satu alasan FIFA kemudian mengubah format laga terakhir fase grup agar dimainkan serentak.
Karena latar belakang sejarah itu, duel Aljazair vs Austria pada 2026 mendapat perhatian lebih besar. Ada kekhawatiran bahwa hasil imbang yang menguntungkan kedua tim bisa membuat pertandingan berjalan tertutup.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Enam gol tercipta, ritme pertandingan terus hidup, dan dua gol pada masa tambahan waktu membuat laga ini menjadi salah satu yang paling dramatis di fase grup.
Jika Gijon 1982 dikenang sebagai kontroversi, Kansas City 2026 justru bisa dikenang sebagai pembalasan narasi. Aljazair dan Austria sama-sama lolos, tetapi dengan cara yang penuh risiko dan drama.
Dua Tim, Dua Cerita Kebangkitan
Austria datang ke pertandingan ini dengan misi besar: kembali ke fase gugur Piala Dunia setelah lebih dari empat dekade. Mereka nyaris kehilangan posisi itu ketika Mahrez mencetak gol pada masa tambahan waktu. Namun, sundulan Kalajdzic membuat mereka bertahan hidup.
Aljazair juga membawa cerita kebangkitan. Setelah kalah telak dari Argentina pada laga pertama, mereka memperbaiki diri, menang atas Yordania, lalu menunjukkan karakter kuat melawan Austria.
Kini kedua tim sama-sama melangkah ke babak 32 besar. Austria dengan status runner-up Grup J, Aljazair lewat jalur peringkat ketiga terbaik.
Fase gugur akan menghadirkan lawan yang lebih berat. Namun, setelah laga gila di Kansas City, Austria dan Aljazair punya satu modal yang sama: mereka sudah membuktikan bisa bertahan dalam tekanan paling ekstrem.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar