Periskop.id - Aljazair menjaga peluang lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menang dramatis 2-1 atas Yordania dalam laga kedua Grup J di San Francisco Bay Area Stadium, Santa Clara, Selasa siang WIB.
Kemenangan ini terasa sangat penting bagi Les Fennecs. Mereka sempat tertinggal lebih dulu pada babak pertama lewat gol Nizar Al Rashdan. Namun, Aljazair bangkit setelah jeda melalui sundulan Nadhir Benbouali dan gol Amine Gouiri pada menit-menit akhir.
Hasil tersebut membuat Aljazair naik ke peringkat ketiga Grup J dengan tiga poin dari dua pertandingan. Mereka kini menjaga asa untuk melaju ke fase gugur, meski harus menjalani laga penentuan melawan Austria pada pertandingan terakhir grup.
Bagi Yordania, kekalahan ini menjadi akhir pahit dari mimpi besar mereka di Piala Dunia 2026. Tim debutan itu sudah menelan dua kekalahan, setelah sebelumnya takluk 1-3 dari Austria. Meski sempat mencetak gol dan memberi perlawanan, langkah Yordania di turnamen ini dipastikan terhenti di fase grup.
Yordania Mengejutkan Lebih Dulu
Pertandingan langsung berjalan terbuka sejak menit awal. Yordania yang berstatus debutan tidak tampil takut. Mereka justru lebih dulu mengancam lewat sundulan Yazan Al Nasir pada menit pertama, meski bola masih melebar dari sasaran.
Aljazair membalas lewat Amine Gouiri pada menit kelima. Penyerang itu mencoba melepas tembakan ke tiang dekat, tetapi arah bola belum menemui sasaran.
Yordania kembali memberi ancaman pada menit ke-11 melalui Mousa Al Tamari. Pemain yang menjadi tumpuan utama serangan Al Nashama itu melepaskan tembakan dari luar kotak penalti, tetapi masih mengarah tepat ke pelukan kiper Luca Zidane.
Aljazair mulai menemukan ritme setelah laga berjalan sekitar 20 menit. Riyad Mahrez mendapat peluang emas pada menit ke-21 setelah lolos dari jebakan offside. Namun, kontrol bolanya kurang sempurna ketika hendak berhadapan dengan kiper Yazeed Abulaila, sehingga bola berhasil disapu barisan belakang Yordania.
Gouiri juga mencatatkan tembakan tepat sasaran untuk Aljazair pada menit ke-29. Namun, Abulaila masih mampu mengamankan bola. Mahrez kembali mendapatkan kesempatan dalam situasi satu lawan satu. Lagi-lagi, peluang itu gagal berbuah gol setelah upayanya bisa digagalkan kiper Yordania.
Al Rashdan Bawa Yordania Unggul
Ketika Aljazair mulai meningkatkan tekanan, Yordania justru mampu mencetak gol lebih dulu. Pada menit ke-36, Nizar Al Rashdan memanfaatkan situasi di dalam kotak penalti dan melepaskan tembakan ke arah gawang.
Luca Zidane sempat menepis bola, tetapi laju si kulit bundar tetap masuk ke gawang. Yordania unggul 1-0 dan membawa harapan besar untuk meraih poin pertama mereka di Piala Dunia.
Gol itu menjadi salah satu momen paling emosional bagi Yordania. Dalam debut Piala Dunia mereka, Yordania sempat memimpin dalam sebuah pertandingan fase grup. Setelah sebelumnya mencetak gol bersejarah saat melawan Austria, Al Nashama kembali menunjukkan bahwa mereka tidak datang hanya untuk menjadi pelengkap.
Namun, keunggulan itu juga membuat Yordania mulai lebih berhati-hati. Mereka menurunkan blok pertahanan, berusaha mempersempit ruang, dan mengandalkan serangan balik cepat untuk mengancam Aljazair.
Aljazair mencoba membongkar pertahanan Yordania hingga akhir babak pertama, tetapi belum mampu mencetak gol balasan. Skor 1-0 untuk Yordania bertahan sampai turun minum.
Pergantian Pemain Mengubah Arah Laga
Memasuki babak kedua, Aljazair langsung menaikkan intensitas. Pelatih Vladimir Petkovic melakukan perubahan penting dengan memasukkan Nadhir Benbouali dan Nabil Bentaleb pada awal babak kedua.
Perubahan itu membuat serangan Aljazair lebih hidup. Ibrahim Maza mulai lebih aktif mencari ruang di antara lini pertahanan Yordania. Farès Chaïbi dan Riyad Mahrez juga terus mencoba mengalirkan bola ke area berbahaya.
Pada menit ke-54, Maza melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Bola mengarah ke gawang, tetapi Abulaila masih mampu melakukan penyelamatan.
Sepuluh menit berselang, Benbouali juga mendapatkan kesempatan. Namun, tembakannya masih bisa diamankan kiper Yordania.
Yordania semakin sulit keluar dari tekanan. Mereka lebih banyak bertahan di area sendiri dan berharap bisa mencuri peluang lewat serangan balik.
Benbouali Samakan Skor dari Sepak Pojok
Tekanan Aljazair akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-69. Dari situasi sepak pojok, Benbouali mampu memenangi duel udara di kotak penalti Yordania. Sundulannya menghujam ke gawang dan membuat skor berubah menjadi 1-1.
Gol ini menjadi titik balik besar pertandingan. Aljazair yang sebelumnya frustrasi akhirnya menemukan jalan. Yordania yang sempat nyaman menjaga keunggulan mulai kehilangan momentum.
Bagi Benbouali, gol tersebut membuktikan pentingnya peran pemain pengganti. Ia masuk pada awal babak kedua dan langsung memberi dampak nyata ketika Aljazair membutuhkan gol penyeimbang.
Setelah gol itu, pertandingan menjadi lebih terbuka. Yordania mencoba merespons lewat serangan balik cepat. Mahmoud Al Mardi mendapat peluang dari sudut sempit, tetapi bola masih mudah diamankan Luca Zidane.
Gouiri Jadi Pahlawan Kemenangan
Aljazair terus menekan. Mereka sadar hasil imbang belum cukup ideal untuk menjaga peluang lolos, terutama setelah kalah 0-3 dari Argentina pada laga pembuka.
Gol kemenangan akhirnya lahir pada menit ke-82. Lagi-lagi, situasi bermula dari bola mati. Pertahanan Yordania gagal membersihkan bola dengan sempurna setelah kemelut di depan gawang.
Amine Gouiri berada di posisi tepat. Ia menyambut bola liar di depan gawang dan dengan tenang menceploskannya untuk membawa Aljazair berbalik unggul 2-1.
Wasit sempat mengecek kemungkinan offside melalui VAR, tetapi gol tetap disahkan. Para pemain Aljazair merayakan gol itu dengan lega karena mereka tahu betapa pentingnya tiga poin tersebut.
Di sisa waktu, Yordania berusaha mengejar. Namun, mereka tidak mampu menciptakan peluang yang benar-benar bersih untuk menyamakan kedudukan.
Aljazair bertahan lebih rapi dan menjaga keunggulan hingga peluit panjang. Skor 2-1 memastikan kemenangan comeback Les Fennecs.
Kemenangan ini punya arti khusus bagi Aljazair. Laporan pertandingan internasional mencatat, ini menjadi pertama kalinya Aljazair memenangkan laga Piala Dunia setelah kebobolan gol pembuka.
Secara psikologis, hasil ini sangat berharga. Aljazair memulai turnamen dengan kekalahan telak dari Argentina. Kekalahan itu membuat mereka berada dalam tekanan besar saat menghadapi Yordania.
Namun, saat tertinggal 0-1, mereka tidak runtuh. Aljazair memilih sabar, menguasai bola lebih lama, lalu memanfaatkan kualitas pemain pengganti dan bola mati untuk membalikkan keadaan.
Kemenangan ini juga memperlihatkan kedalaman skuad Aljazair. Benbouali masuk dan mencetak gol penyeimbang. Gouiri menjadi penentu. Maza memberi energi dan kreativitas. Mahrez memang tidak mencetak gol, tetapi sepak pojoknya menjadi awal gol penyama.
Yordania Tersingkir, tetapi Tidak Pulang Tanpa Cerita
Bagi Yordania, kekalahan ini jelas menyakitkan. Mereka sempat memimpin dan berada dalam posisi untuk meraih poin pertama di Piala Dunia. Namun, tekanan Aljazair pada babak kedua membuat pertahanan mereka akhirnya runtuh.
Meski tersingkir, perjalanan Yordania tetap punya nilai sejarah. Piala Dunia 2026 adalah debut pertama mereka di turnamen terbesar sepak bola dunia. Sebelum turnamen, pelatih Jamal Sellami menegaskan, kehadiran Yordania di Piala Dunia sudah menjadi kebanggaan besar bagi negaranya.
"Kami berpartisipasi untuk pertama kalinya dalam sejarah kami. Ini adalah sumber kebanggaan yang besar bagi kami. Ini lebih merupakan kebanggaan daripada tekanan. Berada di sini adalah impian kami," kata Sellami.
Kutipan itu terasa relevan setelah laga melawan Aljazair. Yordania memang gagal melangkah lebih jauh, tetapi mereka tetap meninggalkan jejak. Mereka mencetak gol pertama di Piala Dunia saat melawan Austria, sempat memimpin atas Aljazair, dan menunjukkan bahwa debutan pun bisa membuat lawan berpengalaman bekerja keras.
Aljazair Menjaga Asa Setelah 12 Tahun Absen
Bagi Aljazair, kemenangan atas Yordania juga menjadi penanda penting dalam perjalanan mereka kembali ke Piala Dunia. Turnamen 2026 adalah penampilan kelima Aljazair di putaran final setelah sebelumnya tampil pada 1982, 1986, 2010, dan 2014.
Mereka datang ke Amerika Utara setelah absen selama 12 tahun dari panggung Piala Dunia. Karena itu, kemenangan ini bukan sekadar tiga poin, tetapi juga cara untuk menjaga harga diri sepak bola Aljazair.
Pada 2014, Aljazair sempat mencuri perhatian dengan lolos ke babak 16 besar sebelum kalah dramatis dari Jerman. Kini, generasi baru Aljazair mencoba menulis kisahnya sendiri dengan campuran pemain muda dan senior.
Nama-nama seperti Gouiri, Maza, dan Aït-Nouri menjadi simbol generasi baru. Sementara Mahrez, Mandi, dan Bensebaini membawa pengalaman yang dibutuhkan dalam pertandingan penuh tekanan seperti ini.
Grup J Makin Panas
Hasil ini membuat peta Grup J semakin menarik. Argentina sudah berada di posisi terdepan setelah mengalahkan Aljazair 3-0 dan Austria 2-0. Sementara itu, Austria dan Aljazair sama-sama mengoleksi tiga poin.
Austria sementara masih punya keuntungan dari selisih gol. Namun, laga terakhir melawan Aljazair akan menjadi penentu posisi kedua grup. Jika ingin finis sebagai runner-up secara aman, Aljazair harus mengalahkan Austria.
Jika hanya bermain imbang, Aljazair masih mungkin berharap pada jalur peringkat ketiga terbaik, tetapi peluang tersebut akan bergantung pada hasil dari grup lain.
Yordania akan menutup fase grup dengan laga berat melawan Argentina. Meski sudah tersingkir, pertandingan itu tetap menjadi momen besar bagi pemain Yordania karena mereka akan menghadapi juara bertahan dunia dan Lionel Messi.
Dua Gol dari Bola Mati, Satu Pelajaran Besar
Hal paling menarik dari kemenangan Aljazair adalah cara mereka membalikkan keadaan. Dua gol mereka sama-sama lahir dari situasi sepak pojok dan kemelut di kotak penalti.
Ini menunjukkan dua hal. Pertama, Aljazair cukup sabar menunggu momentum meski sulit membongkar pertahanan terbuka Yordania. Kedua, Yordania kurang mampu menjaga konsentrasi dalam situasi bola mati.
Pada level Piala Dunia, detail kecil seperti duel udara, penjagaan pemain, dan bola liar di kotak penalti bisa menentukan nasib satu negara. Yordania belajar itu dengan cara paling pahit.
Sebaliknya, Aljazair memanfaatkannya dengan sempurna. Mereka tidak selalu mulus dalam membangun serangan, tetapi cukup tajam saat peluang datang.
Susunan Pemain
Yordania: Yazeed Abulaila; Husam Abu Dahab, Yazan Al Arab, Abdallah Nasib; Mohannad Abu Taha, Noor Al Rawabdeh, Nizar Al Rashdan, Ehsan Haddad; Ali Olwan, Mahmoud Al Mardi, Mousa Al Tamari.
Pemain pengganti Yordania: Saleem Obaid, Mohammad Abu Hasheesh, Mohammad Abu Zrayq, Ali Azaizeh, Ouda Al Fakhouri.
Aljazair: Luca Zidane; Rayan Aït-Nouri, Ramy Bensebaini, Aïssa Mandi, Rafik Belghali; Ramiz Zerrouki, Hicham Boudaoui; Ibrahim Maza, Farès Chaïbi, Riyad Mahrez; Amine Gouiri.
Pemain pengganti Aljazair: Nabil Bentaleb, Nadhir Benbouali, Anis Hadj Moussa, Jaouen Hadjam, Zineddine Belaid.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar