Sisterhood

Ketika “Nggak Enakan” Menjadi Bahasa Pertemanan Perempuan

Sulit menolak ajakan teman, selalu berkata “terserah”, hingga rela mengorbankan diri demi circle? Bisa jadi “nggak enakan” telah berubah menjadi people pleasing.

1 minggu yang lalu · 4 mnt baca
Ketika “Nggak Enakan” Menjadi Bahasa Pertemanan Perempuan
Ilustrasi menolak permintaan dari teman. AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Ada satu kalimat yang mungkin terlalu sering keluar dalam pertemanan perempuan: “Sebenarnya aku nggak mau, tapi nggak enak.” Nggak enak menolak ajakan nongkrong karena semua teman sudah sepakat. Nggak enak keluar dari grup WhatsApp meski obrolannya sudah tidak lagi relevan. Nggak enak mengatakan tidak untuk arisan karena sedang banyak pengeluaran. Nggak enak menolak rencana liburan karena khawatir dianggap tidak solid.

DI titik tertentu kita akhirnya mengeluh “Kenapa sih aku selalu begini?”

Jawabannya bisa jadi sederhana: kita terlalu terbiasa menjadi orang yang tidak ingin mengecewakan orang lain.

Dalam pergaulan perempuan, keinginan menjaga perasaan teman sering dianggap sebagai kualitas baik. Menjadi teman yang pengertian, selalu ada, mudah diajak, tidak banyak protes, dan bisa diandalkan adalah nilai yang membuat seseorang dianggap sebagai “teman baik”.

Tetapi ada garis tipis antara menjadi teman yang suportif dan terus-menerus mengorbankan diri agar hubungan tetap nyaman.

Selalu bilang “terserah” di saat selalu punya pilihan

Coba perhatikan percakapan-percakapn sederhana di grup WhatsApp.

“Mau makan di mana?”

“Terserah.”

“Jam berapa?”

“Aku ikut aja.”

“Liburan bulan depan jadi, ya?”

“Iya, ayo.”

Jawaban-jawaban tersebut memang tidak selalu bermasalah. Tetapi jika “terserah” dan “iya” hampir selalu menjadi respons meski kita sebenarnya memiliki keinginan berbeda, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Begitu pula ketika teman meminta bantuan yang mulai cukup ekstrem, “Bisa pinjemin uang dulu nggak?” Padahal kondisi keuangan sedang pas-pasan. Namun tangan kita entah kenapa tetap mengetik, “Bisa, berapa?”

Pada titik tertentu, masalahnya bukan lagi sekadar keramahan. Kita mulai mengorbankan kebutuhan sendiri demi mempertahankan kenyamanan orang lain. Inilah yang sering disebut sebagai people pleasing.

Mengutip Medical News Today, people pleasing bukan diagnosis psikologis resmi. Istilah ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan pola perilaku ketika seseorang terlalu mengutamakan kebutuhan dan keinginan orang lain, bahkan ketika hal itu mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri.

Pertemanan perempuan sering memiliki kedekatan emosional yang kuat. Riset lintas negara yang diterbitkan pada 2026 menemukan bahwa perempuan secara konsisten lebih memprioritaskan dukungan emosional dari teman dibandingkan laki-laki dalam lima studi, dengan ukuran efek yang bervariasi dari kecil hingga besar.

Ini tentu bukan berarti perempuan secara alamiah harus menjadi “pengurus emosi” dalam pertemanan. Namun, kedekatan dan ekspektasi emosional yang tinggi dapat membuat batas antara peduli kepada teman dan bertanggung jawab atas perasaan teman menjadi kabur. Kita mulai berpikir, “Kalau aku tidak ini itu, nanti dia kecewa.”

Dari arisan sampai liburan, rasa bersalah bisa menyusup ke mana-mana

People pleasing tidak selalu terlihat dalam situasi besar. Ia bisa muncul ketika seseorang sebenarnya ingin pulang lebih awal dari acara nongkrong, tetapi bertahan karena semua teman masih berkumpul.

Ia muncul ketika seorang teman mengajak liburan dengan anggaran yang sebenarnya di luar kemampuan, tetapi kita takut dianggap tidak bisa diajak bersenang-senang.

Alih-alih mengatakan, “Aku tidak setuju,” kita memilih diam. Ketika dua teman berselisih, kita buru-buru menjadi penengah meski tidak ingin terlibat. Ketika ada keputusan kelompok yang tidak sesuai dengan keinginan kita, kita mengalah agar suasana kembali baik.

Lama-lama, pertemanan bisa terlihat harmonis dari luar, tetapi menyimpan kelelahan di dalam diri salah satu anggotanya.

Yang lebih berbahaya, orang yang terbiasa mengiyakan bisa mulai menganggap kebutuhan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang merepotkan.

Padahal hubungan yang sehat seharusnya memiliki ruang untuk ketidaksetujuan. Teman yang baik bukan selalu teman yang berkata “iya”. Teman yang baik juga seharusnya bisa mengatakan, “Aku nggak bisa,” tanpa hubungan langsung berubah menjadi buruk.

Batas yang sehat memungkinkan seseorang tetap hadir tanpa kehilangan dirinya sendiri. Beberapa kalimat sederhana diplomatis bisa menjadi jalan keluar, seperti: “Aku mau dengar ceritamu, tapi malam ini aku sedang capek.” atau “Aku nggak bisa ikut liburan kali ini karena budget-ku belum memungkinkan.”

Selain itu, kita bisa menolak meminjamkan uang atau nongkrong tanpa harus memberikan alasan. Dan yang paling penting, kita tidak harus merasa bersalah hanya karena memiliki kebutuhan yang berbeda dengan teman.

Belajar menjadi teman tanpa harus selalu menyenangkan

People pleasing sering terasa aman dalam jangka pendek. Mengatakan “iya” membuat konflik tidak terjadi. Mengalah membuat suasana kembali tenang. Namun jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan itu dapat membuat seseorang mengalami stres, mengabaikan kebutuhan pribadi, bahkan kehilangan kesempatan mengejar tujuan dirinya sendiri. 

Karena itu, mungkin sudah waktunya mengubah definisi tentang “teman baik”. Teman baik bukan orang yang selalu tersedia atau setuju. Teman baik adalah seseorang yang bisa peduli tanpa kehilangan batas dirinya. Teman yang mampu menolak tanpa perlu penjelasan panjang dan diterima.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.