Sisterhood

Pria Pasif-Agresif: Red Flag atau Hanya Buruk dalam Berkomunikasi?

Pria pasif-agresif tak selalu toksik. Kenali bedanya antara komunikasi yang buruk dan pola perilaku yang mulai menjadi red flag dalam hubungan.

4 jam yang lalu · 4 mnt baca
Pria Pasif-Agresif: Red Flag atau Hanya Buruk dalam Berkomunikasi?
Ilustrasi pria biasa saja dan perempuan cantik yang bertengkar sebagai pasangan. AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Dalam hubungan romantis, kemarahan tidak selalu muncul dalam bentuk suara tinggi, pertengkaran, atau kata-kata kasar. Sebagian orang mengekspresikan ketidaksetujuan melalui sikap dingin, sindiran, penundaan, atau kalimat pendek seperti “terserah” dan “nggak apa-apa”.

Pola tersebut dapat menjadi bentuk komunikasi pasif-agresif. Pada pria, perilaku ini kerap disalahartikan sebagai karakter pendiam, sulit terbuka, atau sekadar tidak pandai mengungkapkan perasaan. Padahal, pasif-agresif memiliki spektrum yang luas dan tidak selalu berarti seseorang bersifat toksik atau abusive.

Perbedaannya terletak pada pola, intensitas, tujuan, dan dampaknya terhadap pasangan.

Pasif-agresif bukan sekadar pendiam

Seseorang disebut pasif-agresif ketika ketidaksetujuan, kemarahan, atau permusuhan disampaikan secara tidak langsung. Ia mungkin tidak mengatakan bahwa dirinya kecewa, tetapi menunjukkan kekecewaan melalui perubahan perilaku.

Contohnya terlihat ketika pasangan mengatakan “terserah” setelah terjadi perbedaan pendapat, kemudian menjadi dingin sepanjang hari. Bentuk lainnya adalah menyetujui permintaan pasangan tetapi sengaja menunda atau mengabaikannya, melontarkan sindiran, memberikan respons minimal, atau mengatakan “aku nggak marah” ketika perilakunya menunjukkan sebaliknya.

Namun, tidak setiap perilaku tersebut otomatis menunjukkan pola pasif-agresif.

Seseorang dapat memilih diam karena membutuhkan waktu untuk mengendalikan emosi sebelum melanjutkan pembicaraan. Perbedaannya terletak pada komunikasi. Orang yang membutuhkan ruang biasanya dapat mengatakan bahwa dirinya sedang marah atau membutuhkan waktu. Setelah lebih tenang, ia bersedia kembali membicarakan masalah.

Pasif-agresif cenderung membuat pasangan harus menebak apa yang sebenarnya terjadi.

Buruk komunikasi atau red flag?

Pasif-agresif pada tingkat tertentu dapat mencerminkan keterampilan komunikasi yang buruk, bukan karakter yang berbahaya. Seseorang mungkin tidak terbiasa mengidentifikasi emosinya, takut menghadapi konflik, atau tumbuh dalam lingkungan yang membuat ekspresi kemarahan dianggap tidak dapat diterima.

Dalam kondisi tersebut, pasangan masih dapat memperbaiki pola komunikasi melalui percakapan terbuka. Masalah muncul ketika orang tersebut menyadari perilakunya tetapi tetap menggunakannya sebagai cara untuk mendapatkan kendali.

Karena itu, label red flag sebaiknya tidak diberikan hanya berdasarkan satu atau dua kejadian. Yang lebih penting adalah melihat pola yang berulang.

Pria yang sesekali mengatakan “terserah” karena kesulitan mengungkapkan kekecewaan berbeda dengan pria yang secara konsisten menggunakan kalimat tersebut untuk menghukum pasangan. Keduanya sama-sama menunjukkan komunikasi yang kurang sehat, tetapi dampaknya berbeda.

Ketika pasif-agresif mulai menjadi masalah

Pola pasif-agresif menjadi lebih serius ketika digunakan untuk mengendalikan pasangan.

Salah satu contohnya adalah silent treatment yang dilakukan secara sengaja. Mengambil waktu untuk menenangkan diri merupakan hal yang wajar. Sebaliknya, mengabaikan pasangan dengan sengaja agar ia merasa bersalah atau menyerah dalam konflik merupakan bentuk perilaku yang lebih problematis.

Hal serupa berlaku pada sindiran. Candaan yang sesekali muncul dalam hubungan tidak otomatis menjadi masalah. Namun, jika sindiran digunakan secara konsisten untuk merendahkan pasangan sambil kemudian berlindung di balik kalimat “cuma bercanda”, komunikasi tersebut dapat berkembang menjadi pola yang merusak.

Pasif-agresif juga perlu diperhatikan ketika seseorang terus membuat pasangan merasa bersalah tanpa pernah mengungkapkan kebutuhan secara langsung. Pasangan akhirnya harus membaca suasana hati, menebak kesalahan, dan menyesuaikan perilaku untuk mencegah konflik.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat hubungan terasa tidak aman secara emosional.

Tidak semua perilaku pasif-agresif merupakan bentuk kekerasan emosional. Namun, pola pasif-agresif dapat menjadi bagian dari hubungan yang abusive ketika digunakan secara sistematis untuk mengontrol, menghukum, mengisolasi, merendahkan, atau memanipulasi pasangan.

Karena itu, konteks menjadi penting.

Seseorang yang mengakui, “Aku memang kesal, tetapi aku belum tahu cara membicarakannya,” menunjukkan kapasitas refleksi yang berbeda dari seseorang yang terus menyangkal perilakunya sambil menyalahkan pasangan.

Respons setelah dikonfrontasi juga menjadi indikator penting. Orang yang buruk berkomunikasi tetapi bersedia belajar masih memiliki ruang untuk memperbaiki pola tersebut. Sebaliknya, seseorang yang menolak bertanggung jawab, mengulangi perilaku yang sama, dan menggunakan rasa bersalah pasangan untuk mendapatkan apa yang diinginkan menunjukkan masalah yang lebih serius.

Cara melihat masalahnya secara lebih objektif

Daripada langsung memberi label toksik, kita sebagai pasangan dapat melihat beberapa hal: seberapa sering perilaku tersebut terjadi, bagaimana konflik diselesaikan, apakah dia bersedia mengakui kesalahannya, dan apakah perilakunya membuat hubungan semakin tidak seimbang.

Komunikasi yang buruk masih dapat diperbaiki ketika kedua pihak bersedia mengubah kebiasaan.

Pasif-agresif juga tidak harus menjadi karakter permanen. Seseorang dapat belajar menyampaikan kemarahan secara langsung, menetapkan batas, mengungkapkan kebutuhan, dan menghadapi konflik tanpa menggunakan sindiran atau hukuman emosional.

Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah seorang pria pernah bersikap pasif-agresif. Hampir semua orang dapat menghindari konflik atau salah menyampaikan emosi pada situasi tertentu.

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang, dampaknya terhadap pasangan, dan kemauan untuk memperbaikinya.

Pria yang buruk dalam berkomunikasi masih dapat belajar berkomunikasi dengan lebih sehat. Namun, ketika pasif-agresif sudah digunakan sebagai alat untuk menghukum, mengontrol, atau memanipulasi, tak ada salahnya mencoba mengurai masalah dengan intervensi pihak ketiga seperti psikolog pasangan. 

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.