Sisterhood

Pria Lebih Muda dan Tantangan Berbedanya Fase Hidup

Hubungan dengan pria lebih muda bukan sekadar soal usia, tetapi juga kesiapan menikah, karier, anak, dan perbedaan fase kehidupan.

15 jam yang lalu · 5 mnt baca
Pria Lebih Muda dan Tantangan Berbedanya Fase Hidup
Ilustrasi pasangan yang kebingungan dengan sebuah hubungan. AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Hubungan antara perempuan yang lebih tua dan pria yang lebih muda semakin mudah ditemukan. Selisih usia lima, delapan, bahkan 10 tahun tidak selalu menjadi persoalan ketika dua orang memiliki kecocokan emosional dan gaya hidup.

Namun, hubungan seperti ini memiliki satu tantangan yang sering lebih penting daripada angka usia: perbedaan fase kehidupan.

Seorang perempuan berusia 38 tahun dan pria berusia 28 tahun bisa sama-sama merasa cocok. Mereka mungkin memiliki minat yang sama, komunikasi yang baik, bahkan memiliki rencana untuk menjalani hubungan serius. Masalah bisa muncul ketika keduanya mulai berbicara tentang kapan menikah, memiliki anak, membeli rumah, atau menentukan prioritas karier.

Di titik ini, perbedaan usia mulai terasa bukan karena angka, tetapi karena urgensi yang berbeda.

Ketika perempuan membutuhkan kepastian

Secara umum perempuan yang memasuki akhir 30-an belum tentu ingin segera menikah. Namun, jika ia memang menginginkan pernikahan dan anak biologis, persoalan waktu menjadi lebih konkret.

Pria berusia 28 tahun mungkin masih merasa memiliki banyak waktu untuk membangun karier, menyiapkan keuangan, atau menikmati kehidupan sebelum menikah. Sementara perempuan berusia 38 tahun mungkin mulai mempertimbangkan keputusan yang sama dengan horizon waktu yang lebih pendek.

Perbedaan tersebut tidak berarti pria lebih muda tidak serius. Ia bisa saja mencintai pasangannya dan menginginkan pernikahan, tetapi belum memiliki tingkat urgensi yang sama.

Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya “apakah kamu ingin menikah?”, melainkan “kapan kamu ingin menikah?”

Hal serupa berlaku untuk keputusan memiliki anak.

American Society for Reproductive Medicine menyebut usia perempuan sebagai salah satu prediktor paling penting terhadap peluang reproduksi. Kesuburan menurun seiring bertambahnya usia dan penurunan tersebut menjadi lebih nyata setelah 35 tahun. Untuk perempuan berusia 35 tahun ke atas, evaluasi kesuburan juga umumnya dianjurkan setelah enam bulan mencoba hamil tanpa hasil.

Artinya, bagi perempuan yang ingin memiliki anak biologis, menunda keputusan selama beberapa tahun bukan sekadar persoalan preferensi. Ada faktor biologis yang perlu dipertimbangkan.

Bukan hanya soal anak

Perbedaan fase hidup juga dapat muncul dalam karier dan keuangan. Pria di akhir 20-an mungkin sedang membangun fondasi karier. Ia mungkin masih ingin berpindah pekerjaan, melanjutkan pendidikan, mengambil risiko bisnis, atau mencoba tinggal di kota lain.

Sebaliknya, perempuan di akhir 30-an bisa saja sudah menginginkan kehidupan yang lebih stabil. Ia mungkin telah membangun karier, memiliki aset, atau sudah mengetahui bentuk kehidupan yang ingin dijalani.

Tidak ada pilihan yang lebih benar di sini.

Masalah muncul ketika masing-masing menganggap pasangannya harus mengikuti ritme hidupnya. Hubungan kemudian berubah menjadi negosiasi: siapa yang mengikuti siapa, karier siapa yang diprioritaskan, kapan menikah, di mana tinggal, dan apakah anak menjadi bagian dari rencana bersama.

Usia bukan satu-satunya penentu

Riset tentang pasangan dengan perbedaan usia menunjukkan hasil yang tidak sesederhana anggapan bahwa semakin jauh usia, semakin buruk hubungan.

Sebuah penelitian terhadap pasangan di Australia menemukan bahwa pasangan dengan perbedaan usia memang mengalami penurunan kepuasan pernikahan yang relatif lebih besar dibanding pasangan dengan usia yang lebih berdekatan. Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa perempuan dengan suami yang lebih muda justru melaporkan kepuasan yang lebih tinggi pada kondisi tertentu di awal hubungan.

Penelitian yang terbit pada 2025 terhadap 126 orang dalam hubungan dengan selisih usia sekitar tujuh hingga 10 tahun juga menemukan bahwa kepuasan hubungan merupakan faktor penting dalam hubungan age-gap. Dalam penelitian tersebut, kelompok perempuan yang lebih tua dengan pria lebih muda menunjukkan sejumlah hasil positif terkait kepuasan hubungan dan seksual. Namun, penelitian ini bersifat cross-sectional dengan jumlah sampel terbatas sehingga tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa hubungan dengan pria lebih muda pasti lebih memuaskan.

Dengan kata lain, selisih usia bukan vonis terhadap keberhasilan hubungan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana pasangan menghadapi konsekuensi dari perbedaan tersebut.

Jangan berharap pasangan akan berubah nanti

Salah satu jebakan dalam hubungan dengan pria lebih muda adalah berharap pasangan akan “mengejar kedewasaan” seiring waktu.

Seorang perempuan mungkin berpikir, “Sekarang dia 28 tahun, mungkin beberapa tahun lagi dia akan siap menikah.” Masalahnya, keputusan besar tidak sebaiknya dibuat berdasarkan versi pasangan yang belum ada. Yang perlu kita lihat adalah apakah pria tersebut saat ini memiliki nilai, tujuan, dan kesiapan yang cukup kompatibel.

Begitu pula perempuan tidak perlu merasa harus menjadi sosok yang lebih dominan hanya karena usianya lebih tua. Hubungan tetap membutuhkan pembagian peran, tanggung jawab, dan keputusan yang setara.

Perbedaan usia menjadi lebih mudah dikelola ketika pasangan tidak menghindari pembicaraan sulit.

Beberapa hal sebaiknya dibahas secara terbuka: apakah hubungan diarahkan menuju pernikahan, kapan masing-masing ingin menikah, apakah ingin memiliki anak, bagaimana rencana karier, kondisi keuangan, tempat tinggal, hingga kemungkinan merawat orang tua di masa depan.

Bagi perempuan, penting pula membedakan antara mencintai seseorang dan memiliki tujuan hidup yang kompatibel dengannya. Dan sayangnya keduanya tidak selalu datang bersamaan.

Hubungan dengan pria yang lebih muda dapat berjalan baik ketika pasangan tidak menjadikan usia sebagai pusat masalah. Yang perlu diperhatikan adalah apakah dua orang tersebut mampu menyatukan dua kehidupan yang mungkin sedang berada pada tahap berbeda.

Jadi, ingat ya, tantangan terbesar bukan menjawab apakah kita sebagai perempuan boleh mencintai pria yang lebih muda. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: apakah dia menginginkan masa depan yang sama di rentang waktu yang sama dengan kita?

Jika jawabannya iya, selisih usia mungkin hanya akan menjadi identitas kecil dalam hubungan. Jika jawabannya tidak, bahkan pria yang sebaya kita pun akan tetap membawa tantangan yang sama.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.