Kaspersky: AI Saja Tak Cukup, Keamanan Siber Tetap Butuh Keahlian Manusia
Kaspersky menilai AI saja tidak cukup menghadapi ancaman siber. SOC perlu menggabungkan otomatisasi AI dan keahlian manusia untuk mempercepat deteksi

Periskop.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI yang semakin masif mulai mengubah pola serangan sekaligus pertahanan siber. Kaspersky menilai organisasi tidak cukup hanya mengandalkan otomatisasi, melainkan perlu menggabungkan kemampuan AI dengan keahlian manusia untuk mempercepat deteksi dan menutup celah keamanan yang semakin sulit terlihat.
Kebutuhan tersebut semakin mendesak karena banyak serangan dapat bertahan lama tanpa terdeteksi. Laporan terbaru Kaspersky Compromise Assessment menemukan aktivitas berbahaya telah berlangsung lebih dari tiga bulan pada 31% insiden yang dianalisis. Bahkan, 52% kompromi dengan tingkat keparahan tinggi baru ditemukan setelah lebih dari 90 hari, sedangkan kasus terlama yang ditemukan sepanjang setahun terakhir tidak terdeteksi hingga empat tahun.
Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik Adrian Hia mengatakan, kecepatan perkembangan AI membuat pelaku kejahatan siber mampu bergerak lebih cepat, sementara organisasi masih menghadapi titik buta dalam sistem teknologi informasi (TI) maupun operational technology (OT).
“Seiring kecepatan dan konektivitas membentuk kembali lanskap perusahaan dan organisasi modern di kawasan ini, yang terutama didorong oleh AI dan aplikasinya, tim keamanan menghadapi titik buta yang semakin besar di seluruh lingkungan TI dan OT. Akibatnya, keamanan siber saat ini bukan lagi hanya perlombaan melawan waktu. Ini adalah perlombaan melawan ketidakjelasan,” kata Hia dalam keterangannya, Senin (10/8).
Setengah Juta File Berbahaya Terdeteksi Setiap Hari
Ancaman yang dihadapi organisasi juga terus bertambah dari sisi volume. Sistem deteksi Kaspersky menemukan rata-rata sekitar 500.000 file berbahaya setiap hari sepanjang 2025, naik 7% dibandingkan 2024. Secara global, deteksi password stealer meningkat 59%, spyware 51%, dan backdoor 6%. Untuk kawasan Asia Pasifik, deteksi password stealer bahkan melonjak 132%, sementara spyware meningkat 32%.
“Tahun lalu, kami mendeteksi dan memblokir setengah juta file berbahaya unik setiap hari, yang 7% lebih tinggi daripada tahun 2024. Serangan siber baru-baru ini di seluruh kawasan Asia Pasifik menunjukkan bahwa jurang pemisah antara dunia online dan fisik telah sepenuhnya hilang. Hanya beberapa minggu yang lalu, Nichirei Corp mengalami serangan siber yang mengganggu jaringan logistiknya. Sementara itu, sektor manufaktur India telah menjadi pusat perhatian Asia Pasifik untuk ransomware industri, dengan kelompok-kelompok yang secara konsisten melumpuhkan lantai pabrik dan layanan TI industri,” kata Hia.
AI kini juga digunakan bukan hanya untuk membantu membuat phishing atau konten penipuan, tetapi menjadi bagian dari rantai serangan yang lebih luas. Kaspersky mencatat lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak AI agen sejak awal 2026. Dari Januari hingga awal Mei 2026, perusahaan itu juga mendeteksi lebih dari 92.000 serangan malware dan aplikasi tidak diinginkan yang menyamar sebagai layanan AI populer.
“Agen AI memperkenalkan lapisan rantai pasokan baru—tahun ini saja, Kaspersky telah mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak AI agen. Karena agen secara dinamis bergantung pada kerangka kerja pihak ketiga, API, dan plugin, satu ketergantungan hulu yang dikompromikan dapat menyebar ke seluruh sistem hilir, secara dramatis memperluas permukaan untuk sabotase siber dan spionase siber. Karena ancaman menjadi asli AI dan pertahanan didukung AI, organisasi di kawasan ini harus melihat lebih dari sekadar cara bagaimana menghentikan serangan tetapi juga harus proaktif mengevaluasi apakah mereka benar-benar memiliki visibilitas mendalam terhadap sistem dan ekosistem bisnis mereka,” tambahnya.
Temuan itu menunjukkan persoalan keamanan tidak selesai hanya dengan membeli lebih banyak perangkat keamanan. Dalam Kaspersky Compromise Assessment, sekitar 60% insiden yang ditemukan sebelumnya luput karena perangkat yang digunakan organisasi tidak menghasilkan peringatan dengan tingkat keyakinan tinggi. Sebanyak 20% insiden justru ditemukan melalui pemeriksaan manual. Kaspersky juga menemukan 32% asesmen menunjukkan adanya masalah komunikasi internal yang berpotensi membuat ancaman terlewat.
AI Percepat SOC, Manusia Tetap Pegang Keputusan
Kaspersky melihat Pusat Operasi Keamanan atau Security Operations Center (SOC) menjadi semakin penting dalam kondisi tersebut. SOC berfungsi memantau sistem secara berkelanjutan, menganalisis aktivitas mencurigakan, dan mengoordinasikan respons ketika ancaman ditemukan.
Survei Kaspersky yang dirilis awal 2026 menunjukkan hampir seluruh organisasi yang berencana membangun SOC ingin melibatkan AI. Sebanyak 99% responden menyatakan akan memasukkan AI ke dalam operasi keamanan mereka. Namun, otomatisasi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga ahli yang mampu memberikan konteks, menafsirkan temuan, dan menentukan tindakan akhir.
Dari sisi teknologi, 48% perusahaan dalam survei Kaspersky memilih Threat Intelligence Platform sebagai salah satu komponen SOC, disusul Endpoint Detection and Response sebesar 42% dan Security Information and Event Management 40%. Sebanyak 54% responden juga menempatkan pemantauan keamanan 24 jam sebagai fungsi utama SOC.
Arah tersebut tidak hanya terlihat dalam riset Kaspersky. Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum (WEF) mencatat 94% responden memperkirakan AI menjadi pendorong perubahan terbesar dalam keamanan siber tahun ini. Namun, 54% organisasi masih menghadapi kekurangan pengetahuan atau keterampilan untuk menggunakan AI dalam keamanan siber dan 41% menilai pengawasan manusia tetap diperlukan.
Google Cloud juga mengambil pendekatan serupa dalam pengembangan agentic SOC. AI diarahkan untuk menangani pekerjaan berulang seperti pemeriksaan awal peringatan, korelasi data, dan penyusunan laporan, sedangkan analis manusia tetap menangani keputusan strategis, threat hunting, serta respons insiden yang kompleks.
Microsoft turut melihat AI mempercepat serangan. Pada April 2026, perusahaan tersebut melaporkan kampanye phishing berbantuan AI menghasilkan tingkat klik sekitar 54%, dibandingkan sekitar 12% pada kampanye tradisional yang diamatinya. Microsoft menilai AI membantu penyerang membuat pesan lebih presisi dan menyesuaikan umpan dengan profil calon korban.
Kaspersky Usung Konsep HuMachine Intelligence
Dalam menghadapi perubahan tersebut, Kaspersky mengusung konsep HuMachine Intelligence, yakni penggabungan big data, machine learning, dan kemampuan analisis manusia. Pendekatan tersebut telah digunakan perusahaan dalam pengembangan teknologi keamanan selama lebih dari dua dekade.
“AI bukanlah tambahan di Kaspersky. Selama 20 tahun terakhir, AI telah tertanam di seluruh lapisan teknologi kami, memungkinkan deteksi lebih cepat, otomatisasi lebih cerdas, dan perlindungan yang lebih konsisten. Kami selalu percaya bahwa seiring dengan terus berkembangnya ancaman siber, masa depan keamanan siber terletak pada kolaborasi antara AI dan keahlian manusia. Ini bukan hal terpisah - ini adalah Kecerdasan Manusia-Mesin, seperti yang kami sebut. Ini adalah filosofi yang telah memandu inovasi kami selama bertahun-tahun dan akan terus membentuk cara kami melindungi organisasi dari ancaman di masa depan,” jelas Hia.
Menurut Kaspersky, penggunaan AI dalam SOC dapat mempercepat pengolahan data dan membantu analis memprioritaskan ancaman. Namun, organisasi tetap membutuhkan tenaga manusia untuk memahami konteks bisnis, mengevaluasi temuan yang tidak pasti, mengambil keputusan kritis, serta memastikan respons tidak hanya cepat tetapi juga tepat.
Dengan serangan yang semakin cepat dan permukaan ancaman yang bertambah akibat penggunaan AI, tantangan utama organisasi kini bukan sekadar memiliki perangkat keamanan. Visibilitas menyeluruh terhadap sistem, pemantauan berkelanjutan, kesiapan respons, dan kombinasi antara otomatisasi AI dengan penilaian manusia menjadi faktor penting untuk mencegah ancaman bertahan terlalu lama tanpa terdeteksi. Tren yang sama juga tercermin dalam proyeksi Google Cloud untuk 2026, yang memperkirakan AI akan digunakan secara bersamaan oleh penyerang untuk meningkatkan skala serangan dan oleh pembela untuk memperkuat kemampuan analis.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai keamanan siber, Artificial Intelligence, ancaman siber, dan kaspersky dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.