periskop.id – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menegaskan keamanan siber merupakan aspek krusial untuk menjaga kepercayaan investor di sektor keuangan.
Langkah itu menjadi prioritas seiring pesatnya inovasi teknologi dalam industri keuangan saat ini.
“Kalau dalam situasi seperti ini di mana produk keuangan sudah begitu bervariasi, dari penggunaan e-banking, penggunaan dari produk-produk non-financial institution seperti kripto, kemudian Bitcoin, kemudian fintech, itu begitu luas maka harus diperkuat yang namanya sistem keamanan siber,” ujarnya di Jakarta, Kamis (23/4) dikutip dari Antara.
Dia berpendapat, kebutuhan sistem keamanan siber yang mumpuni menjadi mutlak bagi industri keuangan. Inovasi teknologi memicu lahirnya berbagai instrumen keuangan baru yang memerlukan perlindungan ekstra.
Anggito menyebut keamanan siber dan keamanan teknologi informasi merupakan syarat utama untuk mendorong pendalaman sektor keuangan. Tanpa sistem yang aman, kepercayaan investor sulit untuk dipertahankan.
LPS terus membangun sinergi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), hingga Kementerian Keuangan. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengevaluasi aspek keamanan siber secara berkala.
Pihaknya secara aktif memantau kondisi teknologi informasi setiap bank. LPS akan memberikan teguran dan arahan perbaikan bagi bank yang sistem keamanannya dinilai belum optimal.
“Kami juga memonitor bank-bank itu masing-masing kalau ada yang kurang baik lalu kami ingatkan supaya meng-improve (sistem siber dan teknologi informasi mereka),” katanya.
Selain keamanan siber, penguatan kebijakan fiskal juga menjadi instrumen penting guna memelihara kepercayaan investor. Stabilitas ekonomi nasional menjadi fondasi utama iklim investasi.
Kementerian Keuangan berkomitmen menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Target defisit dipatok tidak melebihi tiga persen hingga akhir tahun.
Pemerintah juga terus mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor riil untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Langkah ini diharapkan mampu memaksimalkan potensi ekspansi berbagai sektor usaha.
“Kemarin Bank Indonesia juga mengumumkan cukup banyak sektor yang masih punya kesempatan untuk ekspansi,” ucap Anggito.
Bank Indonesia mencatat kredit perbankan tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026. Angka tersebut naik dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37 persen yoy.
Peningkatan kredit didukung berbagai sektor, yakni kredit investasi tumbuh 20,85 persen yoy, kredit modal kerja 4,38 persen yoy, dan kredit konsumsi 5,88 persen yoy.
Gubernur BI Perry Warjiyo menilai minat penyaluran kredit perbankan tetap baik. Hal ini tercermin dari persyaratan pemberian kredit yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat risiko kredit yang masih tinggi.
Tinggalkan Komentar
Komentar