periskop.id – Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun menilai peristiwa longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), bukan sekadar dampak alih fungsi lahan semata, melainkan hasil interaksi kompleks faktor alamiah dan aktivitas manusia yang memicu mekanisme aliran lumpur (mudflow) dari hulu.
“Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” kata Dr. Imam sebagaimana dikutip dari website ITB, Kamis (29/1).
Imam membedah karakteristik geologis wilayah KBB. Daerah ini didominasi produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan tanah yang relatif tebal secara alamiah.
Batas antara tanah pelapukan dan batuan dasar yang kedap air kerap menjadi bidang gelincir. Kondisi ini diperparah oleh hujan durasi panjang yang membuat tanah jenuh air.
Durasi dan intensitas hujan menjadi faktor kunci. Hujan intensitas sedang yang berlangsung lama bisa sama berbahayanya dengan hujan lebat berdurasi singkat.
Temuan penting lainnya adalah indikasi longsoran di hulu sungai lereng selatan Gunung Burangrang. Material longsoran ini menutup alur sungai dan membentuk bendungan alam (landslide dam).
Bendungan alam ini menahan aliran air sementara waktu. Namun, saat tak lagi mampu menahan tekanan volume air, bendungan jebol dan memuntahkan aliran lumpur ke arah hilir.
“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” ujarnya.
Aliran lumpur ini memiliki daya rusak jauh lebih tinggi dibanding air biasa. Materialnya mengandung bongkahan batu dan kayu yang bergerak cepat menyapu bantaran sungai.
Fenomena ini lebih tepat disebut aliran lumpur (mudflow) atau bahkan aliran debris (debris flow). Hal ini menjelaskan mengapa kerusakan parah terjadi di sepanjang jalur sungai meski jauh dari sumber longsoran.
Imam memperingatkan potensi bahaya susulan. Masih ditemukan indikasi sumbatan-sumbatan lain di bagian hulu sungai yang bisa jebol sewaktu-waktu jika hujan deras kembali turun.
Masyarakat yang tinggal di sempadan sungai diminta waspada tinggi. Bahaya tidak selalu datang dari lereng tempat rumah berdiri, tapi bisa dari kiriman sistem aliran hulu yang terhubung lereng terjal.
“Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah tersebut berada, tetapi bisa datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya,” katanya.
Vegetasi memegang peran vital dalam stabilitas lereng. Akar tanaman meningkatkan kohesivitas tanah secara mekanik dan memperlambat kejenuhan air tanah secara hidrologis.
Imam menyarankan tiga pendekatan mitigasi berbasis sains. Pertama, stabilisasi lereng hulu yang berpotensi longsor. Kedua, pemantauan jalur aliran menggunakan sensor getaran atau kamera.
Ketiga, pembangunan struktur pelindung di hilir. Contohnya tanggul pengelak, pagar pemecah aliran, atau cekungan penampung material.
“Yang paling merusak itu bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran. Karena itu, sistem mitigasi perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi non-struktural, masyarakat perlu peka tanda alam. Salah satu indikator bahaya adalah surutnya air sungai secara tiba-tiba saat hujan lebat, yang menandakan adanya sumbatan di hulu.
“Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut saat hujan lebat, masyarakat harus waspada dan segera menjauh dari alur sungai,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar