Mediokrasi Adalah Kekuasaan Serba Rata-Rata: Arti, Ciri, dan Bedanya dengan Meritokrasi
Mediokrasi adalah keadaan saat posisi penting diisi orang berkemampuan rata-rata. Istilah ini ramai dipakai setiap Agustus, dan penyebabnya bisa dilacak.

Periskop.id - Mediokrasi adalah keadaan saat posisi penting dalam organisasi atau pemerintahan diisi oleh orang berkemampuan rata-rata. Standar kerja diturunkan sampai ke titik yang nyaman untuk semua orang, lalu titik itu diperlakukan sebagai normal.
Istilah ini muncul berulang setiap kali mutu kepemimpinan dibicarakan. Agustus biasanya menjadi puncaknya, karena peringatan kemerdekaan mendorong banyak orang menimbang ulang capaian bangsa.
Mediokrasi jarang datang lewat satu keputusan besar. Ia tumbuh dari rangkaian kompromi kecil yang masing-masing terdengar masuk akal saat diambil.
Mediokrasi Adalah Kondisi saat Standar Ikut Turun
Mediokrasi adalah sistem yang membiarkan orang dengan kemampuan sedang menduduki posisi yang menuntut kemampuan tinggi.
Yang jatuh dalam sistem ini bukan cuma kualitas orangnya. Ukuran keberhasilannya ikut diturunkan supaya hasil yang biasa saja tetap terlihat pantas dirayakan.
Efeknya berlapis. Orang yang mampu kehilangan alasan untuk bertahan, lalu keluar. Kursi yang mereka tinggalkan diisi orang yang lebih nyaman dengan standar rendah, dan siklusnya berulang.
Asal Kata Mediokrasi
Istilah ini menggabungkan dua akar bahasa. Mediocris dari bahasa Latin berarti sedang, biasa, atau setengah jalan. Kratos dari bahasa Yunani berarti kekuasaan.
Padanan Inggrisnya adalah mediocracy, yang diartikan sebagai pemerintahan oleh orang-orang biasa saja.
Dua kata lain sering tertukar dengannya. Mediokritas menunjuk pada sifat atau mutunya, sedangkan mediokrasi menunjuk pada sistem yang menormalkan sifat itu. Mediakrasi berbeda lagi, karena istilah itu membahas dominasi media dalam politik.
Ciri Mediokrasi dalam Organisasi
Gejalanya biasanya terbaca lebih dulu di hal-hal kecil.
Loyalitas dinilai lebih tinggi dari kemampuan. Orang yang setia dan mudah diatur naik lebih cepat dibanding orang yang berprestasi tetapi banyak bertanya.
Rapat lebih ramai dari hasil. Proses berjalan rapi di atas kertas, sementara keluarannya tidak berubah dari tahun ke tahun.
Kritik dibaca sebagai gangguan. Masukan yang menunjuk kelemahan diterima sebagai serangan pribadi, sehingga orang berhenti menyampaikannya.
Prestasi luar biasa terasa canggung. Hasil yang jauh di atas rata-rata membuat pengukurnya repot, jadi lebih aman untuk tidak menonjol.
Kegagalan tidak berbiaya. Target yang meleset diselesaikan lewat penjelasan, tanpa perubahan pada orang atau caranya.
Kenapa Mediokrasi Bisa Tumbuh
Penyebab paling sering adalah rasa aman. Pemimpin yang khawatir posisinya tergeser cenderung memilih bawahan yang tidak mengancam, dan pilihan itu menurunkan mutu satu tingkat setiap kali diulang.
Penyebab kedua adalah ukuran yang salah. Ketika penilaian bersandar pada kehadiran, masa kerja, atau kepatuhan administratif, orang akan mengejar hal-hal itu dan mengabaikan sisanya.
Penyebab ketiga adalah biaya sosial dari kejujuran. Di lingkungan yang menghindari konflik, memberi nilai apa adanya dianggap tidak sopan, sehingga semua orang menerima nilai baik dan tidak ada yang tahu posisi sebenarnya.
Beda Mediokrasi dengan Meritokrasi
Keduanya berurusan dengan cara mengisi posisi. Arah kerjanya berlawanan.
| Aspek | Meritokrasi | Mediokrasi |
|---|---|---|
| Dasar pemilihan | Prestasi, kompetensi, dan kinerja yang teruji | Kenyamanan, kepatuhan, dan kedekatan |
| Perlakuan pada standar | Dipertahankan dan dinaikkan bertahap | Diturunkan agar hasil biasa tetap lolos |
| Sikap terhadap kritik | Dipakai sebagai bahan perbaikan | Dianggap gangguan yang perlu diredam |
| Nasib orang berprestasi | Naik dan dipertahankan | Terpinggir lalu pergi |
| Arah mutu jangka panjang | Menanjak | Menurun perlahan tanpa terasa |
Mediokrasi sering muncul justru di tempat yang mengaku memakai meritokrasi. Prosedurnya lengkap, dokumennya rapi, sementara keputusan sebenarnya sudah diambil sebelum seleksi dimulai.
Cara Keluar dari Mediokrasi
Langkah pertama adalah mengembalikan ukuran. Kriteria penilaian ditulis lebih dulu, diumumkan, dan dipakai apa adanya sampai proses selesai.
Langkah kedua adalah memberi biaya pada kegagalan. Target yang meleset harus berujung pada perubahan nyata, entah pada orangnya atau pada caranya.
Langkah ketiga adalah melindungi orang yang bicara. Selama menyampaikan masalah masih berisiko bagi kariernya, informasi buruk akan berhenti di bawah dan tidak pernah sampai ke atas.
Ketiganya terdengar sederhana. Yang membuatnya sulit adalah semua orang di dalam sistem yang sedang berjalan sudah terbiasa nyaman.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.