Meritokrasi Adalah Sistem Berbasis Prestasi: Arti, Prinsip, Contoh, dan Kelemahannya
Meritokrasi adalah sistem yang menempatkan orang berdasarkan prestasi dan kompetensi yang teruji. Istilahnya lahir dari novel satire 1958 yang justru meramalkan keruntuhannya.

Periskop.id - Meritokrasi adalah sistem yang menentukan posisi seseorang berdasarkan prestasi, kompetensi, dan kinerja yang bisa diukur. Jabatan, kursi sekolah, dan kesempatan kerja diberikan kepada orang yang paling memenuhi syarat.
Kata ini hampir selalu dipakai sebagai pujian. Orang yang pertama kali menuliskannya justru memakainya sebagai peringatan.
Michael Young memperkenalkan istilah meritocracy pada 1958 lewat sebuah novel tentang masyarakat masa depan yang berantakan. Empat dekade kemudian ia menulis bahwa ia menyesal melihat kata ciptaannya dipakai tanpa satu pun nada kritik.
Meritokrasi Adalah Sistem yang Menilai Orang dari Prestasi
Meritokrasi adalah sistem sosial dan politik yang membagi kekuasaan, jabatan, dan penghargaan berdasarkan kemampuan serta pencapaian individu.
Dasarnya ada tiga: kualifikasi yang dimiliki, kompetensi yang diuji, dan kinerja yang tercatat. Ketiganya harus bisa diperiksa ulang oleh orang lain.
Secara bahasa, istilah ini menggabungkan dua akar. Meritum dari bahasa Latin berarti jasa atau kelayakan, sedangkan kratos dari bahasa Yunani berarti kekuasaan. Digabung, artinya kekuasaan yang dipegang oleh mereka yang layak.
Sistem ini berdiri sebagai jawaban atas pola lama yang mengisi jabatan lewat garis keturunan, kekayaan, kedekatan politik, atau hubungan kekerabatan.
Asal Usul Istilah dan Nada Satire di Baliknya
Sosiolog Inggris Michael Young menerbitkan The Rise of the Meritocracy 1870-2033 pada 1958. Buku itu ditulis sebagai laporan fiktif dari masa depan, dengan tahun 2034 sebagai titik ceritanya.
Dalam cerita itu, Inggris menyaring warganya dengan rumus sederhana. Kecerdasan ditambah usaha sama dengan merit.
Hasilnya adalah kelas atas baru yang merasa berhak atas posisinya, dan kelas bawah yang kehilangan alasan untuk membela diri. Novel itu berakhir dengan pemberontakan.
Kata meritocracy sebenarnya sudah muncul lebih dulu di tulisan sosiolog Alan Fox pada 1956, juga dengan nada mencela. Young yang membuatnya dikenal luas.
Pada 2001, melansir The Guardian, Young menulis bahwa ia kecewa kata itu diserap publik tanpa sisi gelapnya. Ia memisahkan dua hal yang sering dianggap satu. Menempatkan orang pada pekerjaan sesuai kelayakannya adalah akal sehat. Membiarkan mereka yang dinilai layak mengeras menjadi kelas sosial baru yang tertutup adalah kebalikannya.
Prinsip Dasar Meritokrasi
Sistem ini berdiri di atas empat prinsip yang saling mengunci. Satu prinsip yang lepas membuat tiga sisanya ikut kehilangan arti.
Kesempatan yang terbuka. Semua orang boleh melamar posisi yang sama. Pintu masuknya tidak disaring lebih dulu oleh latar belakang pelamar.
Ukuran yang jelas. Penilaian memakai kriteria yang diumumkan di depan dan berlaku sama untuk seluruh pelamar.
Proses yang bisa diperiksa. Hasil seleksi bisa ditelusuri kembali, termasuk oleh pihak yang kalah.
Kinerja yang terus dinilai. Posisi yang sudah diraih tetap bergantung pada hasil kerja, sehingga jabatan berhenti menjadi milik permanen.
Contoh Meritokrasi dalam Praktik
Bentuk penerapannya berbeda antara satu tempat dan tempat lain. Lima contoh berikut yang paling sering dijadikan rujukan.
| Contoh | Bentuk penerapan | Catatan |
|---|---|---|
| Ujian kekaisaran Tiongkok | Seleksi pejabat negara lewat ujian tertulis yang terbuka untuk umum | Diformalkan pada masa Dinasti Sui (581-618 M) dan dihapus pada 1905 |
| Singapura | Beasiswa negara dan jalur karier birokrasi yang bersandar pada hasil akademik dan uji kompetensi | Dipakai sebagai salah satu prinsip dasar bernegara sejak awal kemerdekaannya |
| Seleksi ASN di Indonesia | Tes berbasis komputer dengan ambang nilai yang diumumkan sebelum ujian | Nilai peserta bisa dipantau secara langsung selama ujian berjalan |
| Rekrutmen perusahaan | Tes kemampuan, wawancara terstruktur, dan masa percobaan | Bobot penilaiannya ditentukan sendiri oleh masing-masing perusahaan |
| Seleksi beasiswa | Kombinasi nilai akademik, portofolio, dan wawancara | Sebagian program menambah kuota afirmasi untuk menyeimbangkan garis start |
Meritokrasi dalam Aturan Indonesia
Indonesia menyebut prinsip ini secara langsung di dalam undang-undang, memakai kata yang sama.
Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) menyatakan bahwa sistem merit adalah penyelenggaraan sistem Manajemen ASN sesuai dengan prinsip meritokrasi.
Rumusan itu memendekkan definisi lama di Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014. Versi lamanya merinci kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar, tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan.
Aturan turunannya yang mengatur cara mengukur. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) Nomor 19 Tahun 2025 memecah penerapan sistem merit menjadi delapan aspek: perencanaan kebutuhan dan standardisasi jabatan, manajemen talenta, pengelolaan kinerja, pengembangan kompetensi, penguatan budaya kerja dan citra institusi, penghargaan dan pengakuan, disiplin beserta pemberhentian dan upaya administratif, serta digitalisasi manajemen ASN.
Setiap aspek diperiksa lewat tiga dimensi, yaitu ketersediaan, kualitas, dan pemanfaatan. Hasilnya dirangkum menjadi Indeks Sistem Merit dengan lima predikat, mulai dari dasar sampai maju.
Pengawasannya sendiri berpindah tangan. Setelah Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) berakhir, tugas dan fungsinya dipindahkan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) lewat Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2024.
Rincian delapan aspek penilaian beserta tiga tingkat pengukurannya dibahas terpisah di ulasan sistem merit dalam pengelolaan ASN.
Kelemahan Meritokrasi
Kritik terhadap sistem ini menyasar empat titik yang berbeda.
Garis start yang tidak sama. Merit diukur dari hasil, sementara hasil dipengaruhi modal awal berupa gizi, mutu sekolah, akses bimbingan belajar, dan jaringan keluarga. Kompetisi yang tampak adil di permukaan bisa menyalin ulang ketimpangan yang sudah ada sebelumnya.
Yang mudah diukur menggeser yang penting. Sistem cenderung menghargai apa saja yang bisa diangkakan. Ujian kekaisaran Tiongkok berakhir dengan pejabat yang mahir menghafal naskah klasik, sementara ilmu terapan dan teknik tertinggal jauh.
Rasa berhak di atas dan rasa malu di bawah. Filsuf Michael Sandel menyoroti dua efek samping ini lewat The Tyranny of Merit pada 2020. Pemenang mulai percaya posisinya murni hasil usaha sendiri, sedangkan yang kalah diminta menerima kegagalannya sebagai kesalahan pribadi.
Merit yang mengeras jadi keturunan. Ini kekhawatiran asli Michael Young. Kelas yang menang di satu generasi memakai kemenangannya untuk memastikan anaknya menang di generasi berikutnya, dan pintu yang tadinya terbuka pelan-pelan menutup.
Beda Meritokrasi dengan Teknokrasi, Aristokrasi, dan Mediokrasi
Beberapa istilah bersaudara sering tertukar karena sama-sama berakhiran -krasi. Pembedanya ada di dasar yang dipakai untuk memilih orang.
| Sistem | Dasar pemilihan | Yang memegang kendali |
|---|---|---|
| Meritokrasi | Prestasi, kompetensi, dan kinerja yang teruji | Orang yang paling memenuhi syarat |
| Teknokrasi | Keahlian teknis di bidang tertentu | Ahli, insinyur, dan ilmuwan |
| Aristokrasi | Garis keturunan dan status kebangsawanan | Keluarga bangsawan |
| Plutokrasi | Jumlah harta yang dimiliki | Kelompok paling kaya |
| Mediokrasi | Standar yang diturunkan demi kompromi dan kenyamanan | Orang berkemampuan rata-rata |
| Oklokrasi | Tekanan massa yang sedang paling ramai | Kerumunan |
Teknokrasi paling sering disamakan dengan meritokrasi, padahal cakupannya lebih sempit. Penjelasan lengkap soal perbedaannya ada di ulasan arti teknokrasi dan sejarahnya.
Arah sebaliknya ada di mediokrasi, yaitu keadaan saat standar justru diturunkan sampai hasil yang biasa saja terlihat pantas.
Meritokrasi sebagai Ukuran yang Perlu Diawasi
Meritokrasi bekerja selama tiga hal dijaga: kriterianya diumumkan lebih dulu, prosesnya bisa diperiksa, dan garis startnya terus dibenahi.
Begitu satu di antaranya dilepas, sistem yang sama bisa berubah menjadi alat untuk membenarkan hasil yang sudah ditentukan sejak awal. Itulah alasan Michael Young menulis novelnya dengan nada peringatan sejak halaman pertama.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.