iklan periskop
Bisnis

KFC Indonesia Bukukan Pendapatan Rp2,79 Triliun di Semester I 2026

KFC Indonesia catat kenaikan pendapatan 16,09% di semester I 2026, meski sempat tertekan kenaikan harga bahan baku pada kuartal kedua.

1 minggu yang lalu · 2 mnt baca
KFC Indonesia Bukukan Pendapatan Rp2,79 Triliun di Semester I 2026
Salah satu gerai KFC. Foto: KFC.dok
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang lisensi KFC Indonesia, membukukan pendapatan Rp2,79 triliun pada semester I 2026. Angka ini naik 16,09% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan positif sempat terjadi pada kuartal I 2026. Namun pada kuartal II, perseroan menghadapi tantangan akibat kenaikan harga bahan baku.

Direktur PT Fast Food Indonesia Tbk Dio May Avico menjelaskan, perspektif konsumen tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan bisnis. Menurutnya, keterjangkauan harga bagi konsumen tetap dijaga di tengah kondisi pasar yang dinamis.

"Perseroan akan terus menerapkan pendekatan yang terukur dan responsif dalam menghadapi perubahan kondisi pasar, dengan memastikan setiap keputusan bisnis tetap berorientasi pada konsumen sekaligus mendukung keberlanjutan kinerja perseroan," kata Dio dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8).

Komitmen menjaga nilai yang relevan bagi konsumen turut memengaruhi margin laba bruto perseroan. Pada semester I 2026, margin laba bruto tercatat 55,81%, mengalami penyesuaian dibandingkan periode sebelumnya.

Dio menerangkan, perseroan terus memperkuat pengendalian biaya, mengoptimalkan rantai pasok, dan meningkatkan efisiensi operasional di seluruh jaringan restoran. Langkah-langkah tersebut disebut membawa perbaikan pada kinerja operasional perseroan.

Rugi usaha berhasil ditekan hingga 77,35%, dari Rp143,18 miliar menjadi Rp32,42 miliar. Penekanan rugi usaha ini menjadi salah satu indikator perbaikan kinerja operasional perseroan.

Selain rugi usaha, rugi periode berjalan juga berkurang 57,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total rugi komprehensif perseroan pun menurun hingga 79,65%.

Perbaikan pada sejumlah indikator keuangan ini terjadi di tengah tekanan biaya bahan baku yang sempat menghambat kinerja perseroan pada kuartal II 2026. Efisiensi di berbagai lini operasional dinilai berperan besar dalam menahan pelebaran kerugian.

"Perkembangan ini menunjukkan berbagai program efisiensi dan transformasi yang dijalankan perseroan mulai memberikan dampak positif terhadap kinerja operasional," pungkas Dio.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai restoran, F&B, dan Kinerja Keuangan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.