periskop.id - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar melaporkan perekonomian global pada awal tahun 2026 menunjukkan perbaikan moderat. Meski diakui, pertumbuhan masih cenderung melambat dan berada di bawah tren pra pandemi.
Mahendra menyampaikan aktivitas manufaktur dunia masih berada di zona ekspansi, namun laju pertumbuhannya mulai menurun. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara maju yang jadi tantangan pertumbuhan global.
“Lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan global pada 2026 masih akan melandai,” ungkap Mahendra dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Desember 2025 secara daring, Jumat (9/1).
Di Amerika Serikat (AS), Mahendra mencatat perekonomian tetap tumbuh solid. Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2025 meningkat 4,3%, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar.
Menurutnya, pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan moderasi, sementara inflasi turun menjadi 2,7% dan inflasi inti 2,6 %, mencerminkan arah pengetatan harga yang lebih terkendali.
Sementara itu, di China perlambatan ekonomi masih berlanjut. Konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih, sektor manufaktur kembali ke zona kontraksi, dan tekanan di sektor properti masih menjadi hambatan signifikan bagi pertumbuhan.
"Kondisi ini sejalan dengan proyeksi lembaga internasional yang memperkirakan pertumbuhan China tetap lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya," sambungnya.
Dinamika tersebut mendorong bank‑bank sentral besar dunia mengambil langkah kebijakan moneter berbeda. Federal Reserve AS dan Bank of England telah memangkas suku bunga acuan untuk merangsang pertumbuhan, sementara Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir karena tekanan inflasi yang lebih persisten.
Perbedaan arah kebijakan ini turut memengaruhi sentimen pasar global. Secara umum, pasar saham dunia menguatsetelah pemangkasan suku bunga, meski ada kekhawatiran akan potensi gelembung (bubble) di sektor teknologi.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang menyebabkan tekanan pada pasar obligasi global, terutama setelah praktik carry trade yang sempat menopang pasar obligasi mulai berakhir.
Pelaku pasar juga semakin mencermati perkembangan geopolitik, termasuk situasi di Venezuela, yang dikhawatirkan bisa berdampak pada stabilitas politik serta dinamika pasar energi dan keuangan internasional.
Di tengah tekanan eksternal ini, data domestik menunjukkan ekonomi Indonesia relatif tahan banting. Inflasi inti meningkat, sektor manufaktur masih ekspansif, dan neraca perdagangan mencatat surplus, menggambarkan daya tahan perekonomian nasional di tengah tantangan global.
Dengan skenario global seperti tersebut, Mahendra meyakini perekonomian dunia bergerak dalam kondisi yang kompleks pertumbuhan moderat, kebijakan moneter yang berbeda arah, serta risiko geopolitik dan tekanan fiskal yang terus diwaspadai pelaku pasar.
Tinggalkan Komentar
Komentar