iklan periskop
Ekonomi

Mendag Optimistis Ekspor Nonmigas Mampu Jaga Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kemendag mencatat kinerja ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$ 24,39 miliar pada Juni 2026 untuk menekan defisit akibat lonjakan harga minyak dunia.

3 jam yang lalu · 3 mnt baca
Mendag Optimistis Ekspor Nonmigas Mampu Jaga Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Menteri Perdagangan Budi Santoso. (Dok. Kemendag)
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Menteri Perdagangan Budi Santoso optimistis lonjakan kinerja ekspor nonmigas mampu menjaga ketahanan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Langkah tersebut ditempuh melalui komitmen kerja optimal serta penguatan sinergi bersama berbagai pihak.

Menurutnya, lonjakan pengiriman barang nonmigas tersebut menjadi tumpuan utama pemerintah dalam menstabilkan neraca perdagangan. Ia menilai kolaborasi lintas sektor efektif mengakselerasi penetrasi produk lokal ke pasar global.

"Defisit pada Juni 2026 sebesar US$ 0,45 miliar menunjukkan penurunan dibanding defisit Mei 2026. Artinya, neraca perdagangan kita mulai membaik seiring dengan peningkatan ekspor. Kemendag akan terus mendorong peningkatan ekspor, termasuk melalui perluasan pasar ekspor dan pencetakan eksportir baru untuk menjaga surplus," kata Mendag Budi Santoso di Jakarta, Selasa (11/8).

Ia memaparkan, nilai pengiriman barang nonmigas pada Juni 2026 berhasil menyentuh angka US$ 24,39 miliar. Capaian ini tercatat tumbuh 8,68% bila dibandingkan dengan hasil Mei 2026 yang senilai US$ 22,45 miliar.

Surplus sektor nonmigas sebesar US$ 3,04 miliar pada Juni 2026 juga dinilai mampu menekan defisit total neraca perdagangan. Kondisi ini membaik signifikan dibanding Mei 2026 yang sempat membukukan defisit hingga US$ 1,61 miliar.

Secara keseluruhan, volume pengiriman barang ke luar negeri pada Juni 2026 menembus 56,52 juta ton atau naik 3,31%. Kenaikan ini sejalan dengan total nilai ekspor nasional yang merangkak naik 9,72% menjadi US$ 25,46 miliar.

Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juni 2026, total nilai pengiriman barang Indonesia menembus US$ 140,81 miliar. Angka tersebut tumbuh 4,13% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Ekspor kita pada Januari—Juni 2026 tumbuh 4,13% dan secara kumulatif kita masih surplus sebesar US$ 3,58 miliar," ungkap Mendag Budi Santoso.

Ia menjelaskan, surplus akumulatif tersebut disokong oleh performa sektor nonmigas yang membukukan surplus US$ 19,35 miliar. Namun, perdagangan sektor migas masih mengalami tekanan hingga mencatatkan defisit sebesar US$ 15,77 miliar.

Defisit pada sektor migas tersebut dinilai akibat gejolak eskalasi konflik di wilayah Selat Hormuz. Budi menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak mentah internasional berfluktuasi tajam sejak Maret 2026 dan sempat melampaui US$ 100 per barel.

Lonjakan harga energi global ini disebut memicu pembengkakan nilai satuan impor nasional secara signifikan. Nilai satuan impor migas melonjak dari US$ 689 per ton pada Maret 2026 menjadi US$ 1.042 per ton pada Mei 2026.

Dampak kenaikan tersebut dilaporkan ikut menjalar pada perhitungan nilai satuan impor sektor nonmigas. Secara keseluruhan, nilai impor per ton Indonesia bergerak naik 14,24% dari US$ 907 per ton menjadi US$ 1.036 per ton.

"April-Mei merupakan periode puncak tingginya harga minyak dunia, mencapai sekitar US$ 110 per barel. Dengan situasi ini, nilai satuan impor per ton pada Mei mengalami peningkatan dan masih berlanjut hingga Juni. Jika kita bandingkan nilai satuan impor per ton pada Maret dengan Juni, kenaikannya mencapai 14,24%. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab nilai impor kita menjadi lebih tinggi," kata Mendag Budi Santoso.

Guna mengatasi tantangan tersebut, Kemendag terus mengoptimalkan 25 perjanjian perdagangan internasional yang telah berlaku secara efektif. Saat ini, pemerintah juga sedang meratifikasi 2 perjanjian baru serta merundingkan 13 kesepakatan dagang lainnya.

Penguatan akses pasar ekspor, termasuk bagi pelaku UMKM, terus didorong melalui 46 perwakilan perdagangan di 33 negara. Selain itu, otomatisasi sistem e-SKA terus diperluas ke berbagai negara mitra seperti Uni Emirat Arab, Tiongkok, hingga Australia.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Budi Santoso, Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan ekspor dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.