Hiburan

Siapa Yayoi Kusama? Seniman Jepang di Balik Polkadot dan Infinity Mirror

Mengenal Yayoi Kusama, seniman Jepang yang dikenal lewat motif polkadot, Infinity Mirror Room, serta karya tentang cinta, kehidupan, kematian, dan ketakterbatasan.

2 jam yang lalu · 3 mnt baca
Siapa Yayoi Kusama? Seniman Jepang di Balik Polkadot dan Infinity Mirror
Salah satu instalasi karya Yayoi Kusama. Foto: yayoi-kusama.jp
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Yayoi Kusama merupakan salah satu seniman avant-garde Jepang yang dikenal luas melalui penggunaan motif polkadot, jaring, serta karya instalasi yang mengeksplorasi gagasan tentang ketakterbatasan, kehidupan, dan kematian.

Yayoi Kusama. Foto: yayoi-kusama.jp

Lahir pada 1929, Kusama telah mengalami penglihatan dan halusinasi sejak masa kanak-kanak. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan karya seninya. Sejak kecil, ia mulai menggambar menggunakan motif titik-titik dan jaring, sekaligus mengembangkan gaya ekspresi yang khas melalui cat air, pastel, dan cat minyak.

Pada 1957, Kusama pergi ke Amerika Serikat. Setahun kemudian, ia mulai menetap dan berkarya di New York. Di kota tersebut, ia memperkenalkan berbagai karya inovatif, mulai dari net painting, soft sculpture, hingga instalasi yang memanfaatkan cermin dan lampu.

Kusama kemudian mengembangkan filosofi artistik yang berangkat dari pengulangan dan proliferasi satu motif secara intens. Pengulangan tersebut menjadi cara untuk menggambarkan gagasan tentang hilangnya diri atau self-obliteration dalam ruang yang tidak terbatas.

Tak hanya melalui lukisan dan patung, eksplorasi artistiknya juga merambah berbagai bidang. Kusama membuat body painting, menggelar peragaan busana, mengadakan happening yang antara lain berkaitan dengan gerakan antiperang, memproduksi film, hingga menerbitkan surat kabar.

Beragam aktivitas tersebut memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh penting dalam gerakan seni avant-garde.

Pada 1973, Kusama kembali ke Jepang. Setelah kepulangannya, ia tidak hanya melanjutkan aktivitas seni rupa, tetapi juga mulai serius menulis puisi dan novel.

Ia kemudian menghasilkan berbagai karya, termasuk patung luar ruang, instalasi berukuran besar, serta seri Infinity Mirror Room yang menjadi salah satu karya paling dikenal dalam perjalanan kariernya.

Dalam bidang seni lukis, Kusama mengerjakan seri My Eternal Soul atau My Eternal Soul (Watashi no eien no tamashii) pada 2009–2021. Seri tersebut mencakup sekitar 900 karya.

Pada 2021, ia juga mulai mengerjakan seri lukisan baru bertajuk Every Day I Pray for Love. Melalui berbagai karya tersebut, Kusama terus mengeksplorasi tema alam, cinta, kehidupan, kematian, serta gagasan tentang sesuatu yang tak terbatas.

Dedikasinya terhadap dunia seni terus berlangsung selama puluhan tahun. Pada 2017, Yayoi Kusama Museum resmi dibuka di Tokyo sebagai ruang yang didedikasikan untuk memperkenalkan karya dan perjalanan artistiknya.

Deretan Penghargaan Yayoi Kusama

Sepanjang kariernya, Yayoi Kusama menerima berbagai penghargaan dan tanda kehormatan, baik di Jepang maupun internasional.

Pada 1968, film Kusama's Self-Obliteration yang dibuat pada 1967 meraih sejumlah penghargaan, antara lain penghargaan pada International Short Film Festival di Belgia, Silver Award dari Ann Arbor Film Festival, serta penghargaan pada Maryland Film Festival.

Pada 1983, Kusama menerima penghargaan pendatang baru dari majalah Yasei Jidai untuk novel Christopher's Cock.

Pengakuan di bidang seni rupa terus diterimanya. Pada 1996, ia memperoleh Best Gallery Award dari International Association of Art Critics untuk periode 1995/1996 dan kembali meraihnya untuk periode 1996/1997.

Pada 2000, Kusama menerima Art Encouragement Prize dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang serta penghargaan dari Menteri Luar Negeri Jepang. Setahun kemudian, ia menerima Asahi Prize.

Pada 2002, Kusama dianugerahi Konju Hōshō atau Medal with Purple Ribbon. Penghargaan internasional juga menyusul pada 2003 ketika ia menerima gelar Officier dari Ordre des Arts et des Lettres Prancis. Pada tahun yang sama, ia juga mendapat penghargaan dari Gubernur Prefektur Nagano atas kontribusinya di bidang akademik, seni, dan budaya.

Pada 2006, Kusama menerima Lifetime Achievement Award untuk bidang seni, Order of the Rising Sun, Gold Rays with Rosette, serta Praemium Imperiale untuk kategori lukisan.

Pada 2009, pemerintah Jepang menetapkannya sebagai Person of Cultural Merit. Kemudian, pada 2016, Kusama menerima salah satu penghargaan budaya tertinggi di Jepang, Order of Culture atau Bunkakunshō.

Dengan perjalanan karier yang berlangsung lebih dari tujuh dekade, Yayoi Kusama terus dikenal melalui karya yang menggabungkan pengulangan, ruang, warna, dan gagasan tentang ketakterbatasan. Motif titik dan jaring yang menjadi cirinya pun berkembang menjadi bahasa visual yang membuat karyanya mudah dikenali di berbagai belahan dunia.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai seniman, dan perempuan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.