Periskop.id - Kebahagiaan Gen Z tidak hanya ditentukan oleh seberapa menyenangkan hidup mereka di permukaan. Di balik aktivitas sekolah, pekerjaan, relasi sosial, dan kehidupan digital yang padat, generasi muda juga menghadapi tekanan emosional yang cukup besar.
Hal ini terlihat dalam riset Gallup bersama Walton Family Foundation melalui laporan Voices of Gen Z. Survei tersebut memberi gambaran mengenai tingkat kebahagiaan anak-anak dan dewasa muda di Amerika Serikat, sekaligus menunjukkan faktor-faktor yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan emosional mereka.
Survei ini dilakukan pada 27 hingga 30 November 2023 melalui Gallup Panel. Sampel yang digunakan bersifat representatif secara nasional dan melibatkan 2.271 responden berusia 12 hingga 26 tahun.
Dalam riset tersebut, Gen Z merujuk pada kelompok anak-anak dan dewasa muda yang lahir antara 1997 hingga 2012.
Mayoritas Gen Z Mengaku Bahagia
Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z di Amerika Serikat merasa bahagia. Sekitar tiga perempat responden menyatakan mereka berada dalam kondisi sangat bahagia atau cukup bahagia.
Rinciannya, sebanyak 25% Gen Z mengatakan mereka sangat bahagia. Sementara itu, 48% lainnya menyebut diri mereka cukup bahagia.
Jika digabung, sekitar 73% Gen Z merasa bahagia dalam tingkat tertentu. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak muda masih memiliki penilaian positif terhadap kondisi hidup mereka.
Namun, data tersebut juga memperlihatkan sisi lain yang tidak bisa diabaikan. Sekitar seperempat Gen Z tidak merasa bahagia secara konsisten. Dengan kata lain, ada kelompok anak muda yang masih kesulitan menjaga kestabilan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, riset ini menemukan bahwa sekitar separuh Gen Z sering merasa cemas. Kondisi yang lebih berat juga terlihat dari sekitar satu dari lima responden yang mengaku sering merasa depresi.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan Gen Z tidak bisa dibaca hanya dari mayoritas yang merasa bahagia. Di saat yang sama, cukup banyak anak muda yang masih menghadapi kecemasan, tekanan emosional, dan perasaan tidak bahagia secara berulang.
Kegiatan yang Menarik Jadi Faktor Penting
Salah satu faktor yang paling menonjol dalam riset ini adalah keterlibatan Gen Z dalam aktivitas yang mereka anggap menarik. Gallup menemukan adanya perbedaan besar antara Gen Z yang bahagia dan mereka yang biasanya tidak merasa bahagia.
Sebanyak 60% Gen Z yang menyatakan diri bahagia mengatakan mereka melakukan sesuatu yang menarik setiap hari. Sementara itu, di kelompok Gen Z yang biasanya tidak merasa bahagia, hanya 28% yang mengatakan hal serupa.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa aktivitas harian yang menarik punya hubungan kuat dengan kebahagiaan. Ketika seseorang merasa hari-harinya diisi oleh kegiatan yang membuatnya tertarik, peluang untuk merasa bahagia juga lebih besar.
Bagi Gen Z, aktivitas menarik tidak selalu berarti kegiatan besar. Dalam konteks sekolah atau pekerjaan, hal itu bisa berupa pelajaran yang relevan, tugas yang menantang, proyek yang terasa bermakna, atau pekerjaan yang membuat mereka merasa berkembang.
Sebaliknya, jika kegiatan sehari-hari terasa monoton, tidak relevan, atau tidak memberi rasa keterlibatan, kebahagiaan bisa lebih sulit dipertahankan.
Selain menarik, aktivitas di sekolah dan pekerjaan juga perlu terasa penting. Survei menunjukkan bahwa Gen Z yang bahagia lebih banyak merasa bahwa aktivitas mereka di sekolah atau tempat kerja memiliki arti.
Sekitar 64% Gen Z yang bahagia setuju bahwa kegiatan mereka di sekolah atau pekerjaan penting. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok yang biasanya tidak merasa bahagia, yaitu 38%.
Temuan ini memperlihatkan bahwa Gen Z membutuhkan rasa tujuan dalam aktivitas harian. Mereka tidak hanya ingin menjalani rutinitas, tetapi juga ingin merasa bahwa apa yang mereka lakukan memiliki nilai.
Keterkaitan antara kebahagiaan dan motivasi di sekolah atau pekerjaan juga terlihat dalam cara Gen Z memandang hidup mereka. Riset ini menunjukkan bahwa rasa bermakna dan arah hidup menjadi bagian penting dalam kesejahteraan emosional anak muda.
Sekitar setengah Gen Z selalu merasa hidup mereka penting. Selain itu, 28% lainnya sering merasa demikian.
Namun, rasa memiliki arah hidup tampaknya lebih sulit dirasakan secara konsisten. Hanya 28% Gen Z yang selalu merasa hidup mereka memiliki arah, sementara 32% lainnya sering merasakan hal tersebut.
Data ini menunjukkan adanya jarak antara merasa hidup itu penting dan merasa hidup punya arah yang jelas. Banyak Gen Z mungkin merasa keberadaan mereka berarti, tetapi belum tentu selalu memahami ke mana mereka sedang menuju.
Kebahagiaan Berkaitan dengan Arah Hidup
Gallup mencatat bahwa kegiatan sehari-hari yang menarik, memotivasi, dan terasa penting berhubungan erat dengan perasaan bahwa hidup memiliki makna dan arah.
Artinya, ketika Gen Z menjalani aktivitas yang membuat mereka merasa terlibat, mereka lebih mungkin merasa hidupnya bermakna. Sebaliknya, ketika rutinitas terasa tidak menarik atau tidak penting, perasaan kehilangan arah bisa lebih mudah muncul.
Dalam konteks ini, sekolah dan pekerjaan bukan hanya tempat belajar atau mencari penghasilan. Keduanya juga menjadi ruang penting bagi anak muda untuk membangun identitas, menemukan minat, dan memahami peran mereka dalam kehidupan.
Karena itu, peningkatan kebahagiaan Gen Z tidak cukup hanya dilakukan lewat hiburan atau distraksi sesaat. Anak muda juga membutuhkan lingkungan yang memberi ruang untuk berkembang, merasa berguna, dan melihat hubungan antara aktivitas harian dengan masa depan mereka.
Tidur dan Waktu Istirahat Ikut Berpengaruh
Riset juga menyoroti pentingnya tidur dan waktu istirahat dalam kebahagiaan Gen Z. Survei menemukan bahwa cukup tidur dan memiliki waktu relaksasi yang cukup selama satu minggu menjadi prediktor kuat bagi kebahagiaan secara keseluruhan.
Temuan ini penting karena banyak anak muda hidup dalam ritme yang padat. Sekolah, pekerjaan, tugas, aktivitas sosial, tekanan akademik, dan penggunaan perangkat digital dapat membuat waktu istirahat berkurang.
Ketika waktu tidur tidak cukup, kondisi emosional dapat ikut terganggu. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah lelah, sulit fokus, lebih sensitif, dan lebih rentan mengalami tekanan mental.
Begitu juga dengan kurangnya waktu relaksasi. Tanpa ruang untuk berhenti sejenak, anak muda bisa merasa terus dikejar tuntutan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kebahagiaan dan kesehatan mental mereka.
Meski banyak Gen Z merasa bahagia, riset ini menunjukkan masih ada masalah mendasar dalam rutinitas harian mereka.
Gallup menemukan bahwa sekitar 42% hingga 49% Gen Z merasa kegiatan harian mereka kurang bermakna, kurang tidur, dan kurang relaksasi.
Angka ini menjadi sinyal bahwa sebagian besar tantangan kebahagiaan Gen Z berada di level keseharian. Masalahnya bukan hanya soal peristiwa besar dalam hidup, tetapi juga bagaimana mereka menjalani rutinitas harian.
Jika aktivitas sehari-hari tidak terasa penting, waktu tidur tidak cukup, dan ruang istirahat terbatas, kebahagiaan menjadi lebih sulit dijaga secara konsisten.
Dengan kata lain, kebahagiaan Gen Z tidak hanya bergantung pada pencapaian besar, status sosial, atau hiburan digital. Hal-hal dasar seperti kegiatan yang bermakna, tidur yang cukup, dan waktu istirahat yang sehat justru menjadi faktor penting.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar