Periskop.id - Hidup dan berkarir di Jakarta memang menyimpan pesona tersendiri bagi generasi muda, khususnya Generasi Z. 

Namun, di balik riuk-pikuk gaya hidup perkotaan yang dinamis, ada realitas finansial yang cukup menantang. Data terbaru memberikan gambaran mengejutkan mengenai betapa tingginya standar biaya hidup yang harus ditanggung oleh anak muda di ibu kota.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Gen Z di DKI Jakarta tercatat memiliki rata-rata pengeluaran mencapai Rp11,97 juta per bulan. Jika dibedah lebih rinci, alokasi pengeluaran tersebut terbagi menjadi Rp7,14 juta untuk kebutuhan nonmakanan dan Rp4,83 juta untuk konsumsi makanan.

Tingkat pengeluaran ini juga bervariasi di setiap sudut kota. Wilayah Jakarta Selatan mencatatkan rata-rata pengeluaran tertinggi yang menyentuh angka Rp15,17 juta per bulan. Sementara itu, kawasan Kepulauan Seribu berada di posisi terendah dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp6,08 juta per bulan.

Dominasi Kebutuhan Nonmakanan

Melihat angka alokasi yang lebih besar pada sektor nonmakanan, muncul pertanyaan mengenai apa saja komponen yang menyerap anggaran tersebut. 

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan seperti Jakarta, pengeluaran nonmakanan mencakup berbagai kebutuhan esensial yang sulit untuk dihindari.

Komponen ini meliputi biaya tempat tinggal, transportasi harian, pendidikan, tagihan komunikasi dan internet, layanan kesehatan, perlengkapan kerja, hingga pembaruan perangkat elektronik. 

Ketimpangan porsi ini menandakan bahwa standar biaya hidup di Jakarta tidak lagi sekadar ditentukan oleh harga bahan pangan, melainkan didorong oleh tingginya biaya mobilitas, pendidikan, serta fasilitas penunjang pekerjaan yang terus meningkat setiap tahunnya.

Ketimpangan dengan UMR dan Maraknya Penggunaan Paylater

Besarnya angka pengeluaran Gen Z ini menjadi hal yang mengejutkan ketika disandingkan dengan tingkat pendapatan rata-rata. 

Sebagai pembanding, Upah Minimum Regional (UMR) di DKI Jakarta pada 2026 berada di angka Rp5,73 juta per bulan. Adanya selisih yang cukup jauh antara pendapatan minimum dan rata-rata pengeluaran ini menjelaskan mengapa banyak anak muda harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan bulanan mereka.

Kondisi finansial tersebut berbanding lurus dengan tingginya penetrasi layanan keuangan berbasis digital di Jakarta. Tidak heran jika DKI Jakarta menempati posisi provinsi kedua terbanyak di Indonesia dalam hal penggunaan fitur paylater atau Buy Now Pay Later (BNPL).

Data dari IdScore per April 2025 mencatat total akun BNPL di Indonesia telah mencapai 50,76 juta akun. Dari jumlah tersebut, Jawa Barat mendominasi dengan porsi 27,70%, diikuti oleh warga DKI Jakarta yang menyumbang 14,6% dari total pengguna secara nasional. 

Demografi penggunanya pun sangat jelas, di mana kelompok usia 20 hingga 30 tahun yang mendominasi populasi Gen Z memegang porsi terbesar yaitu 38,73%.

Tantangan Kredit Macet di Tengah Gaya Hidup Perkotaan

Meski Jawa Barat memegang jumlah pengguna paylater terbanyak, DKI Jakarta justru mencatatkan rekor yang perlu diwaspadai. Jakarta menjadi daerah dengan tingkat tunggakan atau kredit macet paylater tertinggi di Indonesia, yaitu mencapai 5,21%.

Fenomena ini menjadi alarm penting bagi pengelolaan keuangan generasi muda. Kebutuhan hidup perkotaan yang terus melonjak, ditambah kemudahan akses pinjaman instan, membutuhkan kearifan dan kesadaran finansial yang lebih tinggi. 

Tanpa perencanaan keuangan yang matang, ketergantungan pada pembiayaan instan berisiko menjadi beban jangka panjang bagi Gen Z dalam mewujudkan kemandirian finansial mereka.