Periskop.id - Gen Z sering kali diidentikkan dengan gaya hidup serba digital, dinamis, dan terkadang dipandang acuh terhadap nilai-nilai tradisional. Namun, pandangan tersebut dipatahkan oleh temuan terbaru yang mengukur kualitas kehidupan beragama masyarakat. 

Data menunjukkan bahwa Gen Z justru memegang peranan penting dalam menjaga literasi keagamaan dan memelihara keharmonisan sosial.

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama bekerja sama dengan Alvara Strategic Research merilis Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025. 

Hasil survei nasional ini memberikan gambaran yang sangat positif mengenai pemahaman serta pengamalan agama di kalangan generasi muda.

Unggul dalam Literasi Membaca Al Quran

Salah satu poin utama yang disorot dalam riset ini adalah kemampuan literasi keagamaan. Gen Z mencatatkan indeks kemampuan membaca Al Quran dengan tartil yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.

Indeks kemampuan membaca Al Quran pada Gen Z mencapai angka 56,29. Angka ini berhasil mengungguli capaian Milenial yang berada di angka 54,06, Gen X sebesar 53,97, serta Baby Boomers yang mencatatkan indeks 50,95. 

Capaian ini menjadi bukti bahwa keterikatan generasi muda terhadap kitab suci tetap terjaga dengan sangat baik di tengah arus modernisasi.

Menjadi Terdepan dalam Sikap Toleransi Beragama

Tidak hanya unggul dalam aspek ritual akademis keagamaan, Gen Z juga menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga ruang publik yang inklusif dan toleran. 

Dalam indikator sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan milik aliran atau organisasi lain, Gen Z meraih indeks tertinggi yaitu sebesar 80,03. Angka ini melampaui Milenial (78,77), Gen X (78,97), dan Baby Boomers (78,81).

Secara keseluruhan, indeks pengamalan toleransi di kalangan Gen Z menyentuh angka 79,65. Capaian ini hanya terpaut sangat tipis dari Gen X yang mencatatkan angka 79,67, serta berada di atas pencapaian Milenial (79,07) dan Baby Boomers (78,63).

Indikator toleransi dalam survei ini diukur melalui berbagai perilaku nyata di masyarakat, antara lain:

  • Penerimaan terhadap pelaksanaan ibadah pemeluk agama lain.
  • Sikap menghargai dengan tidak mencela ajaran lain.
  • Penolakan terhadap aksi persekusi di tengah perbedaan.
  • Komitmen untuk tidak menyebarkan ujaran kebencian.