iklan periskop
Industri

Indonesia Targetkan Pabrik Magnet Permanen LTJ Beroperasi pada 2028

Danantara menargetkan Indonesia memiliki pabrik magnet permanen berbasis logam tanah jarang pada 2028 untuk mendukung motor EV hingga industri pertahanan

3 jam yang lalu · 6 mnt baca
pabrik magnet permanen
Ilustrasi - Pembangunan pabrik magnet permanen dari logam tanah jarang. dok. Periskop.id/ AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Indonesia mulai menyiapkan lompatan baru dalam hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) dengan membangun industri magnet permanen berbasis neodymium-iron-boron (NdFeB). Danantara menargetkan produk magnet permanen buatan dalam negeri dapat tersedia pada 2028, sebagai bagian dari rantai industri yang diarahkan hingga motor traksi dan kendaraan listrik.

Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, pengembangan tersebut tidak dirancang berhenti pada penambangan maupun pemurnian LTJ. Pemerintah ingin membangun rantai nilai secara menyeluruh sehingga mineral strategis Indonesia dapat diolah menjadi komponen teknologi bernilai tinggi.

“Insyaallah 2028, permanent magnet bisa ada di Indonesia dan lain-lain. Ini satu kesatuan yang kami bangun sampai nanti kendaraan transportasi,” ujar Sigit dalam MINDialogue bertema “Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI” di Jakarta, Rabu (12/8/).

Rencana tersebut menjadi penting karena magnet permanen merupakan salah satu produk hilir LTJ dengan nilai strategis tinggi. International Energy Agency (IEA) mencatat magnet permanen menyumbang sekitar 95% nilai konsumsi logam tanah jarang, dengan NdFeB menjadi salah satu jenis magnet permanen terkuat yang digunakan industri.

Dari Neodymium hingga Motor Mobil Listrik

NdFeB merupakan magnet yang terutama menggunakan neodymium dan praseodymium serta dapat memanfaatkan dysprosium atau terbium untuk meningkatkan performanya. Produk tersebut digunakan dalam kendaraan listrik, turbin angin, motor industri, robotika, pusat data AI, teknologi medis hingga peralatan pertahanan.

Departemen Energi Amerika Serikat mencatat magnet tanah jarang digunakan secara luas pada motor traksi kendaraan listrik karena menawarkan kepadatan daya dan efisiensi tinggi. Hampir seluruh kendaraan hybrid dan plug-in hybrid menggunakan magnet tanah jarang pada motor traksinya.

Sigit mengatakan Indonesia ingin menghubungkan pengembangan material tersebut langsung dengan industri kendaraan.

“Di permanen magnet nanti ada motor traksinya sampai ke motor dan mobil EV-nya. Jadi, kami melihatnya secara holistik dari hulu sampai hilir,” kata Sigit.

Arah tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak awal 2026. Dalam pembahasan pemerintah mengenai hilirisasi mineral kritis pada Januari, neodymium-praseodymium atau NdPr telah disoroti sebagai bahan penting untuk produksi magnet permanen kendaraan listrik. Pemerintah ketika itu menekankan perlunya penguasaan teknologi LTJ agar kekayaan mineral tidak berhenti sebagai bahan mentah.

China Kuasai 94% Produksi Magnet Permanen

Pembangunan industri magnet domestik juga memiliki dimensi ketahanan rantai pasok.

IEA mencatat permintaan global terhadap LTJ untuk magnet, terutama neodymium, praseodymium, dysprosium, dan terbium, telah meningkat dua kali lipat sejak 2015. Permintaannya diperkirakan bertambah lebih dari 30% lagi hingga 2030 seiring ekspansi kendaraan listrik, turbin angin, otomatisasi, robotika, dan teknologi digital.

Namun rantai pasoknya sangat terkonsentrasi. Pada 2024, China menguasai sekitar 60% produksi tambang LTJ untuk magnet, 91% pemurnian, dan 94% produksi magnet permanen sinter dunia. Dua dekade sebelumnya, pangsa China pada produksi magnet masih sekitar separuh pasar global.

Dominasi tersebut semakin menjadi perhatian setelah pembatasan ekspor LTJ China pada 2025 sempat mengganggu pasokan produsen di sejumlah negara. IEA menilai produksi magnet menjadi salah satu titik paling kritis dalam upaya negara-negara mendiversifikasi rantai pasok mineral strategis.

Kondisi itu memberi konteks terhadap rencana Indonesia. Jika berhasil membangun kemampuan dari pemurnian hingga produksi magnet, Indonesia tidak hanya memperoleh nilai tambah mineral, tetapi berpotensi memasuki salah satu bagian rantai industri yang selama ini sangat terkonsentrasi secara global.

Meski demikian, pemerintah belum mengungkap lokasi pabrik magnet, kapasitas produksi, nilai investasi, mitra teknologi, maupun jadwal konstruksi secara terperinci. Target 2028 sejauh ini menjadi sasaran waktu untuk menghadirkan kemampuan produksi magnet permanen di dalam negeri.

Perminas Disiapkan Kelola LTJ dari Hulu ke Hilir

Untuk membangun ekosistem tersebut, Danantara telah membentuk PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Perusahaan ini didirikan pada November 2025 dan diarahkan menjadi entitas khusus untuk mengembangkan mineral strategis dan kritis, terutama logam tanah jarang, secara terintegrasi.

CEO Danantara Rosan Roeslani sebelumnya mengatakan, pembentukan Perminas dilakukan karena potensi LTJ Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal.

"Perminas ini untuk tanah jarang atau rare earth yang memang kita potensinya sangat-sangat besar, tapi belum dioptimalisasi, masih jauh dari optimalisasi," kata Rosan pada Februari 2026.

Tahap pengembangan masih berlangsung dari sisi hulu. Pada Maret 2026, Perminas menggandeng Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) untuk mengompilasi, memvalidasi, dan mengintegrasikan data sumber daya serta cadangan LTJ. Data tersebut mencakup geologi, geokimia, geofisika, pengeboran, sampling, hingga hasil pengujian laboratorium.

Artinya, pembangunan industri LTJ Indonesia berjalan bersamaan dengan pekerjaan mendasar untuk memastikan seberapa besar sumber daya yang benar-benar tersedia dan ekonomis dikembangkan.

Salah satu wilayah yang kini mendapat perhatian adalah Mamuju, Sulawesi Barat. Badan Geologi sebelumnya merekomendasikan wilayah tersebut sebagai calon Wilayah Izin Usaha Pertambangan LTJ pertama di Indonesia.

Data eksplorasi menunjukkan, Blok Botteng seluas sekitar 1.011 hektare memiliki estimasi sumber daya tereka sekitar 122.505 ton, sementara Botteng Utara dan Ahu Pasabu juga menunjukkan potensi LTJ. Perminas direncanakan mengembangkan proyek percontohan hilirisasi di wilayah tersebut. Namun penelitian masih berada pada tahap awal sehingga angka tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai cadangan siap ditambang.

Tak Hanya EV, LTJ Dibidik untuk Industri Pertahanan

Danantara juga mengarahkan pengembangan material maju berbasis mineral strategis ke sektor pertahanan.

Sigit mengatakan salah satu bidang yang mulai dikaji adalah pengembangan baja lapis baja bersama Krakatau Steel. Tahap berikutnya diarahkan menuju material untuk semikonduktor, radar, sensor, dan berbagai teknologi strategis lainnya.

“Kami dengan teman-teman di Krakatau Steel pertimbangkan dan sudah bisa masuk untuk baja armor. Hanya saja, kita harus sempurnakan dan sampai ke material untuk semikonduktor, radar, sensor, dan lain-lain kami siapkan semuanya,” ujar Sigit.

Pemanfaatan LTJ di sektor pertahanan bukan hal baru secara global. IEA memasukkan sistem pertahanan, dirgantara, semikonduktor, pusat data hingga teknologi transportasi sebagai sektor yang sangat bergantung pada rantai pasok unsur tanah jarang dan magnet berkinerja tinggi.

Karena teknologi pemisahan menjadi bagian tersulit dari pengolahan LTJ, Danantara menggandeng Kementerian ESDM, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, BRIN serta perguruan tinggi untuk mempercepat penguasaan teknologi.

“Refinery inilah yang akan kami kejar. Alhamdulillah kami mendapatkan mitra-mitra yang luar biasa dan kami akan segera kembangkan ini bersama teman-teman di BRIN, teman-teman di perguruan tinggi,” ujar Sigit.

Penguasaan refinery menjadi tahap penting karena bijih LTJ harus melewati proses konsentrasi, pemisahan menjadi oksida individual, pemurnian menjadi logam, pembuatan paduan hingga akhirnya dapat diproses menjadi magnet. IEA menyebut justru tahap pemisahan, pemurnian dan manufaktur magnet menjadi hambatan terbesar bagi negara yang ingin membangun rantai pasok di luar China.

Jika target 2028 tercapai, pembangunan pabrik magnet permanen akan menjadi salah satu indikator bahwa hilirisasi LTJ Indonesia mulai bergerak dari tahap eksplorasi dan pemurnian menuju manufaktur material maju. Tantangannya tidak kecil: kepastian cadangan, teknologi pemisahan, investasi, pengelolaan material radioaktif yang dapat menyertai mineral LTJ, hingga kepastian pasar harus berjalan bersamaan agar industri dapat beroperasi secara berkelanjutan.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Danantara Indonesia, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), logam tanah jarang, dan EV dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.