iklan periskop
Industri

Zulhas Akui Garam dan Jagung Industri Masih Harus Dimpor

Menko Pangan Zulkifli Hasan akui garam dan jagung untuk kebutuhan industri RI masih impor, meski kebutuhan konsumsi sudah swasembada

2 hari yang lalu · 2 mnt baca
Zulhas Akui Garam dan Jagung Industri Masih Harus Dimpor
Menko Pangan Zulkifli Hasan (tengah) dalam Konfrensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan 2027 di jakarta, Jumat (14/8). periskop.id/ Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengakui kebutuhan garam dan jagung untuk sektor industri di Indonesia masih bergantung pada impor. Pengakuan ini disampaikan dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027.

Zulkifli menjelaskan capaian swasembada yang telah dicapai Indonesia sejauh ini baru mencakup kebutuhan konsumsi rumah tangga. Ia menegaskan garam untuk konsumsi masyarakat sudah tidak lagi diimpor dan dapat diproduksi secara mandiri.

"Begitu juga jagung. Garam kita konsumsi sudah tidak impor lagi, dan kita bisa produksi," kata Zulkifli dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027, Jakarta, Jumat (14/8).

Ia mengakui secara terbuka bahwa kebutuhan garam dan jagung untuk keperluan industri masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Zulkifli menegaskan ketergantungan impor masih terjadi khusus untuk kebutuhan sektor industri tersebut.

"Tetapi yang industri, jagung industri, garam industri kita masih impor," tegas Zulkifli.

Pengakuan ini disampaikan Zulkifli sebagai pelengkap dari klaim capaian swasembada pangan karbohidrat yang sebelumnya ia paparkan, menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah di sektor pangan berbasis industri. Konferensi pers ini digelar usai penyampaian keterangan pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto di hadapan DPR RI.    

Swasembada Karbohidrat

Sebelumnya, Zulhas mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada pangan karbohidrat dengan surplus signifikan pada 2025. Klaim ini disampaikan dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027.

Zulkifli merinci perbandingan kondisi pangan karbohidrat antara 2024 dan 2025 yang menunjukkan perubahan drastis. Ia menyebut Indonesia berhasil membalikkan kondisi dari ketergantungan impor menjadi surplus produksi dalam waktu satu tahun.

"Alhamdulillah pangan karbohidrat seperti tadi sudah sampaikan Bapak Presiden, dalam tempo satu tahun, tahun 2024 kita impor 4,5 juta. Tapi tahun 2025 kita sudah swasembada surplus 4,2 juta ton," kata Zulkifli.

Ia menambahkan capaian serupa pada komoditas lain, yakni jagung dan garam untuk konsumsi. Zulkifli menegaskan Indonesia sudah tidak lagi mengimpor garam konsumsi dan mampu memproduksinya secara mandiri.

"Begitu juga jagung. Garam kita konsumsi sudah tidak impor lagi, dan kita bisa produksi," ujar Zulkifli.

Klaim swasembada pangan karbohidrat ini disampaikan Zulkifli sebagai bagian dari laporan kinerja sektor pangan yang dikoordinasikannya selama 22 bulan terakhir. Konferensi pers ini digelar usai penyampaian keterangan pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto di hadapan DPR RI.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Zulkifli Hasan, Kemenko pangan, Nota Keuangan, dan RAPBN 2027 dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.