iklan periskop
Internasional

Iran Tantang ‘Economic D-Day’ Trump, Araghchi: Sanksi AS Pasti Gagal

Iran menantang rencana sanksi ekonomi terbaru AS. Menlu Abbas Araghchi yakin kampanye tekanan Donald Trump akan kembali gagal

17 jam yang lalu · 4 mnt baca
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. dok. Iranian Foreign Ministry
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Iran menantang rencana Amerika Serikat (AS) memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai kampanye sanksi terbaru Presiden AS Donald Trump akan berakhir seperti kebijakan serupa sebelumnya, yakni gagal memaksa Iran memenuhi tuntutan Washington.

Pernyataan tersebut muncul setelah pemerintahan Trump menyiapkan babak baru tekanan ekonomi terhadap Iran yang disebut sebagai “Economic D-Day”. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan rincian kebijakan itu dijadwalkan diumumkan pada Senin, dengan Washington menjanjikan sanksi yang disebut sebagai paling keras terhadap Iran.

Araghchi merespons rencana tersebut melalui platform X pada Jumat (21/8/2026). Ia mengingatkan, Iran telah menghadapi berbagai gelombang tekanan ekonomi dari Washington selama bertahun-tahun.

"Empat belas tahun lalu, sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah, gagal. Delapan tahun lalu, tekanan maksimum, gagal," tulis Araghchi.

Ia juga menyinggung tuntutan agar Iran menyerah tanpa syarat yang disampaikan sekitar lima bulan sebelumnya. Menurut Araghchi, rencana Trump untuk menjalankan operasi ekonomi yang jauh lebih besar tidak akan menghasilkan akhir yang berbeda.

Pemerintahan Trump sebelumnya menyatakan ingin memutus jalur keuangan yang masih menjadi penopang ekonomi Iran. Ancaman tersebut tidak hanya diarahkan kepada Teheran, tetapi juga negara, perusahaan, lembaga keuangan, hingga jaringan perdagangan yang tetap membantu Iran melakukan transaksi internasional. Trump menyebut strategi tersebut sebagai “Economic Warfare and Isolation” dalam skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Tekanan AS terutama menyasar perdagangan minyak yang masih menjadi sumber utama devisa Iran. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan China membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui jalur laut berdasarkan data 2025. Ekspor minyak Iran pada Agustus 2026 diperkirakan turun menjadi sekitar 534.000 barel per hari, jauh di bawah rata-rata 1,4 juta barel per hari sepanjang 2025.

Penurunan tersebut terjadi setelah AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran dan pelabuhan Iran pada pertengahan Juli. Stok minyak Iran yang tersimpan di kapal di luar zona blokade juga turun dari sekitar 105 juta barel menjadi 80 juta barel, menurut data Kpler.

Meski demikian, Trump menilai tekanan terhadap Iran masih perlu ditingkatkan karena Teheran belum bersedia menerima kesepakatan yang diinginkan Washington.

"Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi menurut pendapat saya mereka belum siap untuk membuat kesepakatan yang tepat," kata Trump sebelum bertolak ke Carolina Selatan, Kamis (20/8).

Trump juga menggambarkan kondisi ekonomi dan kemampuan militer Iran telah melemah drastis selama konflik.

"Mereka tidak memiliki uang, tidak memiliki angkatan laut, tidak memiliki angkatan udara, mereka tidak membayar tentara mereka, mereka tidak membayar polisi mereka. Inflasi mereka mencapai 350%," kata Trump mengenai kondisi ekonomi dan militer Iran.

Klaim Trump mengenai inflasi 350% perlu ditempatkan sebagai pernyataan politik Presiden AS. Reuters pada 17 Agustus melaporkan tingkat inflasi Iran mencapai sekitar 66% pada Juli, sementara kenaikan harga pangan mencapai 128%. Kondisi tersebut tetap menunjukkan tekanan ekonomi yang berat akibat perang, pelemahan mata uang, kerusakan infrastruktur dan sanksi internasional, tetapi angkanya berbeda dari klaim Trump.

Selat Hormuz Masih Jadi Titik Tekan

Di luar sanksi, perebutan pengaruh atas Selat Hormuz masih menjadi pusat ketegangan Washington dan Teheran. Jalur sempit tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia setiap hari, sehingga gangguan pelayaran langsung berpengaruh terhadap pasar energi global.

Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (20/8), turun dari 14 kapal sehari sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah tingkat lalu lintas sebelum perang. Reuters juga mencatat belum terlihat kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar maupun kapal pengangkut LNG melintasi selat tersebut pada hari itu.

Washington dan Teheran sebenarnya telah mencapai nota kesepahaman pada Juni 2026 yang antara lain mencakup penghentian operasi militer, pembukaan kembali pelayaran komersial melalui Hormuz, serta periode 60 hari untuk merundingkan kesepakatan final. Namun, sejumlah ketentuan tidak terlaksana dan proses menuju kesepakatan menyeluruh akhirnya mengalami kebuntuan.

Kebuntuan itu membuat tekanan ekonomi kembali menjadi instrumen utama Washington. Sebaliknya, Iran tetap menggunakan kemampuan mengganggu jalur perdagangan energi sebagai salah satu kartu tawarnya.

Ketegangan terbaru sekaligus memperlihatkan bahwa pertarungan AS-Iran kini tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui minyak, perdagangan, sistem keuangan dan akses terhadap salah satu jalur energi terpenting dunia. Efektivitas “Economic D-Day” Trump selanjutnya akan sangat bergantung pada seberapa jauh negara-negara mitra dagang Iran, terutama China, bersedia mengikuti tekanan Washington.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Abbas Araqchi, iran, ekonomi, Amerika Serikat vs Iran, dan perang iran dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.