iklan periskop
Internasional

UNICEF: 3,7 Juta Anak Afghanistan Alami Malnutrisi Akut, Sejuta Nyawa Terancam

UNICEF mencatat 3,7 juta anak Afghanistan mengalami malnutrisi akut, hampir 1 juta di antaranya dalam kondisi berat dan terancam jiwa

2 jam yang lalu · 4 mnt baca
UNICEF: 3,7 Juta Anak Afghanistan Alami Malnutrisi Akut, Sejuta Nyawa Terancam
Ilustrasi - Anak-anak Afganistan ikut mengungsi bersama keluarga. dok. UNHCR Indonesia/ generated image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Krisis gizi di Afghanistan semakin mengkhawatirkan. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mencatat sekitar 3,7 juta anak mengalami malnutrisi akut atau wasting, termasuk hampir 1 juta anak dengan malnutrisi akut berat yang dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

Anak-anak berusia sangat muda menjadi kelompok yang paling rentan. Hampir 40% anak yang dirawat di rumah sakit karena malnutrisi akut berat disertai komplikasi medis merupakan bayi berusia di bawah enam bulan. Sementara itu, anak berusia di bawah dua tahun menyumbang 83% kasus malnutrisi akut berat di Afghanistan.

Tekanan terhadap fasilitas kesehatan juga semakin besar. Sejak awal 2026, lebih dari 500.000 anak telah menjalani perawatan karena malnutrisi akut sedang berisiko tinggi maupun malnutrisi akut berat. Kasus malnutrisi akut berat dengan komplikasi medis yang dirawat di fasilitas kesehatan meningkat dari sekitar 6.000 kasus pada Juli 2025 menjadi 8.000 kasus pada Juli 2026, atau naik sekitar sepertiga.

“Di sejumlah wilayah Afghanistan bagian selatan, beberapa rumah sakit kini menangani tiga atau empat anak yang mengalami malnutrisi berat untuk setiap tempat tidur yang tersedia,” kata Perwakilan UNICEF di Afghanistan Tajudeen Oyewale.

Kondisi tersebut menggambarkan keterbatasan kapasitas rumah sakit ketika jumlah anak yang membutuhkan pertolongan terus meningkat.

Separuh Anak Hidup dalam Kemiskinan Pangan Parah

Krisis malnutrisi Afghanistan tidak semata-mata disebabkan kurangnya jumlah makanan. UNICEF menemukan separuh anak di Afghanistan hidup dalam kondisi kemiskinan pangan anak yang parah, yakni hanya mengonsumsi makanan dari dua atau lebih sedikit kelompok pangan setiap hari.

Kondisi itu membuat anak kekurangan variasi nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh. UNICEF memperkirakan anak yang tinggal dalam rumah tangga dengan kerawanan pangan berat memiliki risiko hingga enam kali lebih tinggi mengalami wasting saat memasuki periode puncak malnutrisi.

Laporan UNICEF pada Juli 2026 juga menunjukkan kondisi wasting telah memburuk di 26 dari 34 provinsi Afghanistan dibandingkan 2025. Situasi itu sudah terlihat sebelum periode puncak malnutrisi pada Juli hingga September.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) semakin memperlihatkan besarnya krisis kemanusiaan tersebut. Sekitar 17,4 juta penduduk Afghanistan, atau lebih dari sepertiga populasi, diperkirakan menghadapi tingkat kelaparan kategori krisis atau darurat pada 2026. Selain 3,7 juta anak di bawah lima tahun, sekitar 1,2 juta ibu hamil dan menyusui juga diperkirakan mengalami malnutrisi akut.

Krisis diperparah oleh kekeringan selama bertahun-tahun, hujan deras dan banjir bandang, serta tekanan ekonomi. UNICEF juga mencatat sekitar 6 juta orang telah kembali ke Afghanistan sejak 2023, dengan lebih dari separuh di antaranya merupakan anak-anak. Arus kepulangan dalam skala besar menambah tekanan terhadap lapangan pekerjaan, keuangan rumah tangga serta fasilitas kesehatan dan layanan gizi yang sudah terbatas.

Kebutuhan Meningkat, Fasilitas Justru Tutup

Persoalan lain muncul dari pemangkasan bantuan kemanusiaan. UNICEF mencatat lebih dari 100 fasilitas yang menangani anak dengan malnutrisi akut berat telah ditutup sepanjang 2026 dibandingkan 2025 akibat keterbatasan sumber daya. Ratusan pusat lain yang melayani kebutuhan gizi anak serta ibu hamil dan menyusui juga kehilangan pendanaan.

Respons sektor gizi Afghanistan saat ini menghadapi kesenjangan pendanaan sebesar 57%. Sementara program gizi UNICEF membutuhkan sekitar US$180 juta pada 2026, tetapi baru memperoleh pendanaan sekitar 22% dari kebutuhan tersebut.

“Justru pada saat kebutuhan meningkat, layanan yang tersedia bagi anak-anak berkurang akibat pemotongan pendanaan,” kata Oyewale.

Kekhawatiran serupa sebelumnya disampaikan Program Pangan Dunia (WFP). Reuters pada 4 Agustus 2026 melaporkan bahwa keterbatasan dana membuat bantuan WFP hanya mampu menjangkau sekitar satu dari tujuh perempuan dan anak yang mengalami malnutrisi dan membutuhkan bantuan. WFP juga menyebut tingkat wasting anak telah mencapai level kritis di sekitar sepertiga provinsi Afghanistan.

WFP membutuhkan tambahan sekitar US$500 juta untuk enam bulan berikutnya guna menangani kebutuhan pangan akut dan mencegah krisis gizi semakin memburuk. Pemangkasan pendanaan bahkan telah membuat distribusi bantuan pangan dihentikan di sejumlah wilayah.

UNICEF menilai penanganan malnutrisi tidak cukup hanya dengan merawat anak setelah kondisinya memburuk. Pencegahan melalui pemenuhan makanan bergizi, dukungan bagi ibu hamil, pemberian ASI, akses air bersih, sanitasi, imunisasi serta layanan kesehatan perlu berjalan secara bersamaan.

Dengan jutaan anak telah mengalami malnutrisi dan kapasitas layanan terus tergerus akibat kekurangan dana, UNICEF memperingatkan bahwa keterlambatan intervensi dapat membuat krisis gizi Afghanistan semakin sulit dikendalikan.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai unicef, malnutrisi, dan anak dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.