Korban Tewas Banjir Bandang Nepal-Tibet Jadi 472 Orang, 1.400 Lainnya Hilang
Jumlah korban tewas banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet terus bertambah, sementara lebih dari 1.400 orang masih dinyatakan hilang.

Periskop.id - Jumlah korban tewas akibat banjir bandang yang menerjang perbatasan Nepal dan Tibet, China, kembali bertambah menjadi 472 orang. Lebih dari 1.400 orang lainnya, termasuk ratusan warga negara asing dari puluhan negara, masih dinyatakan hilang di Nepal.
Kepolisian Nepal mengumumkan pada Jumat (28/8) bahwa korban tewas di negara tersebut mencapai 469 orang. Media pemerintah China kemudian mengonfirmasi tambahan tiga korban jiwa di wilayah Tibet, sehingga total angka kematian naik jadi 472 orang, seperti dilansir AFP dan The Guardian.
"Semua instansi pemerintah beroperasi dengan kapasitas penuh. Prioritas utama kami saat ini adalah menyelamatkan nyawa setiap warga, melakukan pencarian dan penyelamatan terhadap korban hilang, merawat para korban luka, dan memberikan bantuan segera kepada keluarga-keluarga yang terdampak," ujar Perdana Menteri Nepal Balendra Shah dalam pernyataannya saat meninjau lokasi bencana, Kamis (27/8).
Data terbaru itu muncul sekitar 48 jam setelah bencana terjadi pada Rabu (26/8) pagi waktu setempat. Sementara itu, televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan pada Kamis (27/8) bahwa 558 orang hilang di area Gyirong, Tibet, dengan 260 di antaranya merupakan warga negara asing.
CCTV disebut jadi sumber tunggal untuk perkembangan situasi bencana di sisi Tibet.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebutkan bencana ini dipicu runtuhnya gletser yang kemudian memicu aliran deras berisi bebatuan, material es, lumpur, dan puing-puing. Aliran itu menerjang sistem sungai di pegunungan Himalaya.
Perubahan iklim diyakini jadi penyebab mencairnya gletser di berbagai belahan dunia, sehingga risiko banjir danau glasial dan runtuhnya gletser ikut meningkat. Banjir bandang tersebut menerjang desa-desa dan area lembah di Nepal, dengan Rasuwa jadi wilayah yang paling parah terdampak.
Sejumlah saksi mata menggambarkan terjangan air dingin bercampur lumpur itu bagaikan tsunami. Permukiman warga luluh lantak, rumah-rumah tertimbun, sementara pembangkit listrik, jembatan, dan bendungan turut hancur.
Kendaraan-kendaraan pun tersapu di sepanjang jalur yang menghubungkan Kathmandu dengan Lhasa di Tibet, rute yang selama ini populer di kalangan pendaki dan peziarah. Upaya pencarian korban hilang terkendala kerusakan parah pada puluhan jembatan serta ruas jalan sepanjang 40 kilometer di wilayah pegunungan tersebut.
Tim penyelamat mengerahkan alat berat untuk menggali timbunan lumpur dan puing di kota-kota Nepal yang terdampak parah. Sejumlah helikopter juga diterjunkan untuk mencari korban selamat sekaligus menjatuhkan bantuan darurat bagi ribuan orang yang terisolasi.
Tim darurat yang sebagian besar dibantu anjing pelacak turut dikerahkan dalam operasi pencarian. Meski begitu, harapan menemukan korban selamat dilaporkan kian menipis seiring berjalannya waktu.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai United States Geological Survey (USGS) dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.