Situs Bongal Ungkap Jejak Islam Abad ke-7, BRIN Siapkan Riset Besar di Sumatra
Temuan Situs Bongal, Tapanuli, menunjukkan jaringan maritim abad ke-7 dan interaksi dengan dunia Islam sejak abad ke-8. Temuan ini berpotensi mengubah historiografi Islam Nusantara...

Periskop.id - Temuan arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berpotensi menggeser pemahaman mengenai hubungan awal Nusantara dengan dunia Islam. Artefak dari abad ke-7 hingga ke-9 Masehi menunjukkan pesisir barat Sumatra telah terhubung dengan jaringan perdagangan internasional jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam pada abad ke-13.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai bukti tersebut membuka ruang penelitian baru terhadap fase awal kehadiran peradaban Islam di Nusantara yang selama ini masih menyisakan rentang sejarah cukup panjang.
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Irfan Mahmud mengatakan hasil ekskavasi mengindikasikan interaksi dengan dunia Islam berlangsung lebih awal dibandingkan linimasa yang selama ini lebih banyak menempatkan kerajaan Islam sebagai titik pijak utama.
"Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8, artinya awal ketika kenabian. (Temuan ini) membuka ruang yang lebih lebar tentang pembuktian beberapa hipotesis-hipotesis berkaitan dengan arkeologi Islam akar rumput," katanya dalam Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri #38, Rabu (12/8).
Temuan Bongal penting karena bukti arkeologinya tidak hanya berupa satu jenis benda. Penelitian sebelumnya menemukan sisa perahu, mata uang dari dunia Islam, keramik, kaca hingga berbagai artefak perdagangan dari kawasan yang berbeda. BRIN pada 2025 menyebut penggalian di Bongal menghasilkan ratusan artefak, termasuk koin Arab-Sasaniyah serta dirham dari masa Umayyah dan Abbasiyah.
Perahu Abad ke-7 Jadi Salah Satu Bukti Kunci
Salah satu bukti terkuat mengenai usia Situs Bongal berasal dari sisa perahu kuno.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal arkeologi Kalpataru BRIN menggunakan analisis bentuk, fungsi, serta penanggalan radiokarbon terhadap kayu dan tali ijuk. Hasilnya menunjukkan perahu tersebut dibuat menggunakan teknik lashed-lug atau tambuku-terikat khas Asia Tenggara pada abad ke-7 Masehi.
Temuan itu disebut sebagai sisa perahu tertua yang sejauh ini ditemukan di pesisir barat Sumatera Utara dan sekitar dua abad lebih tua dibandingkan bukti dari Situs Barus. Artefak yang ditemukan di sekitarnya juga mengindikasikan perahu tersebut digunakan dalam aktivitas perdagangan.
Bukti tersebut memperlihatkan Bongal telah menjadi bagian dari aktivitas maritim pada periode sangat awal. Namun, secara akademis, umur perahu abad ke-7 tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh masyarakat Bongal ketika itu sudah beragama Islam. Temuan itu lebih kuat menunjukkan adanya komunitas maritim dan jaringan perdagangan yang kemudian perlu dibaca bersama artefak bercorak Islam.
Penelitian yang sama bahkan mencatat adanya unsur budaya lain pada kawasan tersebut. Temuan hiasan berhuruf Pallawa dan simbol sangkha mengindikasikan masyarakat di wilayah Bongal pada sekitar abad ke-7 juga mengenal tradisi Hindu. Kondisi ini memperlihatkan lingkungan budaya Bongal kemungkinan bersifat kompleks dan terhubung dengan banyak kawasan.
Dirham Abbasiyah Tunjukkan Hubungan dengan Dunia Islam
Bukti yang lebih langsung mengenai hubungan dengan peradaban Islam datang dari temuan mata uang.
Penelitian Ery Soedewo dari BRIN dan Nur Ahmad yang diterbitkan jurnal Amerta mengidentifikasi sejumlah dirham Abbasiyah dari abad ke-8 hingga ke-9 Masehi di Situs Bongal. Penanggalan koin tersebut juga dinilai sejalan dengan hasil penanggalan material organik dari ekskavasi.
Para peneliti menyebut Bongal sebagai salah satu situs di Nusantara dengan bukti artefaktual paling awal mengenai interaksi dengan peradaban Islam sebelum abad ke-12.
Temuan itu membuat sejarah awal Islam dapat dilihat tidak hanya dari pendirian kerajaan atau keberadaan elite politik, tetapi juga melalui aktivitas pedagang, pelaut, komunitas pesisir, serta hubungan ekonomi sehari-hari.
"Nah, ini tujuh abad bukan rentang yang pendek dan banyak lokasi-lokasi. Saya kira dengan penemuan kawan-kawan tersebut akan membuka kesempatan dan upaya-upaya untuk menemukan hal-hal yang baru," ujar Irfan.
Rentang yang dimaksud adalah jarak antara bukti interaksi pada sekitar abad ke-7 atau ke-8 dengan kemunculan kekuasaan Islam yang memiliki bukti sejarah lebih kuat pada abad ke-13.
Samudera Pasai, misalnya, lazim ditempatkan dalam historiografi sebagai salah satu kerajaan Islam awal Nusantara dan berkembang sejak sekitar abad ke-13. Koleksi serta sumber sejarah mengenai kerajaan tersebut terutama berasal dari rentang abad ke-13 dan setelahnya.
Karena itu, temuan Bongal dapat membantu mengisi pertanyaan mengenai apa yang terjadi sebelum terbentuknya institusi politik Islam, bukan sekadar mengganti satu tanggal kedatangan Islam dengan tanggal lainnya.
Bongal Terhubung dengan Jalur Perdagangan Global
Secara geografis, Situs Bongal berada di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah. Lokasinya berada di pesisir barat Sumatra dan relatif dekat dengan Barus, kawasan yang sejak lama dikenal memiliki hubungan perdagangan internasional.
Penelitian arkeologi di Barus sebelumnya menemukan artefak asal Persia berupa batu, kaca, dan tembikar pada lapisan yang digunakan sekitar pertengahan abad ke-9 hingga akhir abad ke-11. Bukti tersebut menunjukkan pesisir barat Sumatra memiliki hubungan yang panjang dengan jaringan perdagangan Samudra Hindia.
Bongal kemudian memperpanjang linimasa itu lebih jauh ke belakang.
Dalam seminar mengenai Situs Bongal, arkeolog BRIN Ery Soedewo sebelumnya juga menekankan usia jaringan perdagangan kawasan tersebut.
“Bukti arkeologis, jalur rempah global itu ada jauh sebelum abad 16 Masehi,” ujar Ery.
Koin Umayyah dan Abbasiyah yang ditemukan di Bongal juga memberi petunjuk adanya kontak dengan kawasan Arab dan Persia, sementara artefak lain menunjukkan keterhubungan dengan Asia Selatan dan Asia Timur.
Kombinasi bukti tersebut membuat Bongal semakin dipandang bukan sebagai situs lokal yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari jaringan perdagangan maritim internasional di Samudra Hindia.
BRIN Dorong Arkeologi Islam 'Akar Rumput'
Irfan menilai penelitian berikutnya perlu bergerak lebih jauh daripada sejarah kerajaan, istana, dan tokoh elite.
Arkeologi dapat digunakan untuk mengungkap bagaimana masyarakat biasa menjalani kehidupan, berdagang, berinteraksi dengan pendatang, hingga menerima atau mengembangkan gagasan keagamaan baru.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memahami proses Islamisasi yang kemungkinan berlangsung bertahap dan tidak selalu berawal dari pembentukan kerajaan.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN Herry Yogaswara mengatakan temuan Bongal memang berpotensi melahirkan interpretasi baru dan perdebatan di kalangan ilmuwan.
"Saya kira di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evident (bukti) ya," ujarnya.
Pernyataan itu menjadi penting karena sejarah kedatangan Islam di Indonesia memang memiliki sejumlah teori dan tidak seluruhnya bertumpu pada jenis bukti yang sama. Temuan koin atau barang dari dunia Islam, misalnya, dapat membuktikan kontak dan perdagangan, tetapi diperlukan bukti lain untuk menyimpulkan keberadaan komunitas Muslim lokal, praktik keagamaan, maupun proses konversi penduduk.
Karena itu, BRIN berencana memperluas penelitian untuk mencari bukti yang dapat menghubungkan kepingan-kepingan sejarah tersebut.
BRIN Pertimbangkan Stasiun Riset di Pantai Barat Sumatra
BRIN kini mempertimbangkan pembangunan stasiun lapangan untuk mendukung penelitian jangka panjang di Bongal atau kawasan pesisir barat Sumatra.
Fasilitas itu diharapkan membantu proses ekskavasi, dokumentasi, konservasi artefak hingga penelitian lintas disiplin yang diperlukan untuk menguji berbagai hipotesis mengenai peradaban awal di kawasan tersebut.
"Karena kami juga memikirkan untuk membuat suatu stasiun lapangan dengan riset yang cukup panjang ya di wilayah Bongal atau Pantai Barat Sumatera lah. Secara lebih besar intinya ya untuk memperkuat dari ilmu arkeologi itu sendiri khususnya yang berkaitan dengan peradaban Islam," ucap Herry Yogaswara.
Penelitian berkelanjutan menjadi penting mengingat Bongal telah menghasilkan bukti dari beberapa periode dan latar kebudayaan. Bukti perahu abad ke-7, koin Islam abad ke-8 hingga ke-9, serta berbagai komoditas perdagangan membuat situs tersebut dapat membantu menjelaskan transformasi pesisir barat Sumatra selama berabad-abad.
Jika penelitian lanjutan mampu menemukan bukti permukiman Muslim, praktik keagamaan, inskripsi, makam, atau tinggalan lain yang dapat dikaitkan secara pasti dengan komunitas Islam awal, posisi Bongal dalam historiografi Islam Nusantara berpotensi semakin kuat.
Untuk saat ini, temuan yang telah teruji terutama memperkuat bukti bahwa Nusantara telah berinteraksi dengan jaringan peradaban Islam setidaknya sejak abad ke-8, sementara aktivitas maritim di Bongal sendiri dapat ditarik hingga abad ke-7. Temuan itu membuka sebuah rentang sejarah baru yang masih membutuhkan penelitian lebih mendalam sebelum kesimpulan mengenai proses Islamisasi awal dapat ditetapkan secara lebih pasti.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan arkeologi dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.