Periskop.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) resmi membuka Beasiswa Doctor by Research. Program ini menyasar pencetakan lebih banyak periset bergelar doktor guna memperkuat kapasitas riset nasional.
Direktur Manajemen Talenta BRIN Ajeng Arum Sari menjelaskan, pengembangan talenta riset dirancang sebagai satu ekosistem berkelanjutan. Menurutnya, ekosistem tersebut mencakup program magang mahasiswa, pendidikan magister dan doktor berbasis riset, hingga program pascadoktoral dan visiting researcher.
"Pengembangan talenta riset dirancang sebagai ekosistem yang berkelanjutan, mulai dari program magang mahasiswa, pendidikan magister dan doktor berbasis riset, hingga program pascadoktoral, joint research visit, dan visiting researcher," kata Ajeng dalam laman resmi BRIN, Senin (13/7).
Beasiswa bertajuk Doktor Talenta Riset dan Inovasi (DTRI) ini terbuka bagi lulusan sarjana maupun magister yang ingin menempuh pendidikan doktor. Fokus studinya diarahkan ke bidang-bidang yang jadi prioritas nasional.
Delapan bidang tersebut meliputi kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi (AI dan semikonduktor), hilirisasi dan industrialisasi, pertahanan, material dan manufaktur maju, energi, serta maritim. Cakupan bidang yang luas ini sejalan dengan target BRIN memperkuat riset di sektor-sektor strategis.
Selain DTRI, BRIN juga menawarkan program Doctor by Research (DBR) yang didukung LPDP. Skema ini dijalankan lewat kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI).
Kemitraan DBR juga merambah ke luar negeri, mencakup sejumlah universitas di Inggris, Australia, Prancis, dan Belanda. Pendaftar bisa memilih jalur studi di kampus dalam negeri maupun luar negeri sesuai kualifikasi yang dipenuhi.
Dari sisi syarat umum, pendaftar wajib berstatus warga negara Indonesia dan bukan CPNS, TNI, atau POLRI. Indeks prestasi kumulatif minimal 3,25 dari skala 4,00 pada jenjang studi sebelumnya juga menjadi syarat wajib.
Batas usia pendaftar ditetapkan maksimal 40 tahun untuk pelamar umum dan maksimal 42 tahun bagi pelamar berstatus PNS. Selain syarat akademik dan usia, kemampuan bahasa Inggris juga jadi penentu kelayakan.
Untuk tujuan studi dalam negeri, skor minimal yang disyaratkan adalah TOEFL ITP 530, TOEFL iBT 70, PTE Academic 50, IELTS 6,0, atau Duolingo 110. Sementara untuk tujuan luar negeri, skornya lebih tinggi, yakni TOEFL iBT 80, PTE Academic 58, IELTS 6,5, atau Duolingo 120.
Proses seleksi terdiri dari tiga tahap, yakni seleksi administrasi, seleksi bakat skolastik, dan seleksi substansi. Selama menjalani studi, penerima beasiswa tetap diperbolehkan bekerja.
Usai lulus, alumni beasiswa wajib kembali dan mengabdi di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun, atau dikenal dengan rumus 2n+1. Alumni juga berkesempatan mengikuti program pascadoktoral atau program mobilitas periset di BRIN.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar