Defisit Anggaran AS Melonjak ke Rp7.700 Triliun, Utang Hingga Rp713 Kuadriliun
Defisit anggaran Amerika Serikat pada Juli tembus Rp7.700 triliun, dipicu lonjakan biaya Medicare dan beban bunga utang yang terus menggerus fiskal negara.

Periskop.id - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) melaporkan defisit anggaran bulanan tertinggi dalam lebih dari lima tahun. Defisit pada Juli tercatat US$432,3 miliar atau setara Rp7.700 triliun, naik sekitar 48% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadi defisit bulanan terbesar sejak Maret 2021. Lonjakan ini terjadi di tengah kenaikan biaya Medicare, program jaminan kesehatan AS, serta beban pembayaran bunga utang pemerintah federal yang terus menekan kondisi fiskal negara.
Pengeluaran Medicare pada Juli mencapai US$174 miliar, naik dari US$103 miliar pada Juni. Pos ini menjadi belanja terbesar bulan tersebut, jauh melampaui US$141 miliar untuk Social Security dan US$104 miliar untuk pembayaran bunga bersih utang nasional, menurut laporan yang dimuat CNBC International, Kamis (13/8).
Secara kumulatif, belanja Medicare sepanjang tahun sudah menembus US$955 miliar. Pengembalian dana tarif turut membebani anggaran hingga US$33 miliar, seiring pemerintah AS terus mengembalikan sejumlah tarif yang sebelumnya dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat (MA).
Anggaran pemerintah juga terdampak US$99 miliar akibat hari pertama bulan Juli jatuh pada hari nonkerja. Kondisi ini mempercepat pencairan berbagai tunjangan, termasuk Supplemental Security Income dan pembayaran Medicare.
Pembiayaan utang untuk keseluruhan tahun fiskal kini menjadi pos pengeluaran terbesar ketiga, setelah Social Security dan Medicare. Akumulasi defisit selama 10 bulan pertama tahun fiskal pemerintah AS pun mendekati US$1,8 triliun, melampaui capaian periode sama pada 2025.
Sepanjang tahun fiskal berjalan, pemerintah AS telah membayar US$1,17 triliun untuk utang nasional yang kini bernilai US$39,9 triliun atau sekitar Rp713 kuadriliun. Sekitar US$32,1 triliun dari total tersebut merupakan utang yang dipegang publik.
Biaya pembayaran utang itu naik dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai US$1,01 triliun. Pembayaran bunga bersih, yakni total bunga yang dibayarkan Departemen Keuangan dikurangi bunga yang diterima, mencapai US$931 miliar.
Presiden AS Donald Trump selama bertahun-tahun mendesak Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan suku bunga acuan sebagai salah satu cara menekan biaya utang pemerintah. Trump berhenti mengkritik bank sentral tersebut sejak Kevin Warsh, calon pilihannya, mengambil alih posisi Ketua The Fed pada Mei.
Sebelumnya, pasar memperkirakan The Fed justru akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang sudah berada di atas target 2% selama lebih dari lima tahun. Data inflasi terbaru yang relatif terkendali serta laporan ketenagakerjaan yang lemah kemudian mengurangi ekspektasi tersebut.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Federal Reserve (The Fed), dan Donald Trump dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.