Harga Emas Dunia Diproyeksi Menguat Pekan Ini
Setelah reli lebih dari 7% sepekan, mayoritas analis Wall Street dan investor ritel memperkirakan harga emas dunia masih akan menguat pekan ini.

Periskop.id - Harga emas dunia diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan pekan ini. Pada Jumat (7/8), emas spot tercatat melonjak 2,39% ke level US$4.341,93 per troy ons, didorong oleh ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga.
Senior Market Strategist Forex.com, James Stanley, menyatakan masih bersikap bullish terhadap emas. Ia menilai ketidakpastian ekonomi global membuat The Fed cenderung menahan kebijakan moneternya, sehingga tren akumulasi emas berpotensi berlanjut.
“Tren akumulasi kembali menguat, dan saya tidak memperkirakan hal itu akan berhenti,” ujar Stanley, dikutip Senin (10/8).
Ia menambahkan, pergerakan emas untuk bertahan di atas level US$4.000 per troy ons membutuhkan waktu. Meski demikian, ruang kenaikan pada pekan ini diperkirakan lebih terbatas dibandingkan pekan sebelumnya.
Sebelumnya, harga emas sempat melesat lebih dari 3% dan menyentuh level tertinggi sejak 17 Juni 2026. Secara mingguan, emas menguat 7,34%, menjadi kinerja terbaik sejak pekan yang berakhir pada 19 Januari 2026.
Lonjakan tersebut terjadi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan pelemahan yang jauh lebih besar dari perkiraan pasar. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September kini berada di bawah 50%. Padahal, sebelum rilis data ketenagakerjaan pada Jumat, peluang kenaikan suku bunga sempat diperkirakan mendekati 60%.
Survei mingguan Kitco News juga menunjukkan sentimen bullish di kalangan pelaku pasar. Dari 19 analis Wall Street yang berpartisipasi, sebanyak 16 analis atau 84% memperkirakan harga emas akan kembali naik pekan ini. Sementara itu, dua analis atau 11% memprediksi penurunan, dan satu analis atau 5% bersikap netral.
Optimisme serupa terlihat di kalangan investor ritel. Dari 241 responden survei daring Kitco, sebanyak 166 orang atau 68,9% memperkirakan emas akan menguat. Sebanyak 37 responden atau 15,4% memprediksi penurunan, sedangkan 38 responden atau 15,8% memilih bersikap netral.
Senior Market Analyst Barchart.com, Darin Newsom, juga menyampaikan pandangan bullish terhadap emas. Namun, ia mengingatkan bahwa rilis data inflasi Amerika Serikat pada pekan ini berpotensi menjadi tantangan bagi reli logam mulia tersebut.
Menurut Newsom, perubahan ekspektasi kebijakan moneter The Fed dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pergerakan kedua indikator tersebut pada akhirnya akan berdampak pada daya tarik emas di mata investor.
Di sisi lain, reli hampir 8% dalam sepekan juga membuka peluang terjadinya aksi ambil untung. Kondisi ini berpotensi membuat pergerakan harga emas menjadi lebih volatil setelah lonjakan tajam dalam waktu singkat.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai harga emas dunia, Federal Reserve (The Fed), dan Emas dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.