Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Menyusut Jadi US$0,9 Miliar, Arus Modal Jadi Penopang
NPI Indonesia defisit US$0,9 miliar pada kuartal II 2026, menyusut dari US$9,1 miliar berkat surplus transaksi modal dan finansial US$12 miliar

Periskop.id - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit US$0,9 miliar pada kuartal II 2026, menyusut tajam dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Perbaikan terutama ditopang masuknya investasi langsung dan portofolio yang membuat transaksi modal dan finansial berbalik mencatat surplus.
Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi modal dan finansial membukukan surplus US$12 miliar pada kuartal II 2026. Capaian tersebut membaik signifikan setelah pada kuartal I 2026 mengalami defisit US$4,8 miliar.
Investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi seiring terjaganya persepsi investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi Indonesia. Sementara investasi portofolio juga membaik didukung kenaikan imbal hasil sejumlah instrumen keuangan domestik.
Sebelumnya, BI mencatat investasi portofolio asing sepanjang kuartal II 2026 membukukan net inflows sebesar US$8,5 miliar, terutama mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Perbaikan tersebut menjadi faktor penting yang menahan tekanan terhadap NPI ketika transaksi berjalan justru mengalami pelebaran defisit.
Defisit Transaksi Berjalan Melebar
Pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan tercatat US$12,5 miliar atau setara 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka itu meningkat tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat defisit US$3,6 miliar atau 1% terhadap PDB.
Pelebaran defisit dipengaruhi meningkatnya defisit perdagangan minyak dan gas akibat kenaikan impor minyak di tengah tingginya harga minyak dunia. Pada saat bersamaan, surplus perdagangan nonmigas mengecil karena impor untuk menopang kegiatan ekonomi domestik meningkat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$137,24 miliar, melonjak 18,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara ekspor mencapai US$140,81 miliar atau tumbuh 4,13%.
Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada semester I 2026 masih mencatat surplus US$3,58 miliar. Surplus nonmigas mencapai US$19,35 miliar, tetapi sebagian besar tergerus defisit migas sebesar US$15,77 miliar.
Kondisi perdagangan bahkan sempat mengalami tekanan pada Mei 2026 ketika impor mencapai US$24,81 miliar atau naik 22,16% secara tahunan, sedangkan ekspor sebesar US$23,20 miliar. Neraca perdagangan pada bulan tersebut mengalami defisit sekitar US$1,61 miliar.
Selain neraca perdagangan, defisit pendapatan primer pada kuartal II 2026 turut meningkat seiring bertambahnya pembayaran pendapatan primer. Sementara surplus pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.
Cadangan Devisa Tetap US$145,6 Miliar
Di tengah dinamika tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap berada di level US$145,6 miliar.
Jumlah itu setara dengan pembiayaan sekitar 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
BI sebelumnya menilai ketahanan eksternal Indonesia masih perlu terus diperkuat karena ketidakpastian global tetap tinggi. Tekanan berasal antara lain dari konflik geopolitik, kenaikan harga energi, pergerakan suku bunga global, serta perubahan arus modal ke negara berkembang.
Perbaikan aliran modal juga masih berlanjut memasuki kuartal III. BI mencatat investasi portofolio asing hingga 14 Agustus 2026 membukukan net inflows sebesar US$1,8 miliar.
BI memperkirakan prospek NPI ke depan tetap terjaga. Defisit transaksi berjalan diproyeksikan mengecil seiring perbaikan ekspor yang didukung kenaikan harga sejumlah komoditas global, termasuk komoditas utama ekspor Indonesia, serta dampak penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat.
Transaksi modal dan finansial juga diperkirakan tetap mencatat surplus karena instrumen keuangan domestik masih menawarkan imbal hasil yang menarik serta prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap positif.
“Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso.
Perkembangan NPI kuartal II tersebut juga menjadi perhatian pasar karena menunjukkan dua arah berbeda dalam sektor eksternal. Di satu sisi, tekanan transaksi berjalan meningkat akibat kebutuhan impor yang tinggi. Namun, di sisi lain, masuknya investasi dan modal portofolio mampu menekan defisit NPI secara keseluruhan secara signifikan dari US$9,1 miliar menjadi hanya US$0,9 miliar.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Ramdan Denny Prakoso, Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.