Keuangan

Inflasi Medis Indonesia 17,8%, Merdeka Finansial Masih Jadi PR

Inflasi medis Indonesia diproyeksi 17,8% pada 2026, sementara ketahanan finansial masih menjadi tantangan di tengah tingginya biaya kesehatan

22 jam yang lalu · 5 mnt baca
Inflasi Medis Indonesia 17,8%, Merdeka Finansial Masih Jadi PR
Di tengah sejumlah tantangan hidup dan meningkatnya biaya kesehatan, anak muda harus mempekuat ketahanan finansial untuk menghadapi berbagai risiko dan tujuan keuangan di masa depan. dok Prudential
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kemerdekaan finansial masih menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia di tengah biaya hidup dan kesehatan yang terus berubah. Biaya medis di Indonesia diproyeksikan meningkat 17,8% pada 2026, sementara kemampuan masyarakat menghadapi guncangan keuangan belum sepenuhnya kuat.

Gambaran tersebut terlihat dari Financial Wellbeing Index Prudential plc dan proyeksi Mercer Marsh Benefits. Keduanya menunjukkan persoalan finansial saat ini tidak lagi cukup diukur dari pendapatan, tetapi juga kemampuan memiliki dana cadangan dan menanggung pengeluaran besar yang datang secara tiba-tiba.

Financial Wellbeing Index Prudential melibatkan 7.707 orang berusia 18-60 tahun di delapan pasar Asia, yakni Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Survei dilakukan secara daring pada September-Desember 2025.

Hasilnya, Indonesia mencatat skor kesehatan finansial 62,0 dari skala 100, berada di bawah Vietnam yang mencapai 65,1 tetapi lebih tinggi dibandingkan enam pasar lain dalam studi tersebut.

Namun, ada satu catatan penting. Angka 45% yang merasa mampu menghadapi pengeluaran besar tak terduga merupakan hasil secara regional di delapan pasar Asia, bukan khusus Indonesia. Studi yang sama juga menunjukkan kurang dari separuh responden regional atau 47% merasa aman ketika memikirkan masa depan finansial mereka.

Di Indonesia sendiri, Prudential sebelumnya mencatat 43% responden memiliki pekerjaan sampingan, sementara 82% menempatkan keluarga sebagai prioritas dalam pengelolaan keuangan. Kondisi tersebut memperlihatkan tambahan pendapatan tidak selalu identik dengan ketahanan finansial yang sudah mapan.

Biaya Medis Diproyeksi Naik 17,8%

Tantangan menjadi semakin nyata ketika biaya kesehatan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan inflasi umum. Mercer Marsh Benefits dalam Health Trends 2026 memproyeksikan medical trend rate Indonesia mencapai 17,8% pada 2026, sedangkan rata-rata Asia sekitar 12,5%. Medical trend menggambarkan perubahan biaya klaim kesehatan per orang, yang dipengaruhi antara lain kenaikan harga layanan, peningkatan utilisasi, kondisi penyakit, dan penggunaan teknologi medis yang semakin maju.

Angka tersebut perlu dibedakan dengan inflasi harga konsumen nasional. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88% secara tahunan. Dengan kata lain, proyeksi 17,8% bukan angka inflasi umum versi BPS, melainkan estimasi kenaikan biaya medis dalam konteks manfaat dan klaim kesehatan.

Mercer Marsh Benefits menyebut kanker, penyakit sistem peredaran darah, dan gangguan muskuloskeletal tetap menjadi beberapa penyebab utama klaim berdasarkan nilai biaya. Survei globalnya mencakup 268 perusahaan asuransi di 67 pasar.

Kenaikan juga terlihat dalam data internal klaim Prudential Indonesia dan laporan industri yang digunakan perusahaan. Untuk jenis tindakan dan kelas rumah sakit yang dibandingkan pada periode 2023-2026, biaya kamar VIP disebut meningkat dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2,35 juta, atau sekitar 57%.

Pada periode yang sama, biaya perawatan neurologi dalam kategori yang dibandingkan naik dari sekitar Rp55,2 juta menjadi Rp220,6 juta, sedangkan perawatan kanker meningkat dari sekitar Rp81,3 juta menjadi Rp273,8 juta. Data tersebut merupakan gambaran kasus dan kelas perawatan tertentu sehingga tidak dapat langsung diartikan sebagai kenaikan rata-rata seluruh biaya rumah sakit di Indonesia.

Literasi Keuangan Naik, Ketahanan Belum Otomatis Terjamin

Dari sisi pengetahuan keuangan, Indonesia sebenarnya menunjukkan perbaikan.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan bersama BPS mencatat indeks literasi keuangan mencapai 66,46%, meningkat dari 65,43% pada 2024. Sementara indeks inklusi keuangan naik dari 75,02% menjadi 80,51%.

Data tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat memiliki akses terhadap produk dan layanan keuangan. Namun, akses belum otomatis berarti seseorang memiliki dana darurat, pengelolaan utang yang sehat, perlindungan memadai, atau aset untuk kebutuhan masa depan.

Perencana keuangan Prita Ghozie sebelumnya mengatakan kondisi keuangan yang sehat menjadi salah satu dasar untuk mengukur kemerdekaan finansial.

“Merdeka finansial ditandai dengan kondisi keuangan yang sehat: memiliki cashflow bulanan positif, pengelolaan utang dengan sehat, memiliki dana darurat, dan memiliki aset untuk masa depan,” ujar Prita.

Tantangan finansial juga tidak hanya menyasar kelompok miskin. BPS mencatat angka kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 turun menjadi 8,07% atau 22,93 juta orang. Meski membaik, angka tersebut menunjukkan masih ada puluhan juta penduduk dengan ruang finansial yang sangat terbatas untuk menyerap biaya tidak terduga.

Prudential Dorong Evaluasi Keuangan dan Perlindungan

Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth menilai, kesiapan finansial perlu dipandang sebagai proses yang terus berubah mengikuti kondisi hidup seseorang.

Menurutnya, kesiapan finansial merupakan proses yang perlu dibangun dan dievaluasi secara berkelanjutan. Perubahan dalam kehidupan maupun kondisi ekonomi, lanjutnya, dapat memengaruhi kebutuhan seseorang.

“Sehingga penting bagi masyarakat untuk terus memahami kondisi finansial dan perlindungan yang dimiliki. Melalui semangat ‘Janji, jadi nyata’, kami bersama para Mitra Bisnis Agency siap mendampingi nasabah untuk memahami kebutuhannya, sehingga keputusan yang diambil dapat lebih sesuai dengan kondisi dan tujuan finansial masing-masing,” bebernya. 

Menurut Prudential, evaluasi dapat dilakukan dengan memahami posisi arus kas, memperkirakan kebutuhan masa depan, menyiapkan diri terhadap risiko, serta meninjau kembali perlindungan yang sudah dimiliki.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika kebutuhan seseorang berubah akibat pernikahan, memiliki anak, perubahan pekerjaan, kondisi kesehatan, hingga kenaikan biaya hidup.

Dari perspektif kesehatan finansial, perlindungan juga bukan pengganti dana darurat maupun tabungan. Keduanya memiliki fungsi berbeda. Dana darurat dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak yang relatif terukur, sedangkan asuransi berfungsi memindahkan sebagian risiko finansial tertentu sesuai manfaat, batas, pengecualian, serta ketentuan polis.

Karena itu, kemampuan membayar premi secara berkelanjutan dan memahami isi perlindungan tetap menjadi faktor penting sebelum masyarakat mengambil keputusan.

Prudential Bayar Klaim Rp4,4 Triliun pada Kuartal I 2026

Prudential Indonesia mencatat pembayaran klaim dan manfaat sebesar Rp4,4 triliun kepada 161.194 penerima manfaat pada kuartal I 2026. Pada 2025, perusahaan membayarkan klaim dan manfaat sekitar Rp16 triliun kepada 332.122 penerima.

Sementara Prudential Syariah membayarkan klaim Rp529 miliar kepada lebih dari 21 ribu penerima pada kuartal I 2026 setelah menyalurkan Rp2,2 triliun kepada 68.922 penerima sepanjang 2025.

Besarnya pembayaran klaim tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya eksposur biaya ketika risiko kesehatan atau kehidupan benar-benar terjadi.

Namun, ukuran “merdeka finansial” pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan produk keuangan. Kemampuan menjaga arus kas tetap sehat, menyediakan dana darurat, mengelola utang, menyiapkan kebutuhan jangka panjang serta memiliki perlindungan sesuai kemampuan menjadi bagian dari fondasi yang saling melengkapi.

Di tengah proyeksi biaya medis yang naik dua digit, tantangan masyarakat ke depan adalah memastikan kenaikan biaya tidak menggerus tabungan maupun tujuan finansial jangka panjang. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, kemerdekaan finansial masih menjadi proses yang harus dibangun secara bertahap pada tingkat rumah tangga.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Prudential, keuangan, Ketahanan Finansial, dan generasi muda dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.