Periskop.id - Ancaman abrasi, banjir rob hingga penurunan muka tanah membuat perlindungan pesisir Jakarta semakin mendesak. Di tengah kondisi tersebut, Prudential Indonesia bersama CarbonEthics menambah 5.500 bibit mangrove di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, yang diproyeksikan mampu menyerap 181,5 ton setara karbon dioksida atau CO₂e secara kumulatif selama 20 tahun.
Penanaman tersebut menjadi kelanjutan program restorasi yang dilakukan Prudential sejak 2022. Perusahaan mencatat total mangrove yang telah ditanam hingga 2026 mencapai 30.800 pohon. Sebelumnya, laporan resmi Prudential mencatat jumlah tanaman mangrove kumulatif mencapai 25.300 pohon hingga akhir 2025.
Aksi itu digelar dalam rangka Hari Mangrove Sedunia sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan kawasan pesisir terhadap perubahan iklim. Selain penanaman di Pulau Harapan, lebih dari 50 karyawan dan tenaga pemasar Prudential mengikuti kegiatan edukasi serta seremoni penanaman di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Jakarta Utara.
Direktur Kepatuhan sekaligus Chief Risk & Compliance Officer Prudential Indonesia Maria Rosalinda mengatakan, perlindungan lingkungan menjadi bagian dari upaya perusahaan menciptakan manfaat jangka panjang. Menurutnya, sebagai perusahaan asuransi jiwa yang memberikan perlindungan jangka panjang, pihaknya percaya keberlanjutan juga berarti menjaga lingkungan tempat masyarakat hidup dan bertumbuh.
"Melalui penanaman mangrove ini, kami ingin mengajak karyawan dan tenaga pemasar untuk berkontribusi langsung dalam menjaga ekosistem pesisir. Langkah sederhana yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang, sejalan dengan semangat kami: Dari Prudential Untuk Bumi,” jelas Maria dalam keterangannya, Jumat (7/8).
Jakarta Turun Rata-rata 5,71 Cm per Tahun
Penanaman mangrove berlangsung ketika wilayah pesisir Jakarta menghadapi tekanan lingkungan yang tidak ringan. Studi yang diterbitkan Jurnal Teknologi Lingkungan BRIN pada 2024 menemukan rata-rata laju penurunan muka tanah Jakarta mencapai 5,71 sentimeter per tahun, dengan penurunan dominan terdeteksi di Jakarta Utara dan Jakarta Barat.
Penelitian tersebut mengidentifikasi eksploitasi air tanah berlebihan dan konsolidasi alami tanah aluvial sebagai dua faktor yang berpengaruh signifikan terhadap penurunan muka tanah Jakarta. Kondisi itu dapat memperbesar dampak banjir di kota pesisir, terlebih ketika dikombinasikan dengan kenaikan muka laut dan banjir rob.
Mangrove sendiri bukan solusi tunggal untuk persoalan penurunan muka tanah. Namun, keberadaan ekosistem tersebut dapat memperkuat perlindungan pesisir dengan meredam abrasi, menyimpan karbon serta menyediakan habitat bagi berbagai biota.
Kondisi mangrove Jakarta juga masih membutuhkan pemulihan. Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan luas mangrove ibu kota pada 2024 mencapai 608,22 hektare, tetapi 36,54 hektare di antaranya masuk kategori jarang. Pemantauan pada 25 lokasi juga menemukan 9,95% tegakan mangrove mengalami kerusakan akibat sampah kiriman laut, limbah domestik, gangguan fisik hingga banjir rob.
“Kita perlu memperkuat ekosistem mangrove karena memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi. Karena itu, diperlukan perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan yang berkelanjutan,” ujar Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto.
Penanaman Mangrove Jakarta Terus Diperluas
Program Prudential menjadi bagian dari sejumlah kegiatan rehabilitasi mangrove yang tengah berlangsung di kawasan pesisir Jakarta.
Pemprov DKI Jakarta mencatat 54.038 bibit mangrove telah ditanam pada Januari hingga Juni 2026 di lahan seluas 4,1 hektare. Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 terdapat 87.796 bibit mangrove yang ditanam pada area sekitar 5,94 hektare.
Pada peringatan Hari Mangrove Sedunia, Pemprov DKI kembali melakukan penanaman serentak 21.060 bibit di lima kawasan pesisir, termasuk Hutan Produksi Angke Kapuk, Hutan Lindung Angke Kapuk dan kawasan Muara Angke. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, sekolah, komunitas dan masyarakat.
Sektor swasta juga mulai terlibat lebih luas. Pada April lalu, sebanyak 3.000 mangrove ditanam di pesisir Rusunawa Marunda melalui kolaborasi dengan Pupuk Indonesia. Sebelumnya, PT Finnet Indonesia melakukan penanaman mangrove di kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk sebagai bagian dari program keberlanjutan perusahaan.
Diproyeksikan Serap 181,5 Ton CO₂e
Dalam program terbaru Prudential, CarbonEthics memproyeksikan 5.500 mangrove yang ditanam memiliki potensi menyerap 181,5 ton CO₂e selama periode 20 tahun. Angka tersebut merupakan proyeksi dari program penanaman sehingga realisasi serapan karbon tetap dipengaruhi pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup tanaman, kondisi lokasi dan pengelolaan ekosistem dalam jangka panjang.
Co-Founder dan Chief Executive Officer CarbonEthics Bimo Soewadji menilai, manfaat restorasi baru akan terasa optimal apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak.
"Mangrove memberikan manfaat yang dirasakan dalam jangka panjang, baik bagi lingkungan maupun masyarakat pesisir. Upaya restorasi akan memberikan hasil yang lebih luas ketika dijalankan melalui kolaborasi berbagai pihak. Kami mengapresiasi Prudential Indonesia yang terus mendukung pelestarian ekosistem mangrove melalui langkah yang konsisten dan melibatkan partisipasi karyawan secara langsung."
Upaya memperkuat ekosistem mangrove juga berkaitan dengan agenda mitigasi perubahan iklim nasional. Kementerian Kehutanan menargetkan sektor Forestry and Other Land Use atau FOLU mencapai net sink minus 140 juta ton CO₂e pada 2030, yakni kondisi ketika serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lebih tinggi dibandingkan emisinya. Rehabilitasi dan reforestasi mangrove termasuk dalam langkah yang didorong untuk meningkatkan serapan serta penyimpanan karbon.
Di internal perusahaan, Prudential juga mencatat konsumsi air operasional di gedung tempat perusahaan beroperasi turun 67% sepanjang 2025, sementara emisi kantor pusat dan kantor pemasaran di enam kota turun hampir 17%.
Dengan tekanan pesisir Jakarta yang terus meningkat, tantangan program penanaman mangrove selanjutnya bukan hanya mengejar jumlah bibit yang ditanam. Pemeliharaan, tingkat kelangsungan hidup tanaman dan pemulihan ekosistem secara berkelanjutan menjadi faktor penting agar mangrove benar-benar mampu menjalankan fungsi sebagai benteng alami pesisir sekaligus penyimpan karbon dalam jangka panjang.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar