iklan periskop
Komoditas

Harga Emas Melonjak ke Level Tertinggi, Dolar AS Melemah

Harga emas dunia menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir usai dolar AS melemah akibat rencana buyback obligasi Departemen Keuangan AS.

2 hari yang lalu · 2 mnt baca
Harga Emas Melonjak ke Level Tertinggi, Dolar AS Melemah
Ilustrasi emas batang 24 karat. Foto/Ilustrasi: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada Jumat (22/8/2026) waktu setempat. Kenaikan mingguan ketiga berturut-turut ini terjadi saat dolar AS melemah akibat rencana pembelian kembali (buyback) obligasi oleh Departemen Keuangan AS.

Menurut laporan CNBC, harga emas di pasar spot naik 2,3% menjadi US$4.619,57 per ounce, sementara kontrak berjangka AS melesat 2,4% ke US$4.680,60. Sepanjang pekan ini, emas sudah menguat sekitar 5%, termasuk mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak awal Februari yang terjadi pada Rabu lalu.

"Faktor besarnya tentu saja teknikal, langkah selanjutnya adalah menuju US$4.700 jika momentum ini berlanjut. Namun saya pikir kenaikan ini juga sangat didorong oleh melemahnya dolar AS," kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek, Jumat (22/8).

Melek menyebut, emas kini bergerak di atas seluruh rata-rata pergerakan (moving average) utamanya. Logam mulia ini berhasil menembus rata-rata pergerakan 200 hari yang dipantau ketat di kisaran US$4.513, sebuah kondisi yang dinilai analis teknikal sebagai sinyal positif alias bullish.

Di sisi lain, nilai tukar dolar AS tertahan dekat level terendahnya sejak pertengahan Mei. Investor dilaporkan mempertanyakan upaya Departemen Keuangan AS menenangkan pasar obligasi, yang justru dinilai berisiko menggerus kepercayaan terhadap mata uang tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Kamis lalu, menyatakan pemerintah dapat memperluas program buyback obligasi lebih jauh. Pernyataan itu muncul sehari setelah kementeriannya mengumumkan rencana melipatgandakan pembelian kembali obligasi berjangka panjang.

Berkurangnya keyakinan pasar terhadap kenaikan suku bunga AS turut membangkitkan minat spekulatif pada emas COMEX dan permintaan ETF emas yang sensitif terhadap suku bunga. Kondisi ini muncul setelah Bank Sentral AS (The Fed) menahan suku bunga pada Juli, ditambah rilis data ekonomi yang melemah.

Peningkatan permintaan opsi beli (call option) emas yang tinggi turut diperkirakan memperkuat pergerakan harga belakangan ini.

Dari sisi permintaan fisik, lonjakan harga belakangan menahan minat pembeli eceran di India. Sementara itu, permintaan di China, sebagai konsumen emas terbesar dunia, disebut tetap stabil.

Data yang dirilis Jumat menunjukkan bank sentral Polandia memperlambat laju pembelian emasnya menjadi 7,8 ton metrik pada Juli.

"Permintaan opsi beli emas melonjak tajam di tengah tingginya kembali permintaan atas perlindungan kebijakan makro global, yang secara mekanis memperkuat lonjakan maupun penurunan harga," tulis Goldman Sachs dalam catatan risetnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Bart Melek, Scott Bessent, Goldman Sachs, dan harga emas dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.