Periskop.id - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Kamis, didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan data inflasi yang sesuai perkiraan pasar. Pelaku pasar juga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga usai Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh belum memberi sinyal jelas soal arah kebijakan moneter selanjutnya.
Mengutip CNBC International harga emas di pasar spot naik 1,1% menjadi US$4.109,94 per ounce. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus bahkan menguat lebih tinggi, yakni 1,9% menjadi US$4.108,30 per ounce.
"Data PCE terlihat sedikit lebih baik dari yang diperkirakan pasar. Jadi untuk saat ini, kondisi inflasi kurang lebih stabil. Namun, pasar minyak akan terus menjadi masalah," kata Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek, Jumat (31/7).
The Fed pada Rabu memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Dalam konferensi pers usai pengumuman itu, Kevin Warsh menegaskan komitmennya menurunkan inflasi, namun belum memberi gambaran jelas soal langkah kebijakan moneter berikutnya.
Harga emas spot sempat menguat sekitar 2% begitu keputusan kebijakan tersebut diumumkan. Peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September 2026 kini diperkirakan hanya 57%, turun dari sekitar 77% sebelum pertemuan Rabu, berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group.
Perubahan ekspektasi ini jadi perhatian pasar emas. Suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama biasanya mengurangi daya tarik emas, sebab logam mulia itu tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Di sisi lain, dolar AS tercatat turun 0,9% seiring penguatan yen Jepang. Pelaku pasar turut mencermati kemungkinan intervensi otoritas Jepang untuk menopang nilai tukar yen yang sempat tertekan.
Pelemahan dolar AS umumnya jadi sentimen positif bagi harga emas. Pasalnya, emas yang diperdagangkan dengan dolar AS jadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
Klaim pengangguran AS pada pekan lalu tercatat naik, namun kenaikannya lebih rendah dari perkiraan. Data pemerintah itu mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil.
Selain kebijakan The Fed, pelaku pasar juga mencermati perkembangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dan inflasi global. Harga minyak bergerak turun tipis seiring investor mempertimbangkan pembicaraan antara Oman dan Iran soal Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Selain emas, sejumlah logam mulia lain juga menguat pada perdagangan tersebut. Harga perak di pasar spot naik 1,5% menjadi US$58,52 per ounce, sementara platinum menguat 1,9% menjadi US$1.641,78 per ounce. Palladium mencatat kenaikan terbesar, melonjak 3,8% menjadi US$1.294,50 per ounce.
Bart Melek menilai perkembangan konflik di Timur Tengah tetap jadi faktor penting yang bisa memengaruhi prospek inflasi ke depan. Kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik, menurutnya, berpotensi kembali menekan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.
"Inflasi mungkin sedikit terkendali saat ini, tetapi kondisi itu dapat dengan mudah berubah jika ketidakstabilan di Timur Tengah terus berlanjut," ujar Melek.
Tinggalkan Komentar
Komentar