Kota

Transportasi Sumber Utama Polusi Jakarta, B2W Dorong Sepeda Jadi Moda Harian

B2W Indonesia mendorong sepeda menjadi transportasi harian untuk menekan emisi Jakarta serta meminta jalur sepeda diperluas, dilindungi dan terintegrasi

6 hari yang lalu · 4 mnt baca
bike to work, jalur sepeda
Komunitas Bike to Work Indonesia yang didukung Komisi Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) dan Koalisi Pejalan Kaki, menyuarakan aksi dilarang terobos jalur sepeda. dok. B2W Indonesia
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia mendorong penggunaan sepeda sebagai moda transportasi harian, bukan sekadar untuk olahraga dan rekreasi. Dorongan ini menguat di tengah persoalan kualitas udara Jakarta, ketika sektor transportasi masih menjadi salah satu sumber utama pencemaran di ibu kota.

Ketua Umum B2W Indonesia Hendro Subroto mengatakan, masyarakat perlu memiliki pilihan mobilitas yang lebih ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor.

“B2W Indonesia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai memprioritaskan sepeda dalam aktivitas harian dan bersama-sama merebut kembali hak atas udara bersih di langit Jakarta," tegas Hendro di Jakarta, Jumat (21/8).

Dorongan tersebut sejalan dengan kondisi pencemaran udara Jakarta. Ringkasan Eksekutif Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) DKI Jakarta 2026 menyebut emisi kendaraan bermotor masih menjadi sumber pencemar terbesar. Sektor transportasi menyumbang mayoritas polutan seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat PM2.5 dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap total emisi perkotaan.

Kajian inventarisasi emisi Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga sebelumnya menemukan transportasi menyumbang 67,03% emisi PM2.5, 72,40% NOx, 57,99% PM10, dan 96,36% karbon monoksida berdasarkan inventarisasi 2020. Studi berbasis sampel udara pada periode yang sama memperkirakan kontribusi transportasi terhadap PM2.5 mencapai 32% hingga 41% pada musim hujan dan 42% hingga 57% saat musim kemarau.

Data tersebut memperlihatkan, perubahan pola mobilitas menjadi salah satu bagian dari strategi jangka panjang memperbaiki kualitas udara. Sepeda tidak menghasilkan emisi knalpot saat digunakan dan dapat berfungsi sebagai penghubung perjalanan jarak pendek menuju transportasi massal.

B2W Minta Jalur Sepeda Tak Sekadar Pajangan

B2W Indonesia bersama Komisi Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) dan Koalisi Pejalan Kaki meminta pemerintah tidak hanya mempertahankan jalur sepeda yang telah ada, tetapi juga memperluas dan mengintegrasikannya.

Menurut mereka, jalur sepeda perlu membentuk jaringan yang aman dari kawasan permukiman menuju pusat kegiatan, perkantoran, hingga simpul transportasi seperti halte dan stasiun.

Desakan tersebut relevan dengan kondisi jaringan sepeda Jakarta saat ini. Data Dinas Perhubungan DKI yang dikutip RRI mencatat total jaringan jalur sepeda mencapai 313,6 kilometer. Namun, baru 32,31 kilometer yang berupa jalur terproteksi, sedangkan 23,29 kilometer terintegrasi dengan trotoar. Sisanya menggunakan marka di badan jalan.

Kondisi jalur yang hanya menggunakan marka menjadi salah satu persoalan karena lebih mudah dimasuki kendaraan bermotor, dijadikan tempat parkir, atau kehilangan fungsi sebagai ruang aman bagi pesepeda.

Persoalan tersebut muncul bersamaan dengan rencana Pemprov DKI Jakarta mengkaji kembali jaringan jalur sepeda karena tingkat penggunaannya dinilai belum optimal. Di sisi lain, kendaraan bermotor juga masih kerap menerobos jalur tersebut.

Akademisi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai, evaluasi seharusnya diarahkan untuk memperbaiki kualitas jaringan, bukan sekadar melihat jumlah penggunanya saat ini.

“Keberadaan jalur sepeda pada dasarnya sangat penting, dengan catatan tidak dibangun secara setengah-setengah atau parsial,” ujar Djoko.

Menurutnya, jalur sepeda perlu memiliki perlindungan fisik yang lebih baik serta terhubung dengan permukiman, pusat aktivitas dan angkutan umum. Fasilitas seperti tempat parkir sepeda, loker hingga ruang bilas juga diperlukan agar bersepeda lebih realistis menjadi pilihan perjalanan sehari-hari.

B2W juga mengusulkan fasilitas serupa disediakan di kantor, pusat perbelanjaan, stasiun, dan halte. Selain itu, jalur sepeda perlu disterilkan melalui pengawasan dan penegakan hukum terhadap kendaraan bermotor yang menggunakannya.

Sepeda Bisa Jadi Feeder Transportasi Umum

B2W sebelumnya telah mendorong pendekatan yang menghubungkan sepeda dengan transportasi massal. Saat memperingati World Bicycle Day pada Juni 2026, Hendro mengatakan sepeda dan aktivitas berjalan kaki dapat berfungsi sebagai feeder menuju KRL, MRT, LRT maupun TransJakarta.

Menurut Hendro, pengembangan transportasi rendah emisi membutuhkan keberpihakan kebijakan agar masyarakat memiliki insentif untuk meninggalkan kendaraan pribadi.

“Sudah seharusnya para pengambil kebijakan berpihak pada mobilitas berkelanjutan. Jika kendaraan listrik mendapatkan berbagai insentif, sepeda yang jelas-jelas nol emisi hingga kini masih banyak bergantung pada kesadaran sukarela masyarakat. Akan sangat baik jika perusahaan memberikan insentif, bonus, atau penghargaan bagi karyawan yang berangkat kerja dengan bersepeda,” jelasnya.

Pemprov DKI sendiri menyatakan perubahan perilaku mobilitas menjadi bagian penting dalam pengendalian pencemaran udara. Selain mendorong transportasi umum massal dan memperketat uji emisi, pemerintah daerah menyebut berjalan kaki dan bersepeda sebagai bagian dari solusi jangka panjang untuk mengurangi beban emisi transportasi.

Aktivis Koalisi Pejalan Kaki sekaligus Indonesia Council for Clean Mobility Coalition South East Asia (CMC SEA) Amalia S Bendang menuturkan, sistem transportasi perkotaan perlu memberikan porsi lebih besar bagi perjalanan dengan berjalan kaki, bersepeda dan menggunakan angkutan umum massal.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak selalu bergantung pada mobil atau sepeda motor untuk perjalanan jarak pendek dan memiliki pilihan mobilitas yang lebih aman, manusiawi serta terjangkau.

Bagi B2W, peningkatan penggunaan sepeda tidak dapat hanya mengandalkan kampanye kepada masyarakat. Infrastruktur yang aman, jaringan yang tersambung, integrasi dengan transportasi publik, fasilitas di tempat tujuan hingga perlindungan hukum menjadi faktor yang menentukan apakah masyarakat bersedia menjadikan sepeda sebagai kendaraan sehari-hari.

Di tengah tingginya kontribusi sektor transportasi terhadap polusi Jakarta, komunitas tersebut menilai sepeda perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem transportasi perkotaan, bukan sebatas fasilitas olahraga yang digunakan pada akhir pekan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai sepeda, transportasi, dan Polusi Udara dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.