Tata Pedagang Kramat Jati usai 50 Tahun, Pramono Gratiskan Retribusi 6 Bulan
Pemprov DKI menata kawasan pasar subuh Kramat Jati yang beroperasi di trotoar sejak 1970-an dengan merelokasi 600-an pedagang.

Periskop.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menata kawasan pedagang kaki lima dan pasar subuh di Kramat Jati, Jakarta Timur, yang telah beroperasi di badan jalan serta trotoar selama lebih dari 50 tahun sejak awal dekade 1970-an.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan, penataan dilakukan terhadap sekitar 614 hingga 640 pedagang dengan membaginya ke sejumlah lokasi binaan (Lokbin) dan pasar resmi guna mengembalikan fungsi ruang publik dan jalan raya.
“Pembenahan ini terus terang tidak gampang karena ini sudah berlangsung lebih dari 50 tahun, sejak awal tahun 70-an. Tetapi untuk membuat penertiban-penertiban yang ada di Jakarta, salah satu hal yang perlu dilakukan pembenahan adalah di Kramat Jati ini,” kata Pramono, di Pasar Kramat Jati, Selasa (1/9).
Sebaran alokasi penempatan pedagang meliputi 331 pedagang di Pasar Kramat Jati Sektor 7, 193 pedagang ikan di Lokbin Kramat Jati, 45 pedagang kue di Lokbin Cililitan, serta 45 pedagang di pasar lain kelolaan Perumda Pasar Jaya.
Guna meringankan beban pedagang pada masa awal adaptasi relokasi, Pemprov DKI memutuskan membebaskan iuran retribusi lapak selama setengah tahun ke depan.
“Selain memberikan ruang untuk para pedagang bisa mencari nafkah sekaligus mengembalikan fungsi jalan dan ruang publik, maka untuk tempat ini, Lokbin yang ada di Kramat Jati bagi para pedagang, selama 6 bulan kami beri retribusi atau iurannya kami gratiskan. Rp180.000 per bulan atau Rp6.000 per hari, itu yang digratiskan selama 6 bulan,” ujar Pramono.
Pramono menjelaskan, Pemprov DKI membenahi fasilitas penunjang di lokasi binaan baru, mulai dari perbaikan saluran air, sirkulasi udara, hingga pemasangan kipas angin bagi aktivitas jual beli pasar subuh yang beroperasi pukul 01.00 hingga 05.00 WIB.
Selain itu, Pemprov DKI bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) merancang pembentukan koperasi pedagang untuk menyerap pasokan komoditas pangan.
“Ada gagasan untuk mendirikan koperasi. Koperasi inilah yang kemudian akan menyuplai beberapa rumah sakit-rumah sakit yang dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta, karena pasti di sini ikannya segar dan ikannya juga murah,” jelas Pramono.
Pramono menegaskan penataan kawasan ini mengedepankan pendekatan dialogis dan humanis alih-alih penggusuran sepihak. Pemprov DKI juga menggandeng Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) untuk mempromosikan lokasi baru tersebut kepada masyarakat luas.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pasar Kramat Jati, dan pramono anung dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.