Porsi SBN Valas Naik Jadi 20,61%, Ekonom Soroti Risiko Pelemahan Rupiah
Utang pemerintah per Juni 2026 mencapai Rp10.293,69 triliun. Ekonom menyoroti kenaikan utang dan dampak pelemahan rupiah terhadap utang valas.

Periskop.id - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang pemerintah per Juni 2026 mencapai Rp10.293,69 triliun. Utang tersebut terdiri atas Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.966,79 triliun atau 87,11% dan pinjaman sebesar Rp1.326,90 triliun atau 12,89%.
Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, mengatakan posisi utang pemerintah tersebut meningkat Rp655,79 triliun dibandingkan akhir 2025 yang tercatat sebesar Rp9.637,90 triliun.
Menurutnya, kenaikan tersebut berasal dari peningkatan posisi SBN sebesar Rp579,56 triliun menjadi Rp8.966,79 triliun dari sebelumnya Rp8.387,23 triliun. Sementara itu, pinjaman bertambah Rp76,23 triliun menjadi Rp1.326,90 triliun dari Rp1.250,67 triliun.
Awalil menjelaskan, tambahan utang tersebut salah satunya berasal dari pembiayaan utang dalam APBN yang hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp477,43 triliun. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan nilai utang pemerintah yang berdenominasi valuta asing (valas) ketika dikonversikan ke rupiah.
"Pembiayaan utang sendiri merupakan konsekuensi dari defisit hingga 30 Juni yang sebesar Rp196,5 triliun serta pengeluaran pembiayaan investasi sebesar Rp52,21 triliun," ujar Awalil dalam keterangan yang diterima, Kamis (13/8).
Awalil menilai pembiayaan utang yang jauh melampaui defisit disebabkan kebijakan berutang terlebih dahulu (front loading) untuk keperluan bulan-bulan berikutnya.
Kebijakan itu terkonfirmasi dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) yang sebesar Rp255,5 triliun per akhir Juni 2026. Bisa dikatakan, berutang yang jauh melampaui kebutuhan mengatasi defisit pada kurun waktu tersebut. Sementara faktor pelemahan kurs selama 6 bulan menambah utang sekitar Rp154 triliun.
"Tidak disampaikan secara jelas komposisi denominasi utang pada pengumuman Kemenkeu tentang posisi utang per 30 Juni 2026," ungkapnya.
Namun dalam publikasi berbeda, ungkapnya, tersaji SBN berdenominasi rupiah sebesar Rp7.118,39 triliun. Sedangkan yang berdenominasi valuta asing sebesar Rp1.848,40 triliun.
Tambahan posisi SBN denominasi rupiah sebesar Rp368,17 triliun dari per 31 Desember 2025 yang Rp6.750,23 triliun. Akan tetapi, porsinya turun dari 80,48% menjadi 79,39% atas total SBN.
Sedangkan SBN valas bertambah sebesar Rp211,42 triliun, dari Rp1.636,98 triliun. Porsinya naik, dari 19,52% menjadi 20,61% atas total SBN.
Posisi SBN denominasi dolar Amerika sebenarnya menurun selama 6 bulan ini, dari USD82,46 miliar menjadi USD81,89 miliar. Namun, dinyatakan dalam posisi rupiah justru bertambah Rp87 triliun, dari Rp1.378,71 triliun menjadi Rp1.465,71 triliun.
"Pemerintah memang cukup gencar menerbitkan surat utang negara (SUN) denominasi dolar pada 6 bulan ini, mencapai US$4,7 miliar. Ditambah yang diterbitkan akhir 2025 sebesar US$2 miliar yang diperlakukan sebagai penerbitan 2026. Namun, diimbangi oleh pelunasan karena jatuh tempo yang cukup besar, terutama yang merupakan SBN Syariah," terang dia.
Posisi SBN denominasi Euro meningkat, baik dinyatakan dalam euro maupun rupiah. Dari sebesar EUR9 miliar menjadi EUR12,95 miliar. Dari Rp176,62 triliun menjadi Rp264,21 triliun.
Posisi SBN denominasi Yen Jepang meningkat, baik dinyatakan dalam yen maupun rupiah. Dari sebesar JPY546,40 miliar menjadi JPY620,30 miliar. Dari Rp58,35 triliun menjadi Rp68,43 triliun.
Posisi SBN denominasi Yuan China meningkat, baik dinyatakan dalam yuan maupun rupiah. Dari sebesar CNH6 miliar menjadi CNH15,25 miliar. Dari Rp14,35 triliun menjadi Rp40,20 triliun.
Posisi SBN denominasi dolar Australia tidak berubah, yakni sebesar AUD800 juta. Namun, disajikan dalam denominasi rupiah meningkat, dari Rp8,95 triliun menjadi Rp9,85 triliun.
Terjadi peningkatan pada beberapa denominasi seperti euro, yen, dan yuan.
Akan tetapi, porsinya masih amat kecil dibanding dolar Amerika. Porsi atas total SBN valas dinyatakan dalam rupiah per 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut: dolar Amerika 73,34%, euro 18,41%, yen 4,77%, yuan 2,80%, dolar Australia 0,69%.
Semua mata uang asing yang menjadi denominasi SBN mengalami pelemahan selama 6 bulan ini. Kurs yang menjadi dasar perhitungan Kemenkeu dalam menyajikan posisi SBN antara lain dolar Amerika melemah dari Rp16.720 menjadi Rp17.899, euro dari Rp19.642,26 menjadi Rp20.402,18, yen Jepang dari Rp106,79 menjadi Rp110,31, Yuan China dari Rp2.391,71 menjadi Rp2.636,24, dolar Australia dari Rp11.182,34 menjadi Rp12.310,04.
Ia berpandangan bahwa narasi Kemenkeu belakangan kerap mengedepankan upaya meningkatkan denominasi valas selain dolar, terutama denominasi Yuan China (Panda Bond) dan Yen Jepang (Samurai Bond). Meski secara nominal masih jauh lebih sedikit dibanding dolar Amerika, namun porsi keduanya meningkat selama 6 bulan ini.
Pertimbangan untuk mengatur portofolio utang lebih beragam cukup masuk akal sebagai mitigasi risiko. Akan tetapi, dari dinamika kurs selama enam bulan ini, Yuan China justru melemah 10,22%, melebihi dolar Amerika yang 7,05%. Dalam hal Yen, memang jauh lebih baik, hanya melemah 3,30%.
Penerbitan global bond atau SBN valas mesti menimbang faktor risiko pelemahan kurs rupiah tadi. Bahkan, mencermati perkembangan 6 bulan ini sebenarnya seluruh SBN valas telah menambah posisi serta beban pembayarannya.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai ekonom, nilai rukar rupiah, valas, dan utang pemerintah dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.