Asumsi Rupiah Rp17.500 di RAPBN 2027, Ini Kata Destry
Calon Gubernur BI Destry Damayanti menilai asumsi rupiah Rp17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027 telah mempertimbangkan kondisi pasar dan perekonomian.

Periskop.id - Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 telah mempertimbangkan kondisi pasar dan perekonomian saat ini.
Menurut Destry, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor fundamental dalam jangka panjang dan sentimen pasar dalam jangka pendek. Karena itu, pergerakan rupiah dapat berubah cepat mengikuti perkembangan sentimen global.
"Nah, kalau kita dirapat kemarin dengan pemerintah, pemerintah kan juga sudah menerapkan, menempatkan di era PBN-nya 2027 kan 17.500 Pak, nah jadi paling tidak itu memperhatikan situasi yang saat ini terjadi," kata Destry dalam penyampaian fit and proper test, di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (26/8).
Destry menjelaskan, dari sisi fundamental, kondisi global dan ketidakpastian yang terjadi, termasuk perkembangan di Amerika Serikat, masih memberikan tekanan terhadap rupiah. Namun, ketika sentimen pasar membaik, rupiah dapat bergerak menguat dengan cepat.
"Dan kalau kita lihat pergerakan dari rupiah itu sendiri, sebenarnya kalau melihat dari faktor fundamental, kemudian termasuk juga apa yang terjadi di Amerika, di global dengan ketidakpastian yang tinggi, itu nilai rupiah kita sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang," ungkapnya.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Destry memastikan BI akan terus memanfaatkan momentum ketika sentimen pasar positif. BI juga akan tetap berada di pasar untuk menjaga volatilitas rupiah.
Meski demikian, Destry menekankan penguatan rupiah dalam jangka panjang tidak cukup hanya mengandalkan intervensi atau kebijakan moneter. Indonesia perlu memperkuat fundamental sektor eksternal, terutama dengan meningkatkan ekspor barang dan jasa.
"Jadi menjadi PR tentunya bagi kita semua, pemerintah, Bank Indonesia, dan juga semua masyarakat kita, adalah bagaimana agar ekspor kita bisa kita tingkatkan, kemudian jasa," jelas Destry.
Destry mengatakan tantangan tersebut berkaitan dengan posisi neraca pembayaran Indonesia. Transaksi berjalan masih menghadapi defisit, antara lain karena defisit sektor jasa serta pembayaran pendapatan kepada pihak asing yang bekerja di Indonesia lebih besar dibandingkan pendapatan masyarakat Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Di sisi perdagangan barang, Indonesia juga masih perlu meningkatkan ekspor. Selama ini, tekanan pada transaksi berjalan dapat ditopang oleh transaksi finansial, salah satunya melalui penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI).
"FDI Alhamdulillah tetap kita relatif stabil, portfolio investment, ini yang menjadi PR kita," tambahnya.
Selain memperkuat sektor eksternal, BI juga terus menyesuaikan kebijakan untuk menjaga likuiditas dan memperbaiki transmisi suku bunga ke pasar. Salah satunya dilakukan melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Destry mengatakan BI kini lebih memfokuskan SRBI sebagai instrumen transmisi kebijakan suku bunga agar tingkat suku bunga di pasar dapat lebih rendah dan sejalan dengan suku bunga overnight.
Outstanding SRBI, lanjut dia, telah turun dari posisi tertinggi yang hampir mencapai Rp1.100 triliun menjadi sekitar Rp1.050 triliun. Penurunan tersebut dilakukan secara bertahap untuk menambah likuiditas dan menjaga suku bunga pasar tetap terkendali.
"Nah ini bertahap kami turunkan, untuk menambah likuiditas, dan juga supaya suku bunga di market itu lebih bisa terkendali, dan align juga dengan suku bunga overnight kita," Destry mengakhiri.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Destry Damayanti, Bank Indonesia (BI), Rupiah, dan RAPBN 2027 dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.