Periskop.id - Ahli Geologi dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Bambang Setiawan menyarankan, agar dilakukan pengalihan aliran air dari wilayah pergerakan tanah atau longsoran di Desa Bah Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah, agar tanahnya tidak bergerak cepat.
"Untuk menangani fenomena tersebut dalam jangka pendek, saya menyarankan untuk mengalihkan aliran air permukaan yang ada agar tidak melewati lokasi kejadian," kata Bambang Setiawan di Banda Aceh, Rabu (4/2).
Tetapi, kata Dosen Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik USK ini, pengalihan aliran air, termasuk penentuan lintasan alirannya, juga harus mempertimbangkan kondisi geologi di lapangan.
Seperti diketahui, dalam beberapa bulan terakhir ini, Aceh dihebohkan dengan terjadinya longsoran tanah di Ketol, Kabupaten Aceh Tengah hingga membentuk lubang raksasa. Lubang itu mulanya berbentuk kecil pada awal tahun 2000-an, dan terus bergerak secara bertahap sejak 2004.
Berdasarkan perhitungan tim Geologi Dinas ESDM Aceh, lubang tersebut terus membesar hingga hari ini sudah melebihi 30 ribu meter persegi (m²). Jika dibandingkan pada 2021 lalu sekitar 20.199 m². Artinya terjadi pergerakan 10.000 m² dalam lima tahun terakhir.
Menurut Bambang, fenomena alam (lubang raksasa) di kawasan Ketol Aceh Tengah ini masih menjadi misteri, dan perlu dilakukan penelitian geologi lebih lanjut. Karena secara geologi, kondisi ini berpotensi atau mengarah pada fenomena sinkhole sebagai pemicu munculnya lubang besar tersebut.
Ia menjelaskan, menurut Cameron dkk, 1983 (penyusun peta geologi lembar Takengon, Aceh Tengah), terdapat formasi Sembuang (MPs) berupa batu gamping (limestone) yang mengalasi batuan vulkanik satuan Lampahan (Qvl) di permukaan.
Di sisi lain, batuan vulkanik penyusun dari satuan Lampahan juga memiliki potensi longsor tinggi, khususnya pada lereng-lereng yang curam.
"Permasalahan akan menjadi rumit jika memang fenomena sinkhole yang memicu munculnya lubang raksasa tersebut. Karena, pekerjaan teknis untuk menangani dampak sinkhole ini memerlukan effort dan membutuhkan sumber daya lebih besar dari longsor biasa," ujarnya.
Dua Model
Secara harfiah, lanjut Bambang, sinkhole dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi bawah permukaan yang dihasilkan dari pelarutan batu gamping atau lebih umum dikenal sebagai batu kapur, selama periode geologis.
Dengan kata lain, sinkhole adalah cekungan, disebabkan oleh tanah dan material lain yang amblas ke dalam lubang terbuka atau rongga di bawah permukaan tanah. "Sinkhole biasanya dapat dibedakan dalam dua buah model, yaitu runtuhan (collapse) lapisan penutup atau penurunan (subsidence) lapisan penutup. Hasil penelitian itu diharapkan dapat menyimpulkan mekanisme terbentuknya “lubang raksasa" tersebut," jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan data citra satelit pada 2015, 2021 dan 2025, terdapat peluang lubang raksasa tersebut terus meluas. “Karena citra satelit itu memperlihatkan adanya perluasan lubang ke arah selatan atau mendekati jalan lintas kabupaten," ujarnya.
Maka dari dari itu, selain solusi jangka pendek dengan pengalihan aliran air, dan pemasangan rambu-rambu jalan, untuk penanganan jangka panjangnya, juga harus dilakukan kajian geologi lebih lanjut. Hal ini menurutnya penting, untuk menyimpulkan mekanisme terbentuknya “lubang raksasa” tersebut.
"Upaya-upaya mitigasi teknis untuk penanganan jangka panjang sebaiknya mengacu pada hasil dari penelitian geologi lebih lanjut tersebut," imbuhnya.
Sebelumnya, berdasarkan hasil kajian sementara Dinas ESDM Aceh, pergerakan tanah di sana disebabkan materialnya tersusun di atas tufa vulkanik dari formasi Geureudong (batuan gunung api) yang bersifat lepas, berpori, sehingga mudah menyerap air dan jenuh air.
Kemudian, terdapat rembesan atau aliran air bawah tanah yang mengerosi secara lateral. Saluran drainase dapat meluap dan membebani tanah disana, terutama saat datangnya musim penghujan.
Lalu, kondisi tebing yang curam hampir tegak menambah ketidakstabilan lereng. Serta dapat dipicu oleh hujan dan juga dapat gempa bumi, sehingga lerengnya tidak stabil.
Jaringan Transmisi
semantara itu, menyikapi fenomena ini, PT PLN (Persero) akhirnya merelokasi jalur transmisi Bireuen–Takengon, untuk menghindari risiko sinkhole di Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah. Langkah ini juga menjadi langkah antisipasi melindungi sambungan listrik ke Aceh Tengah dan Bener Meriah dari ancaman longsor.
“Sebagai langkah mitigasi risiko, PLN melakukan pengamanan jaringan transmisi melalui relokasi jalur ke titik yang lebih aman guna menjaga stabilitas sistem kelistrikan,” ujar Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.
Sinkhole merupakan fenomena geologi berupa lubang runtuhan di permukaan tanah yang terbentuk, akibat runtuhan lapisan batuan di bawah permukaan tanah.
Kejadian longsor di Desa Pondok Balik tersebut berpotensi mengganggu jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilovolt (kV) Bireuen–Takengon yang menjadi penghubung utama, pasokan listrik antara Aceh Tengah dan Bener Meriah.
PLN mengerahkan tim transmisi pada Sabtu (31/1), untuk melakukan relokasi jalur transmisi menjauhi area sinkhole. Jaringan yang sebelumnya berjarak sekitar 25 meter dari titik longsoran, lanjutnya, kini dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, sehingga kini kondisi sistem kelistrikan telah kembali dalam status aman.
Tinggalkan Komentar
Komentar