periskop.id - Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Vasko Ruseimy, memastikan bahwa air yang berada di kawasan sinkhole atau lubang runtuhan di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, telah terdeteksi mengandung bakteri E. coli.
Temuan ini menjadi perhatian karena bakteri tersebut berpotensi membahayakan kesehatan jika air digunakan tanpa pengolahan yang tepat. Berdasarkan hasil pengecekan awal, Vasko menyebut kadar total zat terlarut (TDS) dan kandungan besi (Fe) dalam air tersebut masih berada dalam batas aman.
Meski begitu, tingginya temuan bakteri E. coli menjadi alasan utama air di kawasan sinkhole itu tidak bisa langsung dikonsumsi dan harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu agar aman digunakan. Lalu, apa sebenarnya bakteri E. coli itu dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan manusia?
Apa Itu Bakteri E. coli
Escherichia coli atau E. coli merupakan bakteri yang secara alami hidup di usus manusia dan hewan. Sebagian besar jenisnya sebenarnya tidak berbahaya dan berperan dalam proses pencernaan. Namun, ada beberapa tipe bakteri E. coli tertentu yang bisa memicu infeksi dan menyebabkan gangguan kesehatan, seperti diare, sakit perut, hingga kram.
Jenis E. coli yang tergolong berbahaya biasanya menghasilkan racun Shiga atau dikenal sebagai Shiga toxin-producing E. coli (STEC). Bakteri ini dapat menimbulkan infeksi usus yang cukup berat dan berisiko menyebabkan komplikasi serius.
Racun dari bakteri E. coli bisa masuk ke tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, misalnya daging mentah atau kurang matang, susu yang belum dipasteurisasi, serta sayuran mentah yang terpapar bakteri tersebut.
Bahaya Air Sinkhole yang Terkontaminasi Bakteri E. coli
Kasus air sinkhole di Sumatra Barat yang tercemar bakteri Escherichia coli (E. coli) bisa dijelaskan melalui mekanisme pencemaran air. Kotoran manusia maupun hewan yang meresap ke dalam tanah berpotensi mencemari air tanah dan air permukaan, termasuk air yang muncul dari sinkhole.
Sinkhole sendiri biasanya terhubung langsung dengan sistem air bawah tanah sehingga jika di sekitarnya terdapat limbah domestik, septik tank bocor, atau aktivitas peternakan, bakteri seperti E. coli dapat dengan mudah terbawa aliran air dan muncul di sumber tersebut.
Berbeda dengan air perpipaan di wilayah perkotaan yang telah melalui proses sterilisasi menggunakan klorin, sinar ultraviolet, atau ozon, air dari sinkhole umumnya belum melewati proses pengolahan. Kondisi ini membuat air tersebut lebih rentan mengandung bakteri berbahaya.
Risiko penularan pun meningkat jika air sinkhole digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau terjadi kontak langsung, misalnya saat mandi atau bermain air. Oleh karena itu, bakteri E. coli pada air sinkhole di Sumbar menjadi peringatan penting akan potensi pencemaran tinja dan perlunya pengolahan air sebelum digunakan oleh masyarakat.
Faktor Risiko Infeksi E. coli
1. Usia
Anak-anak dan orang lanjut usia termasuk kelompok yang paling rentan. Sistem pencernaan dan daya tahan tubuh mereka belum atau tidak lagi bekerja optimal, sehingga infeksi E. coli bisa menimbulkan gejala yang lebih berat dan berisiko komplikasi.
2. Sistem Kekebalan Tubuh Lemah
Orang dengan imunitas rendah, baik akibat penyakit tertentu maupun efek pengobatan, lebih mudah terinfeksi bakteri E. coli. Tubuh mereka kesulitan melawan bakteri yang masuk ke saluran pencernaan.
3. Konsumsi Makanan Berisiko
Beberapa jenis makanan lebih rentan terkontaminasi E. coli, seperti daging hamburger yang dimasak setengah matang, susu yang tidak dipasteurisasi, jus buah segar, serta keju dari susu mentah. Jika pengolahan dan kebersihannya kurang baik, bakteri bisa tetap hidup.
4. Asam Lambung Rendah
Asam lambung berfungsi sebagai benteng alami tubuh untuk membunuh bakteri. Ketika kadar asam lambung menurun misalnya karena konsumsi obat penurun asam bakteri E. coli lebih mudah bertahan dan menyebabkan infeksi.
Gejala Infeksi E. coli
1. Kram Perut
Infeksi bakteri menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan sehingga perut terasa nyeri atau melilit.
2. Diare
Gejala paling umum mulai dari diare ringan hingga berat. Pada kasus tertentu, diare bisa bercampur darah akibat kerusakan dinding usus.
3. Mual dan Muntah
Tubuh bereaksi terhadap infeksi dengan mencoba mengeluarkan bakteri sehingga muncul rasa mual hingga muntah.
4. Hilang Nafsu Makan
Gangguan pada sistem pencernaan membuat penderita tidak berselera makan.
5. Demam
Demam menjadi tanda tubuh sedang melawan infeksi bakteri yang masuk.
6. Kelelahan
Kehilangan cairan akibat diare serta respons tubuh terhadap infeksi membuat penderita merasa lemas dan cepat lelah.
Tinggalkan Komentar
Komentar