periskop.id - Kemunculan lubang besar di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, mendadak jadi perhatian publik. Pasalnya, lubang ini terbentuk di kawasan permukiman dan lahan persawahan warga dengan ukuran yang cukup luas. 

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena berpotensi mengganggu aktivitas warga hingga mengancam keselamatan dan infrastruktur di sekitarnya. Saat ini, pemerintah daerah terus memantau perkembangan lubang tersebut sambil menunggu hasil kajian lebih lanjut terkait penyebab dan dampak yang mungkin ditimbulkan.

Menanggapi situasi darurat ini, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) langsung turun tangan dengan mengirim tim teknis ke lokasi. Tim tersebut melakukan kajian menyeluruh untuk mengetahui kondisi di lapangan sekaligus menyiapkan langkah mitigasi yang paling tepat agar risiko bisa diminimalkan.

Di balik kejadian tersebut, ada beberapa fakta menarik terkait munculnya lubang besar di Aceh:

Fakta Fakta Lubang Besar di Aceh

1. Terpantau Sejak Dua Dekade Lalu

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah mengungkapkan bahwa fenomena longsoran tanah berupa lubang raksasa di Kecamatan Ketol telah terdeteksi sejak awal tahun 2000-an. Meski sudah lama menjadi perhatian, hingga kini belum ada penelitian ilmiah yang dapat menjelaskan secara pasti bagaimana lubang tersebut pertama kali terbentuk.

2. Berada Sekitar 17 Kilometer dari Takengon

Lubang raksasa tersebut terletak sekitar 17 kilometer di arah barat laut Kota Takengon dan kawasan Danau Lut Tawar. Desa tempat lokasi penelitian berada memiliki luas sekitar 3,75 kilometer persegi, berdasarkan hasil pengukuran menggunakan Google Earth.

3. Sempat Memutus Jalur Penghubung Antarwilayah

Dampak pergerakan tanah di kawasan ini sudah lama dirasakan oleh warga. Pada tahun 2006, longsoran tanah bahkan sempat memutus jalan Blang Mancung–Simpang Balik yang menjadi akses penghubung antara Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.

4. Warga Pernah Direlokasi ke Permukiman Baru

Karena kondisi tanah yang terus bergerak dan dinilai membahayakan, warga Kampung Bah Serempah akhirnya direlokasi ke Kampung Serempah Baru pada rentang tahun 2013 hingga 2014. Selama periode tersebut, proses rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan secara bertahap dalam tiga tahap.

5. Didominasi Batuan Vulkanik

Berdasarkan peta geologi regional, area lubang raksasa ini berada dalam Formasi Satuan Lampahan (Qvl) yang berasal dari periode kuarter. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa wilayah tersebut didominasi oleh material vulkanik. Selain itu, ditemukan pula mineral limonit yang menandakan adanya pengaruh aktivitas hidrotermal di kawasan tersebut.

6. Pergerakan Tanah Sangat Aktif

Hasil survei ortofoto menggunakan drone yang dilakukan pada Desember 2021 dan Februari 2022 mengungkapkan bahwa pergerakan tanah di lokasi ini tergolong sangat aktif. Dalam kurun waktu tersebut, tanah tercatat bergeser rata-rata sekitar 8,5 meter ke arah tenggara. Penelitian juga menemukan adanya lapisan tanah jenuh air pada kedalaman tertentu yang diduga dapat mempercepat pergerakan tanah secara terus-menerus.

Penyebab Umum Lubang Tanah dan Gerakan Tanah

1. Batuan Mudah Terurai saat Terkena Air

Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut jenis batuan di lokasi tergolong mudah lepas ketika jenuh air sehingga memicu pergerakan tanah.

2. Kemiringan Lereng yang Cukup Curam

Kondisi lereng membuat tanah dan batuan lebih mudah bergeser, terutama saat curah hujan tinggi.

3. Erosi Lateral dan Erosi Bawah Permukaan

Aliran air mengikis material tanah dari sisi dan bagian bawah (piping erosion), membentuk rongga yang menyebabkan tanah ambles.

4. Drainase Alami yang Membuat Tanah Jenuh Air

Sistem aliran air di dalam tanah menyebabkan lereng menjadi tidak stabil karena terus terpapar air.

5. Bukan Sinkhole, Melainkan Piping Erosion

Hasil analisis awal Badan Geologi menyimpulkan fenomena ini bukan sinkhole, melainkan erosi bawah permukaan. Kajian lanjutan masih dilakukan untuk pemutakhiran data.

6. Masih dalam Tahap Penelitian Lanjutan

Tim Badan Geologi yang melibatkan PVMBG dan Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan saat ini masih melakukan kajian di lapangan.

Imbauan Badan Geologi untuk Mengantisipasi Gerakan Tanah di Aceh

Langkah Jangka Pendek

  • Meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan lebat.
  • Membuat saluran drainase yang kedap air dan mengarahkannya menjauh dari lereng atau area longsoran.
  • Menghindari aktivitas di sekitar tebing atau bibir longsoran karena masih berpotensi terjadi pergerakan tanah.
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor serta garis pembatas di sekitar lokasi berbahaya.
  • Memantau retakan tanah secara berkala. Jika muncul retakan baru, segera ditutup dengan tanah lempung atau tanah liat yang dipadatkan agar air tidak masuk.
  • Tidak membangun permukiman di sekitar lokasi rawan bencana.
  • Mempertahankan vegetasi dengan akar kuat dan dalam untuk membantu menjaga kestabilan lereng.
  • Membuat bak atau kolam penampungan air di ladang dengan kondisi kedap air agar tidak menjenuhkan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai gerakan tanah dan tanda-tanda awalnya sebagai upaya mitigasi.
  • Mengikuti arahan dan imbauan dari pemerintah daerah setempat, termasuk BPBD.

Langkah Jangka Panjang

  • Merelokasi jalan agar menjauh dari gawir atau mahkota longsoran guna menghindari risiko terputusnya akses dan bahaya bagi pengguna jalan.
  • Merencanakan pembangunan jalan baru dengan memperhatikan aspek geologi teknik dan hidrogeologi.