iklan periskop
Nasional

Kemensos Siapkan Santunan Rp15 Juta per Korban Gempa NTT, Bantuan Rp4,52 Miliar Dimobilisasi

Kemensos mobilisasi bantuan Rp4,52 miliar dan 48 ton beras untuk korban gempa NTT serta siapkan santunan Rp15 juta bagi setiap ahli waris korban meninggal.

58 menit yang lalu · 4 mnt baca
Kemensos Siapkan Santunan Rp15 Juta per Korban Gempa NTT, Bantuan Rp4,52 Miliar Dimobilisasi
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo memberikan penjelasan dalam rapat koordinasi penanganan bencana gempa bumi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (16/08/2026). dok. Kemensos
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kementerian Sosial (Kemensos) mempercepat distribusi bantuan bagi korban gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan memobilisasi logistik senilai sekitar Rp4,52 miliar. Pemerintah juga menyiapkan santunan sebesar Rp15 juta untuk setiap ahli waris korban meninggal dunia, di tengah jumlah korban jiwa yang hingga Minggu (16/8) pagi telah mencapai 51 orang.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan bantuan digerakkan dari beberapa titik sekaligus, yakni Sentra Efata Kupang, Gudang Dinas Sosial Provinsi NTT, dan Gudang Pusat Kemensos di Bekasi. Strategi tersebut dilakukan agar kebutuhan dasar masyarakat tidak bergantung pada satu jalur distribusi.

"Kami terus menyiapkan dan menggerakkan logistik untuk penanganan bencana di NTT. Di NTT ada dua gudang yang menjadi titik mobilisasi, yaitu Sentra Efata Kupang dan Gudang Dinas Sosial Provinsi NTT," kata dia.

Distribusi dari Kupang menuju sejumlah kawasan terdampak sempat terkendala gelombang laut yang masih tinggi. Untuk menghindari keterlambatan, Kemensos mengambil langkah diskresi berupa pembelian kebutuhan secara langsung di daerah terdampak sehingga makanan dan perlengkapan pengungsian dapat segera tersedia.

48 Ton Beras hingga Dapur Umum Dikerahkan

Total logistik sekitar Rp4,52 miliar yang dimobilisasi mencakup makanan siap saji, tenda keluarga, kasur, selimut, kebutuhan anak dan dewasa, perlengkapan pengungsian, serta tambahan 48 ton beras reguler. Sebelumnya, Kemensos juga melaporkan bantuan dari pusat mencakup 6.000 paket makanan siap saji, tenda, kasur, selimut hingga dua set dapur umum lapangan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebelumnya menegaskan prioritas pemerintah pada fase darurat adalah keselamatan warga serta ketersediaan kebutuhan dasar. “Sekarang yang paling utama adalah menyelamatkan dan melindungi warga,” ujarnya.

Kemensos juga menerjunkan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan tim Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB). Personel tersebut membantu pendirian dapur umum, evakuasi, asesmen kebutuhan, pendataan korban dan pengungsi, hingga pelayanan di lokasi penampungan sementara.

Besarnya kebutuhan logistik terus berkembang seiring bertambahnya jumlah warga yang meninggalkan rumah. BNPB dalam pembaruan terpisah menyatakan 9.290 warga masih bertahan di titik-titik pengungsian, berdasarkan pemutakhiran data hingga Minggu pukul 00.00 WIB. Konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Sikka sebanyak 3.356 jiwa dan Kabupaten Manggarai 2.078 jiwa.

BNPB menyebut pengungsi, khususnya di Manggarai, membutuhkan antara lain puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, masing-masing 1.000 selimut, velbed dan tikar, serta air bersih, tandon dan genset.

 

gempa ntt, bnpb

 

 

Ahli Waris Dapat Santunan Rp15 Juta

Selain logistik, pemerintah mulai menyiapkan bantuan finansial bagi keluarga korban meninggal. Pemerintah daerah dan Dinas Sosial diminta mempercepat pendataan agar santunan dapat segera disalurkan.

"Untuk santunan korban jiwa, Kemensos akan memberikan tali asih kepada ahli waris sebesar Rp15 juta untuk setiap korban meninggal dunia. Kami meminta pemerintah daerah dan Dinas Sosial segera mendata dan melaporkannya kepada Kemensos supaya santunan bisa segera diberikan," ungkap nya menambahkan.

Nilai Rp15 juta per korban tersebut juga konsisten dengan pola santunan Kemensos dalam sejumlah bencana sebelumnya. Pada gempa Malang 2021 dan bencana di Ende pada 2024, Kemensos juga memberikan santunan Rp15 juta kepada ahli waris setiap korban meninggal dunia.

Keterangan terbaru Kemensos menyebut dukungan juga disiapkan bagi korban luka-luka, meski nominal santunan untuk kelompok tersebut belum dirinci dalam pengumuman terbaru.

Korban Meninggal Bertambah Jadi 51 Orang

Berdasarkan laporan yang diterima Kemensos dari Basarnas dan BNPB hingga Minggu pukul 09.00 WITA, gempa menyebabkan 51 orang meninggal dunia dan 110 orang luka-luka, serta memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii secara terpisah juga mengonfirmasi jumlah korban meninggal telah mencapai 51 orang pada pukul 09.00. Operasi pencarian masih berlanjut karena petugas terus menyisir sejumlah wilayah terdampak.

Data bencana masih bergerak cepat dan dapat berubah karena masing-masing instansi melakukan verifikasi di lapangan pada waktu berbeda. Untuk mengurangi perbedaan dan simpang siur informasi, BNPB mulai mengaktifkan Media Center penanganan gempa NTT yang akan memberikan pembaruan resmi setiap hari pukul 17.00 WITA.

Pemerintah Provinsi NTT juga telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026. Status tersebut ditetapkan untuk mempercepat koordinasi, pengerahan sumber daya, evakuasi, pelayanan kesehatan, penyediaan tempat pengungsian hingga pemulihan infrastruktur.

Dengan status tanggap darurat berlaku dan kebutuhan pengungsi terus meningkat, pemerintah kini berfokus memastikan bantuan tidak terhambat persoalan distribusi. Mobilisasi stok dari Kupang dan Bekasi, pembelian langsung di wilayah terdampak, hingga pengoperasian dapur umum menjadi bagian dari strategi agar pangan, tempat berlindung dan kebutuhan dasar lainnya dapat segera menjangkau korban.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Sosial (Kemensos), gempa bumi, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.