Periskop.id – Jumlah peserta didik Sekolah Rakyat diperkirakan mencapai sekitar 45 ribu siswa pada 2026 setelah pemerintah menyiapkan kuota tambahan bagi 30 ribu anak pada tahun ajaran baru. Program berasrama tersebut menyasar anak dari keluarga rentan yang tidak sekolah, putus sekolah, atau terancam meninggalkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan penambahan peserta didik menjadi bagian dari perluasan Sekolah Rakyat yang mulai berjalan pada Juli 2025. Saat ini, program tersebut melayani siswa jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.
"Tahun lalu ada lebih dari 15 ribu siswa Sekolah Rakyat. Tahun ini kita menambah alokasi menjadi 30 ribu siswa. Sampai tahun ini diperkirakan ada sekitar 45 ribu siswa Sekolah Rakyat tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas," katanya di Bandung, Kamis (23/7).
Pada tahap rintisan, pemerintah mengoperasikan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi dengan memanfaatkan gedung milik pemerintah pusat maupun daerah. Data pemerintah hingga awal 2026 mencatat program tersebut telah melayani sekitar 15.954 siswa dari keluarga yang termasuk desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN.
Gedung Permanen Dibangun Bertahap
Kementerian Pekerjaan Umum tengah membangun gedung permanen Sekolah Rakyat di 104 lokasi. Setiap kompleks dirancang sebagai sekolah berasrama yang melayani jenjang SD, SMP, dan SMA serta dilengkapi ruang kelas berbasis teknologi, laboratorium keterampilan, perpustakaan, klinik, sarana olahraga, dapur, dan asrama pendamping.
Berdasarkan rancangan Kementerian PU, setiap lokasi memiliki kapasitas 1.080 siswa. Secara keseluruhan, pembangunan tahap tersebut diproyeksikan menyediakan ruang bagi 112.320 peserta didik melalui 3.744 rombongan belajar.
"Gedung permanen ini secara bertahap akan dibangun dan akan menampung lebih dari 2.000 siswa. Sesuai arahan Bapak Presiden, paling tidak pada 2029, Sekolah Rakyat ditargetkan bisa menampung hampir satu juta siswa," ujar Saifullah.
Pernyataan mengenai kapasitas lebih dari 2.000 siswa kemungkinan merujuk pada pengembangan jangka panjang atau desain tertentu karena rancangan resmi 104 lokasi tahap kedua saat ini menetapkan kapasitas 1.080 siswa per sekolah. Target nasional yang disampaikan pemerintah juga beberapa kali berubah. Presiden Prabowo pada Januari 2026 menargetkan 500 Sekolah Rakyat dengan kapasitas akhir sekitar 500 ribu siswa, sedangkan Kemensos pada Juni menyebut sasaran lebih dari 400 ribu siswa pada 2029.
Kemensos belum memerinci perubahan perhitungan hingga muncul proyeksi terbaru hampir satu juta siswa. Karena itu, jumlah akhir akan bergantung pada pembangunan gedung baru, kapasitas setiap lokasi, anggaran, tenaga pendidik, serta kesiapan pemerintah daerah menyediakan lahan.
Lulusan Dibagi ke Dua Jalur
Selain memperluas jumlah siswa, pemerintah mulai menyiapkan masa depan para lulusan. Mereka akan diarahkan untuk melanjutkan pendidikan tinggi atau mengikuti pelatihan agar dapat bekerja sebagai tenaga terampil di dalam maupun luar negeri.
"Sesuai arahan Presiden, lulusan Sekolah Rakyat diarahkan ke dua jalur. Satu, dia bisa ke perguruan tinggi kalau memenuhi syarat. Yang kedua, menjadi pekerja terampil, baik pekerja terampil dalam negeri maupun pekerja terampil ke luar negeri," ujarnya.
Kemensos telah berkoordinasi dengan perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Ketenagakerjaan, serta Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Siswa yang memilih kuliah akan dipersiapkan untuk mengakses beasiswa, sedangkan mereka yang ingin bekerja akan memperoleh pelatihan sesuai bidang yang dikuasai.
Saifullah sebelumnya menegaskan keberhasilan Sekolah Rakyat tidak cukup diukur dari kelulusan akademik. Program itu dinilai gagal apabila siswa selesai belajar tetapi tidak dapat melanjutkan kuliah, bekerja, atau menjadi agen perubahan bagi keluarganya.
Bakat Siswa Dipetakan dengan AI
Sekolah Rakyat tidak menerapkan tes akademik sebagai syarat masuk. Pemerintah menggunakan data sosial ekonomi untuk menjaring calon peserta, kemudian melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemetaan minat serta bakat.
"Jadi tidak ada yang namanya tes akademis. Yang ada adalah tes DNA Talent. Jadi setiap anak di sini, tadi disebutkan setiap anak berharga, dan kita cari talent-nya, kita cari kecerdasannya yang merupakan bagian dari multiple intelligences. Kita menggunakan tes DNA Talent berbasis AI," ujarnya.
Menurut Kemensos, pemetaan tersebut digunakan sebagai bahan bagi guru untuk mengembangkan kemampuan siswa, bukan sebagai tes genetika medis. Peserta mengisi rangkaian pertanyaan yang diproses menggunakan sistem berbasis kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi kecenderungan minat dan kompetensinya.
Data pemetaan terhadap siswa pada 2025 menunjukkan 7.353 anak atau 54,2% memiliki kecenderungan pada bidang sosial. Sebanyak 4.649 siswa atau 34,3% masuk kategori sains, teknologi, teknik, dan matematika, sedangkan 1.560 siswa atau 11,5% menunjukkan kecenderungan pada bidang bahasa. Angka tersebut merupakan data internal Kemensos bersama mitra pengembang pemetaan.
"Jadi kita sudah tahu anak-anak yang di Sekolah Rakyat ini, talent-nya apa, bakatnya apa, dan akan diarahkan. Nanti kalau sudah besar, kalau sudah lulus, profesi sebaiknya di bidang hukum, atau di bidang kesehatan, di bidang teknik, atau di bidang-bidang lain," jelasnya.
Hasil pemetaan akan dipadukan dengan perkembangan belajar, minat siswa, penilaian guru, dan pilihan keluarga. Penentuan masa depan peserta didik tidak dapat hanya mengandalkan satu instrumen karena bakat dan kemampuan anak masih dapat berkembang selama proses pendidikan.
Bahasa Asing Jadi Bekal Siswa
Sekolah Rakyat juga membekali siswa dengan bahasa asing untuk mendukung rencana melanjutkan pendidikan maupun bekerja. Pilihan bahasa akan disesuaikan dengan minat dan arah pengembangan masing-masing peserta didik.
"Maka itu, di Sekolah Rakyat kita akan bimbing siapa pun yang punya minat di bidang bahasa, apakah Arab, Inggris, atau juga tadi ada Mandarin dan bahasa-bahasa lain, Jepang, Korea, selama mereka memang punya minat," ujarnya.
Kemensos turut menjajaki jalur khusus untuk siswa yang berminat pada sektor pariwisata. Mereka dapat diarahkan mengikuti pendidikan di perguruan tinggi di bawah Kementerian Pariwisata melalui skema beasiswa apabila memenuhi persyaratan akademik dan administrasi.
Program Sekolah Rakyat menggunakan sistem asrama dengan pendampingan selama 24 jam. Seluruh kebutuhan utama siswa, mulai dari tempat tinggal, makanan, seragam, perangkat belajar hingga layanan pendidikan, ditanggung pemerintah. Model tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, keterampilan, dan kemandirian.
Pemerintah juga menghubungkan pendidikan anak dengan program pemberdayaan orang tua. Tujuannya agar peningkatan kapasitas siswa berjalan bersamaan dengan perbaikan kondisi ekonomi keluarga sehingga rantai kemiskinan antargenerasi dapat diputus.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar