Nasional

Polusi Asap Karhutla Selimuti Kalimantan, Pontianak Terburuk Se-Indonesia

Karhutla membuat udara Pontianak dan Palangkaraya tidak sehat. Pemprov Kalsel imbau petani tidak membuka lahan dengan membakar.

1 minggu yang lalu · 3 mnt baca
Polusi Asap Karhutla Selimuti Kalimantan, Pontianak Terburuk Se-Indonesia
Pencitraan satelit kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan pada Rabu (19/8/2026) pukul 15.00 WIB. Foto: Tangkapan layar IQAir.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Sebagian besar wilayah Kalimantan masih diselimuti polusi tebal akibat kebakaran lahan yang terjadi di pulau tersebut. Berdasarkan pantauan Periskop.id melalui laman pemantau kualitas udara IQAir pada Rabu (19/8) pukul 15.00 WIB, titik kebakaran lahan terlihat lebih banyak terjadi di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Dampak kebakaran lahan tersebut ikut terlihat pada kualitas udara di sejumlah kota. Indeks kualitas udara atau AQI di dua wilayah itu tercatat berada di atas angka 150. Dalam kategori IQAir, angka tersebut masuk kelompok tidak sehat, yakni pada rentang 151 sampai 200.

Dua ibu kota provinsi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah bahkan masuk daftar teratas kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia secara realtime. Pontianak menempati posisi pertama nasional dengan indeks kualitas udara mencapai 195. Sementara itu, Palangkaraya berada di peringkat ketiga dengan indeks kualitas udara 159.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran lahan masih menjadi salah satu ancaman serius saat musim kemarau. Selain berdampak pada lingkungan, polusi asap juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan.

Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mengimbau petani agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pemprov mendorong pembukaan lahan dilakukan secara manual dengan mengoptimalkan peralatan pertanian yang tersedia.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan Syamsir Rahman mengatakan petani sebenarnya dapat memanfaatkan alat pertanian untuk mengelola lahan tanpa harus meningkatkan risiko kebakaran.

“Gunakan cara manual. Alat kita sudah banyak untuk pengelolaan lahan, jadi tidak boleh lagi dibakar,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Antara pada Rabu (19/8).

Syamsir menjelaskan, kemarau panjang juga membuat aktivitas tanam padi belum berlangsung secara masif. Keterbatasan air menjadi salah satu kendala utama bagi petani. Meski begitu, sebagian petani masih dapat melakukan penanaman secara terbatas dengan memanfaatkan sumur bor, sumur pantek, maupun sumber air sungai.

Menurut dia, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian pemerintah daerah. Kegiatan pertanian perlu dijaga agar produksi dan ketersediaan pangan tidak terganggu, terutama ketika curah hujan mulai meningkat dan petani dapat kembali mempercepat masa tanam.

Syamsir juga memastikan ketersediaan kebutuhan pokok di Kalimantan Selatan masih dalam kondisi aman. Namun, pemerintah daerah tetap melakukan sejumlah langkah untuk menjaga pasokan pangan dan stabilitas harga selama kemarau berlangsung.

Upaya pencegahan karhutla menjadi penting karena pembukaan lahan dengan cara membakar berisiko memperparah polusi udara, terutama ketika cuaca kering dan angin dapat memperluas sebaran asap. Karena itu, pemerintah daerah meminta petani menggunakan cara pengelolaan lahan yang lebih aman agar aktivitas pertanian tetap berjalan tanpa memicu kebakaran baru.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai kebakaran hutan, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.